Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Ganti Rugi


__ADS_3

Duke Fidel terperanjat kala merasakan aura intimidasi Lorcan. Dia merasa tidak ada apa-apanya di hadapan sang pemimpin kekaisaran. Namun, hal itu tidak memadamkan keinginan serakahnya yang ingin menjadikan Camille sebagai permaisuri. Dia memang pria serakah yang tidak tahu akan posisinya sendiri.


“Mohon maafkan saya, Yang Mulia. Saya hanya melakukan hal yang benar sebab tidak ada larangan mengirim surat lamaran pertunangan kepada Anda. Lagi pula putri saya memenuhi standar seorang permaisuri. Keuntungan yang Anda dapatkan juga lebih besar jika putri saya menjadi permaisuri. Tidakkah Anda bisa memikirkannya lebih dalam, Yang Mulia?”


Lorcan muak. Pria itu selalu mencoba masuk mengacaukan segalanya di istana ini. Dia tidak ada bedanya dengan seekor rubah licik. Entah sudah berapa orang yang menjadi korban dari keserakahannya itu.


“Oh, benarkah? Aku tidak percaya putrimu punya kualifikasi lebih dibanding Andressa. Kau bisa melihatnya sendiri seberapa jauh perbedaan di antara keduanya. Kemampuan hebat, fisik sempurna, sifat kepedulian terhadap sesame tanpa ada diskriminasi, serta sifat kepemimpinan dan ketegasan. Camille tidak memiliki semua itu, sedangkan Andressa memilikinya. Permaisuri seperti Andressa lah yang aku cari, bukan wanita manja layaknya putrimu.”


Duke Fidel dibuat terdiam dalam seribu Bahasa oleh Lorcan. Dia tak bisa berkata-kata lagi memberi perlawanan lebih. Memang kenyataannya bahwa Camille tidak punya semua kriteria tersebut. Andressa satu-satunya yang dianggap sempurna sebagai sosok permaisuri yang dapat membimbing rakyat dan menjadikan Emilian sebagai kekaisaran yang berdiri di puncak teratas.


“Maaf, Yang Mulia, putri saya tidak punya seluruh kriteria itu.” Duke Fidel tertunduk malu. Jauh di lubuk hatinya, ia sedang mencoba untuk tidak marah atau mengamuk di hadapan Lorcan. Apabila ia mengamuk, maka Lorcan benar-benar takkan meliriknya dan menganggapnya lagi.


“Kau paham sekarang kan? Kalau begitu, aku rasa tak ada yang perlu didiskusikan lagi. Jawabannya sudah jelas bahwa Andressa merupakan gadis yang pantas berdiri berdampingan denganku. Dia akan menjadi tunanganku lalu menjadi permaisuri, tidak ada orang lain selain dirinya,” tegas Lorcan bangkit dari tempat duduk.


Para bangsawan yang berada di kubu pendukung Andressa merasa amat puas mendengar ketegasan Lorcan. Mereka puas sekali melihat duke Fidel tak berkutik melawan sang kaisar. Tentu saja, memangnya siapa yang berani bersikap lancang di hadapan Lorcan? Yang ada kepala mereka melayang jika bersikap keterlaluan.


“Sudah cukup sampai di sini saja pertemuan kita hari ini. Aku harap tidak ada lagi keributan yang mempermasalahkan pertunanganku. Kalian semua harus mendukung keputusanku. Awas saja kalau di belakangku masih ada yang menentang karena rakyat menerima sepenuh hati keberadaan Andressa sebagai permaisuri berikutnya.”


Lorcan menyudahi perkataannya. Dia kini melangkah keluar meninggalkan ruangan dan meninggalkan para bangsawan. Lorcan tak sanggup lagi menahan diri agar tidak mengamuk.


‘Sungguh merepotkan. Aku harap orang-orang yang menentang pertunanganku dan Andressa bisa segera lenyap dari dunia ini,’ batin Lorcan mengutuk penentang Andressa.

__ADS_1


Marquess Gencio, viscount Kaidan, dan baron Yerland bersyukur sebab Andressa yang dipilih Lorcan menjadi permaisuri. Akan menjadi kesulitan tersendiri jika Camille berhasil naik, bisa-bisa duke Fidel malah bertambah sombong dan mungkin permusuhan di antara mereka kian melebar.


“Duke, terima saja keputusan kaisar. Kau takkan pernah bisa mendapatkan takhta permaisuri demi putrimu tercinta,” ujar Marquess Gencio beranjak pergi.


Duke Fidel tak memberi respon, dia hanya diam menatap punggung Marquess Gencio penuh kedengkian dan amarah tak terbendung.


‘Awas saja kalian. Aku akan membuat kalian menyesal karena telah berani meremehkanku.’


Sepulang dari istana, duke Fidel menceritakan kepada Camille perihal kegagalannya dalam membuat ia menjadi tunangan Lorcan. Camille tidak terima, ia mengamuk dan merajuk. Suara tangisnya menggelegar di mansion kediaman duke Fidel.


“Kenapa bukan aku yang dipilih oleh kaisar? Mengapa harus wanita itu? Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa supaya kaisar mau menerimaku sebagai tunangannya. Percuma saja aku punya kedudukan tinggi, tetapi aku kalah dari rakyat jelata.”


Camille berguling-guling di atas tempat tidur. Para pelayan hanya diam menyaksikan rengekan Camille. Gadis itu tampak putus asa, ia terjebak dalam perasaan bingung. Ditambah lagi Leyna tidak menjawab satu pun surat darinya.


Camille memerintahkan pelayannya untuk membantu ia bersiap-siap. Dia sungguh naif mencoba melawan Andressa kembali. Apa Camille tidak pernah belajar dari kesalahan? Padahal sudah jelas dia pasti akan kalah dari Andressa. Namun, dia dengan sikap bodohnya mengabaikan hal tersebut.


Sementara itu di klinik, Andressa tengah mengecek kondisi tubuh pria yang ia operasi tempo hari. Masih belum ada kemajuan apa pun sampai saat ini. Pria berambut perak itu diduga mengalami koma akibat benturan hebat yang didera kepalanya. Belum diketahui pria itu penyusup dari wilayah mana, tetapi Andressa berharap bisa menemukan petunjuk tentang asal muasal si pemilik tubuh.


“Hei, Andressa! Apa kau tidak bosan melakukan pekerjaan ini terus menerus? Aku melihatmu sibuk menangani pasien saja bisa merasa bosan.” Lion juga ada di sana menemani Andressa.


“Aku tidak bosan sama sekali. Setiap kali berganti kehidupan aku selalu bergerak di bidang pengobatan. Bagiku menyembuhkan orang lain merupakan kesenangan tersendiri. Sebaiknya, kau berhenti berkomentar sebelum aku menghantam pipi gemukmu.”

__ADS_1


Lion mengerucutkan bibir, ia menggerutu kesal sebab Andressa selalu menyebut pipinya gemuk. Walaupun memang kenyataan, tetapi dia tak bisa menerima begitu saja.


“Keterlaluan sekali mulutmu. Pipiku tidak gemuk!”


Andressa tertawa kecil mengejek Lion.


“Tidak gemuk? Terserah kau saja.”


Di tengah gurauannya dengan Lion, seorang tabib mendatangi Andressa.


“Nona, tuan muda Fidel ingin bertemu dengan Anda. Sekarang beliau sedang menunggu Anda di lantai bawah,” ujar tabib itu.


“Hah? Gibson? Astaga, mengapa lagi dia kemari? Apa dia mau mencari masalah denganku? Sepertinya keluarga ini memang senang membuatku marah,” gumam Andressa teramat jengkel.


Gibson tersenyum semringah tatkala melihat Andressa menuruni anak tangga dan berjalan mendekatinya. Dia kemari sebab bukan tanpa alasan yang jelas.


“Andressa—”


“Kenapa kau kemari? Apa lagi yang mau kau lakukan? Bukankah aku sudah memberimu peringatan untuk tidak menemuiku lagi?” Andressa menyerangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Gibson terhening dalam seribu kata. Peringatan Andressa mana mungkin ia lupakan begitu saja. Akan tetapi, dia tetap memaksakan diri bertemu gadis itu meski tahu bagaimana respon yang dia dapatkan.

__ADS_1


“Aku kemari karena ingin menyerahkan uang ganti rugi atas klinikmu. Sebelumnya Miria telah merusak klinikmu, jadi aku membantunya untuk memberi ganti rugi,” tutur Gibson.


“Ganti rugi? Benarkah? Seberapa banyak yang aku dapatkan?”


__ADS_2