Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Pria Asing Telah Tersadar


__ADS_3

Andressa menatap bingung Lorcan. Dia tidak paham siapa yang tengah dibicarakan Lorcan.


"Siapa yang kau maksud? Kau kenal dengan orang yang membantu ibu suri kabur dari penjara?"


Lorcan mengangguk pelan.


"Ya, aku kenal. Dia bernama Egran, tabib yang dahulu pernah aku usir dari Emilian. Tidak hanya aku usir, dia pernah hampir dikenai hukuman mati akibat perbuatannya sendiri," jelas Lorcan.


"Apa yang sudah dia lakukan?" Rasa penasaran Andressa kian menjadi-jadi.


"Pria itu telah terlibat dengan eksperimen berbahaya. Dia menjadikan tahanan penjara menjadi eksperimennya. Bahkan, terakhir kali aku menangkapnya hendak menjadikan anak-anak sebagai kelinci percobaan. Maka dari itulah, aku menjatuhkan hukuman mati terhadapnya."


Tidak disangka-sangka, ternyata inilah alasan mengapa Egran keluar dari Kekaisaran Emilian.


"Mengapa kau tidak jadi menghukum mati dia dan malah mengambil keputusan untuk mengusirnya? Manusia seperti bajing*n itu tidak boleh dibiarkan hidup."

__ADS_1


Andressa geram. Dia paling membenci seseorang yang menyalahgunakan kemampuan medisnya dan malah menyakiti orang lain.


"Ibu suri ada hubungannya dengan masalah ini. Dialah yang membuat gagal hukuman mati untuk sialan itu. Oleh karena itulah, Egran akhirnya menjadi pelaku kriminal yang terusir dari Emilian. Padahal aku sudah mengirim kesatria untuk membunuhnya, tetapi mereka tidak berhasil melakukannya."


"Aku paham situasinya. Untuk sekarang mari pantau pergerakan mereka. Kirim mata-mata ke Kekaisaran Dorton. Ibu suri pasti melarikan diri ke sana," ucap Andressa.


"Baiklah, biar aku kirim mata-mata untuk memantau pergerakan mereka."


Selepas itu, mereka berdua beranjak pergi dari sana. Mereka memutuskan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kemudian Andressa sendiri mencoba melisik lebih jauh tentang alat sihir yang digunakan Egran.


Sebelumnya, Lorcan berencana membawa pria itu ke istana. Namun, karena kondisinya tidak memungkinkan, makanya dia masih berada di klinik Andressa saat ini.


"Nona, dia punya rambut perak seperti Anda. Ini pertama kalinya saya melihat seseorang selain Anda yang berambut perak," ujar Amelia berbisik.


"Ini cukup aneh. Aku juga baru pertama kali melihat orang lain punya rambut perak."

__ADS_1


Andressa mendekati ranjang pria tersebut. Pria itu membuka mata dan menatap Andressa. Dia tampak tersentak kala melihat Andressa.


"Tuan, saya tahu Anda kebingungan melihat saya. Mohon maaf sebelumnya, saya Andressa pemilik klinik ini sekaligus tabib di sini. Beberapa hari yang lalu saya menemukan Anda terluka parah. Makanya saya membawa Anda kemari untuk diobati," jelas Andressa menjawab kebingungan pemuda itu.


"Ternyata seperti itu. Maafkan aku merepotkanmu." Pria itu bangkit dari posisi tidur.


"Bagaimana luka Anda? Apa masih ada bagian tubuh lain yang masih terasa sakit?"


Pria itu menggeleng. Ajaib sekali, luka parah yang dia terima mendadak menghilang begitu saja.


"Tidak, tidak ada yang sakit. Hanya saja kepalaku masih pusing," jawabnya.


"Wajar Anda merasa pusing karena Anda baru saja tersadar setelah beberapa hari pingsan. Kalau begitu, biar saya periksa tubuh Anda secara keseluruhan untuk memastikan kembali apakah Anda sudah sehat sepenuhnya atau belum."


"Baiklah."

__ADS_1


Andressa melakukan pemeriksaan. Pria itu menurut saja apa kata Andressa. Akan tetapi, ada perasaan menjanggal di hati Andressa ketika melihat wajah pria itu.


__ADS_2