
Egran membeku di tempat. Tidak disangka dia benar-benar ketahuan ketika sudah menyamar sebaik mungkin. Terlebih lagi ia menyamar menggunakan pil yang dia racik menggunakan energi mana.
Bagaimana cara Andressa mengetahuinya? Hal itu menjadi pertanyaan penting di kepala Egran. Ditambah saat ini Andressa mengancam nyawanya. Ujung pedang yang runcing seakan-akan nyaris menusuk bola matanya.
"Tunggu sebentar. Jangan salah paham dulu, aku kemari bukan untuk mencari masalah. Tolong turunkan pedangmu."
Egran memutuskan untuk menurunkan emosinya sesaat. Dia harus mengontrol diri supaya masalah ini tidak menjadi bumerang baginya.
"Kau pikir aku wanita bodoh yang akan menuruti kebohonganmu? Aku katakan sekali lagi padamu, alangkah baiknya kau jujur saja mengenai identitasmu. Aku yakin kau bukan manusia sembarangan yang bisa memakai pil penyamaran," tegas Andressa.
Egran sungguh tidak habis pikir. Kali ini Andressa tahu soal pil penyamaran. Dia tiada henti dibuat terkejut oleh Andressa.
"Sepertinya aku salah telah meremehkanmu. Kau bahkan tahu tentang pil penyamaran. Kenapa kau bisa mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang-orang biasa? Kau ... mungkinkah kau mempunyai rahasia besar di belakangmu?"
Andressa tidak memberi respon. Gadis itu melayangkan pedang ke arah Egran sebab dia merasa bahwa pria itu menjadi hambatan baginya di masa depan.
Namun, sayangnya Egran berhasil menghindar. Dia mundur dengan sangat cepat dari serangan Andressa. Bahkan, gadis itu tercengang begitu melihat Egran mengelak darinya.
__ADS_1
"Hei, apa kau baru saja menggunakan sihir?" Suara Andressa kian terdengar dingin.
"Sihir? Apa itu sihir? Aku tidak tahu apa maksudmu." Egran mengembalikan wujud aslinya. Dia kini berdiri di depan Andressa dengan wajah tampan miliknya.
"Ternyata benar, kau menggunakan sihir. Aku tidak tahu kau siapa, tetapi jika kau memakai sihir untuk mencelakai orang lain, maka aku sendiri yang turun tangan untuk menghabisi nyawamu!"
Andressa melesat ke arah Egran sembari mengayunkan pedang. Aura membunuh nan kuat dari Andressa terasa amat kuat. Dia tidak punya keinginan membiarkan Egran kabur dari jangkauannya.
"Sayangnya, aku tidak semudah itu kau lenyapkan. Berhati-hatilah ke depannya dan semoga kita bertemu lagi," ujar Egran tersenyum penuh kemenangan disertai lambaian tangan dan tubuhnya perlahan menghilang dari jarak pandang Andressa.
Andressa membanting pedangnya ke atas lantai. Sejenak ia menatap telapak tangan sambil menekan mana dari inti tubuh.
"Kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir tempur? Aku yakin saat ini pihak musuh juga mendapatkan energi mana. Ini sangat tidak adil!"
Andressa terus bergumam dan menggerutu sendirian. Lion mendengar ocehannya dari belakang.
"Sudahi ocehanmu itu, Andressa. Tidak ada gunanya kau mengomel sekarang." Lion menyela gerutuan Andressa.
__ADS_1
Andressa berbalik badan menghadap Lion.
"Ini kan salah kalian. Mengapa aku harus direpotkan di sini?! Jika kalian memintaku untuk membersihkan dunia ini dari kebocoran energi sihir, seharusnya kalian memberikan aku lebih banyak mana untuk bertempur!" Andressa malah memarahi balik Lion.
"Kami tidak bisa memberimu energi mana."
"Hah? Kenapa? Kenapa kalian tidak bisa memberiku energi mana?"
Lion menghela napas panjang. Dia menahan amarahnya agar tidak meledak.
"Sebab ini bukan wewenang kami. Mereka yang memperoleh energi mana di tubuhnya itu dikarenakan ketidaksengajaan. Tubuh mereka punya respon yang bagus terhadap mana. Maka dari itulah, mereka bisa menggunakan energi mana menjadi sihir sesuka hatinya," jelas Lion.
Begitu mendengar penjelasan itu, Andressa kian merasa ini tidak adil baginya.
"Lalu bagaimana dengan aku? Apa aku tidak bisa menggunakan mana? Kalau begini, bisa-bisa aku mati lagi dan kembali hidup di dimensi lain!" Andressa meninggikan nada suaranya.
"Bersabarlah, Andressa. Bagaimana pun juga kau punya respon paling baik terhadap mana. Perhatikan dengan seksama aliran denyut nadimu. Apa yang kau temukan di sana?"
__ADS_1