Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kegaduhan di Klinik Glory


__ADS_3

Seisi klinik Glory terperanjat kaget karena suara Andressa bergaung meneriaki nama Miria. Kala itu bukan Miria yang keluar, tetapi Chris dan Niana yang merupakan bawahan Miria paling setia. Mereka segera menghadang Andressa yang hendak menerobos masuk ke dalam ruangan Miria.


“Berhenti di situ! Kau tidak boleh masuk sembarangan tanpa izin dari kami! Kenapa kau membuat keributan di klinik orang lain?!”


Andressa berdecak sebal. Dia sudah tahu bahwa Miria merupakan penyebab dari terbakarnya gudang penyimpanan obat.


“Aku tidak peduli ini klinik milik orang lain atau bukan, yang jelas cepat panggil Miria kemari sekarang juga! Aku harus mencari perhitungan dengannya yang sudah membuatku rugi banyak!” bentak Andressa seraya melipat kedua tangan di dada.


“Dasar kurang ajar! Apa kau tidak bisa menempatkan rasa hormatmu di klinik kami?! Apa kau menjadi angkuh karena klinikmu ramai dikunjungi orang? Ah, aku lupa. Klinikmu kan kebakaran, pasti tidak banyak pasien yang kau tangani hari ini kan?” Niana mengomel dan meledek Andressa.


Andressa langsung menampar Niana. Dia sudah bosan mendengar celotehan tak berguna dari bawahan Miria. Untung saja suasana hatinya sedang baik, jika tidak, mungkin Niana sudah babak belur karenanya.

__ADS_1


“Diamlah! Tutup mulutmu sebelum aku potong lidahmu. Aku punya urusan dengan atasan sialanmu itu. Bawa dia ke hadapanku dan katakan padanya bahwa aku sedang menahan diri agar tidak menghancurkan kliniknya.”


Gadis itu menekan Niana. Bahkan, Chris pun juga merasakan intimidasi teramat kuat dari Andressa sehingga membuatnya tak bisa membuka suara untuk sekedar membela Niana.


“Beraninya kau menamparku! Kau pikir kau bisa bebas setelah melakukan ini kepadaku?” Walau ketakutan, Niana masih sanggup melontarkan kemarahan terhadap Andressa.


Mendengar keributan dari lantai bawah, Miria buru-buru menghampiri keributan itu. Dia mendadak mematung tatkala menemukan Andressa berada di sana berseteru dengan bawahannya. Entah mengapa, jantungnya berdegup kencang dan dia merasakan firasat tak mengenakkan perihal kedatangan Andressa secara mendadak.


“Apa yang sedang terjadi di sini?”


“Oh, akhirnya kau muncul juga. Aku kemari menemuimu dan meminta pertanggungjawaban atas kebakaran yang melanda klinikku.”

__ADS_1


Andressa berkata langsung pada intinya, ia tak senang bila harus berbasa-basi dengan Miria.


“Maksudmu apa? Pertanggungjawaban? Aku tidak mengerti.”


Raut muka Miria mengguratkan kegelisahan. Tampaknya dia mulai paham alasan kedatangan Andressa ke sini.


“Jangan berpura-pura! Aku tahu kalau kau yang membakar klinikku. Kau pikir aku tidak menyadarinya? Jangan mengelak dan akuilah kesalahanmu,” ucap Andressa mengarahkan telunjuk ke Miria.


Seisi klinik dapat mendengar jelas suara lantang Andressa terang-terangan menyebut tentang dalang kebakaran tersebut. Sekarang semua orang tahu betapa busuknya cara Miria menyingkirkan Andressa sebagai pesaing klinik keluarganya.


Miria panik. Padahal dia sudah melakukan secara hati-hati supaya tidak ketahuan oleh Andressa. Akan tetapi, gadis itu ternyata tak bisa dibodohi sedikit pun. Bagaimana pun cara Miria menyembunyikannya, Andressa tetap mengetahuinya.

__ADS_1


“Omong kosong apa yang sedang kau katakan?! Aku membakar klinikmu? Kenapa aku melakukan sesuatu yang dapat mencoreng reputasiku?! Ah, jangan-jangan kau berpikir untuk menjatuhkan namaku?” balas Miria mencoba membalikkan fakta.


“Mengapa aku harus repot-repot mencoreng reputasimu? Bukankah reputasimu sudah tercoreng? Tidak ada gunanya aku melakukan hal bodoh seperti itu.”


__ADS_2