
Begitu Andressa berucap demikian, para tabib pun terdiam. Mereka yang awalnya mengeluh lelah, akhirnya malah memilih mengatup bibir.
"Kekacauan yang seperti apa, Nona? Mungkinkah Anda memprediksi terjadinya peristiwa yang lebih besar dari wabah wilayah Selion?"
Andressa mengarahkan pandangan tak berekspresi kepada para tabib.
"Ya, begitulah prediksiku. Jadi, semakin banyak pasien yang kalian tangani, maka akan bagus bagi kalian mengasah kemampuan medis. Kalian tahu? Pengetahuan pengobatan yang aku berikan kepada kalian itu baru 10%. Kalian bisa bayangkan bila aku memberi 100% pengetahuanku?"
Mereka menelan salivanya. Benar-benar tidak disangka. Apa yang mereka dapatkan dari Andressa rupanya merupakan 10% dari pengetahuan Andressa perihal dunia pengobatan. Namun, meski masih 10%, para tabib berhasil menyelamatkan lebih dari seratus nyawa manusia.
"Itu benar. Pengetahuan yang Nona berikan memang masih 10%. Apabila kita menguasai pengetahuan Nona soal dunia pengobatan secara sempurna 100%, maka kemungkinan dunia bisa kita selamatkan dari jurang kehancuran," ucap Amelia datang membawakan minuman untuk Andressa.
"Kalian dengar itu? Maka dari itulah, aku meminta kalian menyiapkan diri sebaik mungkin. Situasi jenis apa pun, dapat kita lewati nanti bila kalian siap mengatasinya. Singkirkan sejenak masalah yang lain, mari utamakan kesembuhan pasien."
Perkataan Andressa sungguh mengenai ulu hati mereka. Bagaimana mungkin? Gadis yang jauh lebih muda dari mereka memiliki hal yang mengejutkan di dirinya.
Mereka sudah pernah mencoba bertanya. Dari mana Andressa bisa tahu segala sesuatu tentang penyakit serta berbagai jenis obat? Jawaban yang dilontarkan Andressa ialah ia mendapatkannya dari mimpi sekaligus pengalaman hidup. Sulit dipahami memang, tetapi mereka tak ingin menelusuri lebih lanjut lagi.
"Baiklah, mari kita semangat! Semoga saja setelah ini kita bisa menghadapi para pasien lebih cekatan lagi." Para tabib tampak mulai bersemangat kembali.
"Oh iya, Nona, apa Anda takkan menambah jumlah tabib lagi? Bagaimana pun, saya rasa kita masih kekurangan anggota di klinik." Salah satu tabib melempar pertanyaan soal topik lain.
"Aku akan merekrut tabib baru nanti setelah klinik selesai direnovasi. Lagi pula lusa kita juga harus pindah dari klinik ini sementara waktu. Akan sangat sulit jika kita merekrut tabib dalam waktu seperti ini," tutur Andressa.
Para pengurus wilayah Selion telah menyediakan klinik sementara untuk Andressa. Renovasi besar-besaran dilakukan lusa. Sebentar lagi, Andressa bisa mendapatkan tempat lebih luas menangani para pasien. Hal ini membuatnya sangat senang.
***
Beberapa hari kemudian, kondisi Lorcan telah membaik sepenuhnya. Dia berencana untuk pulang ke istana hari ini.
Hanya saja, situasi di istana sedikit berbeda saat ini. Sang Ibu Suri — Leyna datang berkunjung. Semua orang tahu seberapa buruk perilaku Leyna sehingga banyak orang memilih menghindar darinya.
__ADS_1
Tidak hanya Leyna saja, wanita itu juga mengundang ke istana adik kandung Gibson yakni Camille Fidel. Gadis tersebut dirumorkan punya sifat selembut kapas dan punya paras imut sehingga ia populer di kalangan para pria.
"Camille, bagaimana kabarmu?" tanya Leyna berwajah tegas serta punya aura elegan.
"Kabar saya baik, Yang Mulia. Terima kasih karena telah mengundang saya ke istana. Saya benar-benar tidak menyangka Anda membawa saya masuk ke tempat seindah ini," jawab Camille.
Tidak lupa seulas senyuman indah berbalut raut polosnya. Tak heran kenapa Camille begitu populer di antara banyak orang. Selain itu, dia juga berasal dari keluarga bangsawan tersohor. Saat ini ada banyak undangan pernikahan yang datang kepadanya.
"Mulutmu memang semanis wajahmu. Aku punya alasan untuk mengundangmu kemari."
Camille duduk di hadapan Leyna. Dia memasang telinga baik-baik untuk mengetahui tujuan Leyna memanggilnya.
"Bolehkah saya tahu alasannya, Yang Mulia?" tanya Camille.
Leyna tersenyum miring.
"Kau tahu kan Kaisar sekarang sudah pulih? Beliau telah mendapatkan penglihatannya kembali dan kakinya juga sudah normal. Selama ini tidak ada wanita yang sudi menikahinya karena masalah itu. Jadi, Camille, aku berencana mengatur pertunangan antara dirimu dan Kaisar. Bagaimana menurutmu?"
'Itu artinya aku akan menjadi Permaisuri? Walau begitu, aku masih tidak yakin dengan wajah Kaisar. Aku tidak sudi menikahi pria buruk rupa. Lagi pula sebelumnya tak ada yang tahu bagaimana wajah Kaisar sebab dahulu beliau selalu menggunakan topeng,' batin Camille berpikir.
Cukup lama bagi gadis itu untuk menjawab pertanyaan dari Leyna. Dia mempunyai banyak pertimbangan tak terduga dari dirinya.
'Aku harus menolaknya. Aku yakin meski mata dan kakinya normal lagi, dia pasti punya wajah yang buruk. Aku tidak rela paras cantik dan tubuh seksiku dijamah olehnya.'
Camille menatap lurus tepat ke mata Leyna. Dia telah memutuskan untuk menolak tawaran Leyna.
"Mohon maaf, Yang Mulia, saya—"
"Yang Mulia, tolong maafkan kelancangan saya." Seorang pelayan datang menyela pembicaraan mereka. "Kaisar saat ini sedang berada dalam perjalanan kemari," lanjutnya berkata.
Leyna sudah menduganya. Lorcan pasti langsung datang menemuinya bila mendengar ia sedang berada di sini.
__ADS_1
"Begitukah? Mari kita lihat bagaimana perubahan fisik putraku saat ini."
Leyna menanti kemunculan Lorcan. Terpaksa Camille menunda sejenak ucapannya. Dia juga penasaran seperti apa paras Lorcan.
Berselang sepersekian detik, pintu ruangan pun terbuka lebar. Sosok Lorcan nan tinggi dan berbadan kekar memasuki ruangan. Tidak pernah tertinggal ekspresinya yang terkesan menakutkan. Akan tetapi, hal itu tidak menutup wajahnya yang tampan rupawan.
Seketika Camille terpesona dengan penampakan muka Lorcan. Dia lupa soal penolakannya dan segera merapikan rambut serta gaunnya.
'Apanya yang buruk rupa? Kaisar ternyata sangat tampan. Kalau begini, aku takkan menolak menjadi pengantinnya.'
Camille bersiap-siap melakukan salam sapaan terhadap sang Kaisar.
"Salam kepada Yang Mulia Kai—"
"Apa maksud semua ini? Siapa yang mengizinkan Ibu Suri masuk istana utama?"
Lorcan mengabaikan keberadaan Camille. Dia langsung menghadapkan dirinya ke depan mata Leyna. Lorcan terlihat tidak menyukai kehadiran Leyna di istana.
"Oh, astaga ... apa begini caramu menyapa Ibumu? Aku kemari datang karena ingin melihat putraku. Apakah salah jika aku berkunjung dan menginjakkan kaki di istana utama?" Leyna meresponnya dengan santai.
Camille meremas kedua sisi gaunnya yang terlanjur terangkat. Mimik mukanya berubah masam begitu Lorcan mengabaikan dia.
'Aku diabaikan? Seorang Camille Fidel diabaikan pria? Apa-apaan ini? Mengapa Kaisar tidak terpikat olehku? Biasanya pria akan bertekuk lutut di hadapanku. Sial! Aku tidak bisa menerimanya begitu saja.'
Camille menggerutu dalam hati. Dia menolak perlakuan Kaisar terhadap dirinya.
"Kau sudah aku beri peringatan untuk tidak menapakkan kakimu di istana. Apakah peringatan dariku masih kurang? Atau perlukah aku potong kakimu biar kau tidak bisa berkeliaran di istana ini?"
Lorcan mempunyai hubungan yang terbilang amat buruk dengan Leyna. Maka tidak heran mengapa Lorcan tampak tidak menyukai kehadiran Leyna.
"Kau masih membenciku karena masa lalu? Ayolah, mau sampai kapan kau menaruh kebencian pada ibumu sendiri?"
__ADS_1