Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Memenuhi Undangan Ibu Suri


__ADS_3

Andressa mengangguk. Dia masih belum mengetahui maksud sang Ibu Suri mengiriminya surat.


Aura ceria Lorcan berubah seram seketika. Dia memelototi kertas surat di tangan Andressa sembari berharap tidak terjadi hal-hal yang berada di luar perkiraannya.


"Ya, Ibu Suri. Aku akan membaca sebentar isi suratnya. Aku penasaran apa yang dikatakan Ibu Suri lewat secarik kertas ini."


Andressa membaca baik-baik surat tersebut. Isinya tidak ada yang spesial dan tidak ada yang perlu ia khawatirkan.


Tubuh Lorcan menegang menanti Andressa selesai membaca surat tersebut.


"Apa yang ditulis oleh Ibu Suri?" tanya Lorcan penasaran.


"Ibu Suri ingin bertemu denganku. Dia mengundangku ke istana kediamannya dua hari dari sekarang," jawab Andressa melipat suratnya kembali.


Lorcan merampas surat itu dari tangan Andressa. Dia ingin memastikan sendiri apa itu benar sekedar pertemuan atau ada hal lain yang tersembunyi? Akan tetapi, memang tak ada hal mencurigakan lainnya di sana.


"Aneh sekali. Apa yang sedang direncanakan wanita itu sekarang?" Lorcan berpikir keras dan mencoba menerka-nerka kemungkinan yang akan terjadi.


"Ada apa? Apa mungkin benar hubunganmu dan Ibumu tidak baik?" Andressa tiba-tiba bertanya.


Gadis itu telah mendengar rumor buruk perihal hubungan Lorcan dan Ibu Suri. Seisi kekaisaran ini tahu seberapa tidak sukanya Lorcan terhadap ibunya sendiri. Tidak jarang terjadi keributan di antara keduanya.

__ADS_1


"Aku memang punya hubungan tidak baik dengannya. Aku juga heran, kenapa dia mengundangmu ke istana? Sebaiknya, kau tolak saja undangannya," ujar Lorcan.


"Aku tetap akan pergi," kata Andressa memutuskan.


"Andressa, dengar! Ibu Suri itu bukan wanita sederhana. Dia licik dan selalu punya siasat buruk terhadap siapa pun yang dia anggap sebagai lawannya. Aku tidak mau kau menjadi korbannya."


Andressa menghela napas panjang. Tanpa diberitahu oleh Lorcan pun dia juga sudah tahu seperti apa watak Ibu Suri. Sejujurnya, dia sudah terbiasa menghadapi wanita licik dan wanita yang punya watak layaknya setan.


"Aku tidak takut. Justru jika dia punya perilaku seburuk itu, maka aku harus melawannya. Memangnya dia pikir rakyat biasa sepertiku tidak punya kekuatan untuk melawan? Dia salah bila menganggapku begitu," kukuh Andressa terlihat percaya diri.


Lorcan terpaku diam. Perlahan terdengar suara tawa menggema dari mulut Lorcan. Pria itu menertawakan dirinya yang sia-sia mengkhawatirkan Andressa.


Andressa mengacungkan jempol.


"Iya, tenang saja."


***


Dua hari kemudian, Andressa menghadiri undangan dari sang Ibu Suri. Leyna sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu istana kediamannya.


"Saya haturkan salam kepada Yang Mulia Ibu Suri."

__ADS_1


Andressa mengambil sikap sempurna dalam mengucap salam. Leyna sejenak terhening melihat Andressa menguasai etiket salam sapaan selayaknya seorang bangsawan. Bahkan, etiketnya jauh lebih sempurna dari gadis bangsawan pada umumnya.


"Halo, Nona tabib. Silakan duduk. Aku telah menunggu kehadiranmu." Leyna mempersilakan Andressa duduk di sofa berseberangan dengannya.


"Baik, terima kasih, Yang Mulia."


Andressa mendudukkan dirinya di atas sofa. Dia mendapati secangkir teh sudah tersaji di hadapannya bersama beberapa kudapan.


"Nona, aku dengar kau telah menyembuhkan Kaisar menggunakan teknik pengobatanmu. Aku tidak menyangka seorang tabib muda bisa melakukan sesuatu yang luar biasa," tutur Leyna.


Andressa mengulas senyum elegan.


"Saya hanya melakukan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan saya. Tidak ada yang salah dari itu semua."


Andressa menjawab tanpa rasa ragu disertai pandangan mata lurus menatap langsung bola mata Leyna.


'Oh, tampaknya gadis ini bukanlah orang yang mudah ditumbangkan. Haruskah aku singkirkan dia sekarang? Atau mungkinkah aku harus menariknya ke sisiku?'


Leyna menyelami alam pikirannya. Dia sadar Andressa tidaklah sesederhana itu dia jatuhkan.


"Kau punya keyakinan diri yang sangat kuat. Kalau begitu, aku akan langsung pada intinya saja. Aku tahu, kau pasti sadar bahwa aku mengundangmu kemari bukanlah tanpa alasan. Kau mau tahu tujuanku mengundangmu, Andressa?"

__ADS_1


__ADS_2