Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kebakaran Besar


__ADS_3

Andressa menghela napas panjang. Bak sebuah mimpi yang menjawab seluruh kebingungan dia selama ini.


Andressa memang sudah menemukan jawabannya. Akan tetapi, bukan jawaban seperti ini yang ia harapkan.


"Mengapa kalian tidak bisa menemukanku dalam sekejap? Bukankah kalian penjaga dinding pembatas dimensi? Apa kalian tidak tahu seberapa sulitnya aku mati dan hidup berulang kali?!" Andressa mulai terbawa emosi.


Lion memalingkan pandangan ke arah lain.


"Hei, kami juga sudah berusaha. Bahkan, kami telah menyebarkan informasi soal dirimu ke rekan kami yang lain. Kau seperti buronan yang terus dicari tiada henti. Lagi pula kami juga punya kesibukan memperbaiki keretakan dinding pembatas dimensi. Jadi, tolong kau pahami saja," tutur Lion.


Andressa pun kesal. Dia mencubit pipi Lion yang seperti bakpao. Ya, wujud Lion memang menyerupai hamster berbadan gemuk. Gadis itu tak kuasa menahan rasa gemas serta geramnya akibat penjelasan dari Lion.


"Kesibukan apa?! Jiwaku terbang ke mana-mana juga bagian dari kesalahan kalian! Seharusnya kalian menemukanku lebih cepat supaya aku tidak harus menderita," omel Andressa.


Lion meringis kesakitan. Pipinya seketika meninggalkan jejak bekas cubitan jemari Andressa.

__ADS_1


"Pipiku sakit ... beraninya kau mencubitku! Bersyukurlah karena aku berhasil menemukanmu! Coba bayangkan kalau kau tidak aku temukan. Seberapa banyak lagi kau harus mati dan hidup?! Dasar kau wanita barbar!"


Mereka berdua akhirnya ribut. Mereka meributkan hal yang tidak penting. Sampai akhirnya keduanya mulai lelah karena terus berteriak.


"Mari selesaikan urusan kita lain kali. Ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan padamu. Terutama soal energi mana yang aku rasakan akhir-akhir ini," ucap Andressa bangkit dari tempat duduk.


"Baiklah, aku akan menemuimu lagi nanti. Sekarang aku masih banyak urusan yang perlu dibereskan."


Lion pun menghilang dari pandangan Andressa. Makhluk mungil tersebut pergi ke dinding pembatas dimensi untuk memberi kabar bahwasanya dia berhasil menemukan jiwa yang telah lama mereka cari. Ditambah ada sejumlah pekerjaan yang harus terselesaikan hari itu juga.


"Merepotkan saja," gumam Andressa berdecak jengkel.


"Amelia, bagaimana stok obat di klinik?" Andressa bertanya kepada Amelia yang sedang memeriksa pasokan obat di klinik.


"Nona, ada beberapa obat yang habis. Ini daftar-daftarnya."

__ADS_1


Amelia menyerahkan catatan hasil pengecekan stok obat kepada Andressa.


"Oh, obat demam habis total. Lalu ada obat pereda nyeri dan sakit. Baiklah, aku akan meraciknya lagi nanti. Tolong taruh catatan ini di meja kerjaku karena aku berencana mau keluar hari ini." Andressa memberi perintah.


"Baik, Nona."


Tatkala Andressa hendak menapaki halaman depan klinik, seseorang datang menunggangi kuda lalu turun berlarian menghampiri Andressa.


"Nona, tolong!" Dia berteriak dari kejauhan.


Andressa terpaksa mengurungkan sejenak rencananya.


"Ada apa? Apa yang membuatmu tampak begitu panik?" tanya Andressa.


"Tolong, Nona ... saat ini ada kebakaran besar melanda salah satu penginapan di dekat pusat perbelanjaan! Ada beberapa korban yang terbakar. Saya diperintahkan oleh Viscount Kaidan memanggil Anda untuk meminta pertolongan."

__ADS_1


Orang itu menjelaskan situasi terkait saat ini. Apabila itu penginapan, maka mungkin jumlah korban berjatuhan tidaklah sedikit.


"Aku akan segera ke sana sekarang juga. Mohon tunggu sebentar."


__ADS_2