
Di hari berikutnya, Andressa menitipkan klinik kepada Amelia. Sementara itu, dia berangkat menuju kediaman Duke Fidel. Malam hari ini Lorcan akan menjemputnya secara khusus menggunakan kereta kuda istana.
"Wah, Nona, Anda sangat cantik malam ini! Maksud saya, Anda selalu cantik, tetapi sekarang Anda jauh lebih cantik."
Amelia sangat bersemangat menyanjung kecantikan Andressa. Dia salah satu orang yang membantu Andressa berdandan.
"Benarkah? Aku tidak merasa seperti itu. Justru aku merasa tidak nyaman karena gaun ini sangat berat. Jika bukan karena Lorcan, aku takkan mengenakan gaun ini," ujar Andressa terlihat jelas bahwa dirinya terganggu mengenakan gaun tersebut.
Walaupun gaunnya indah, tetapi Andressa tak senang sama sekali. Sedari dulu Andressa memang tidak suka memakai gaun yang berat seperti ini.
"Tenang saja, Nona. Nanti Anda juga akan terbiasa. Anda harus menunjukkan kepada semua orang di aula pesta nanti bahwa Anda adalah wanita tercantik di kekaisaran Emilian."
Andressa tertawa kaku. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Amelia. Gadis itu memang selalu bermaksud menonjolkan Andressa di antara banyak orang.
Amelia ingin Andressa dikenal semua orang dan dicintai rakyat Emilian. Bagi Amelia, kekaisaran ini butuh seseorang layaknya Andressa. Oleh sebab itulah, Amelia akan melakukan apa saja demi memperkenalkan kemampuan Andressa kepada semua orang, jika bisa sampai ke seluruh penjuru dunia.
"Nona, silakan keluar. Kaisar sudah menunggu Anda di depan," kata seorang tabib.
__ADS_1
"Oh, dia sudah datang? Baiklah. Aku pergi sekarang."
Andressa berpamitan kepada Amelia dan yang lain. Gadis itu pergi membawa berbagai macam perasaan bersemayam di hati. Meskipun dia rasa mungkin saja akan ada kejadian menyebalkan menanti di aula pesta.
"Lorcan, maaf sudah membuatmu menunggu."
Lorcan berbalik badan kala mendengar suara Andressa berada tepat di belakang punggung. Sejenak Lorcan terpana terhadap pesona Andressa seperti orang yang berbeda malam itu.
'Cantik sekali. Aku tidak bisa mengalihkan mataku darinya,' batin Lorcan memuji Andressa.
Dia melamun tanpa sadar selama sepersekian detik sehingga Andressa terpaksa menyadarkannya.
Lorcan langsung menyingkirkan segala macam pikiran yang mengganggu.
"Tidak ... ah, maaf aku melamun. Ayo kita berangkat sekarang. Nanti bisa-bisa kita terlambat," ujar Lorcan berusaha menahan diri.
Lorcan mengulurkan tangan, menawari bantuan membantu Andressa menaiki kereta kuda.
__ADS_1
"Ya, terima kasih."
***
Aula pesta sudah dipenuhi oleh para bangsawan yang diundang. Suasana aula terdengar bising. Pergelaran pesta pertunangan Miria dan Gibson membuat banyak orang membicarakannya. Bagaimana tidak? Desain aula sampai jenis makanan pestanya memiliki harga yang fantastis.
"Aku sangat bahagia sekali." Miria merupakan salah satu orang paling gembira di sana.
Sementara itu, Gibson tampak lemas dan tidak bersemangat. Dia masih terngiang-ngiang oleh wajah Andressa.
'Aku tidak kuat lagi berada di sini. Namun, aku tidak bisa keluar dari aula karena orang tuaku memperketat penjagaan,' pikir Gibson.
Miria yang melihat Gibson seperti itu, langsung menggandeng tangannya erat.
"Sayang, apa kau tidak bahagia? Mengapa kau terlihat lemas? Tersenyumlah! Ini hari bahagia kita." Miria menekan Gibson.
"Iya, Miria. Aku hanya sedikit lelah. Tolong lepaskan tanganmu dariku. Jangan sentuh aku sampai pesta selesai."
__ADS_1
Miria membeku. Gibson memperlakukannya dengan semena-mena. Seakan-akan dia menyimpan dendam besar terhadap Miria.
'Apa yang baru saja terjadi? Biasanya dia selalu melempar senyum padaku dan tidak pernah mengabaikanku. Perasaanku rasanya sangat memburuk karena masalah ini.'