
Tampak dari kejauhan, sesosok lelaki misterius memasuki wilayah Selion. Waktu itu langit sudah gelap sehingga tidak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya.
Dia terus melangkah maju hingga tiba di depan klinik Adista. Sosoknya perlahan tersenyum lalu memperlihatkan wajahnya yang tersembunyi di balik bayangan. Pria itu ternyata adalah Egran — tabib yang pernah terusir dari Emilian.
"Klinik Adista? Hoho, rupanya wanita sialan itu sudah merenovasi habis-habisan kliniknya. Sepertinya aku harus masuk mengecek ke dalam," gumam Egran.
Egran menelan sebuah pil dan penampilannya berubah menjadi sesosok kakek tua. Kemudian dia sengaja melukai tangannya dan memulai aktingnya demi melancarkan rencananya untuk menyusup ke dalam klinik.
Sementara itu, di dalam klinik masih ada beberapa orang tabib yang bertugas untuk berjaga malam ini. Mereka disibukkan dengan pemeriksaan pasien yang menjalani perawatan di klinik.
"Tolong awasi baik-baik pasien di kamar nomor delapan. Jangan lupa cek secara berkala karena pasien ini punya kondisi khusus. Dia juga tidak punya keluarga. Jadi, hanya kita saja yang bisa merawatnya," ujar Andressa kepada salah seorang tabib.
"Baik, Nona. Saya akan memeriksanya secara berkala."
Andressa lanjut lagi berjalan menyusuri lorong klinik. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh bahana ketukan di pintu masuk depan. Dia mendengar suara pria tua meminta tolong.
__ADS_1
"Siapa yang datang malam-malam begini?"
Andressa lekas membukakan pintu klinik yang terkunci. Dia tertegun mendapati Egran yang sedang menyamar meraung kesakitan di hadapannya.
"Tolong saya, Nona ... tangan saya terluka karena tidak sengaja tersayat pisau." Egran benar-benar sempurna dalam menjalankan perannya sebagai seorang kakek tua.
Tanpa menaruh curiga, Andressa pun menyuruhnya masuk.
"Astaga, ayo cepat masuk biar segera diobati."
"Terima kasih, Nona."
"Anda seorang tabib kan? Mengapa Anda memakai alat-alat yang berbeda dari tabib pada umumnya?" Egran akhirnya melontarkan pertanyaan atas rasa penasarannya.
"Karena alat-alat ini bekerja lebih baik dari alat-alat tabib biasa dan aku butuh ini sebagai pelengkap teknik pengobatanku."
__ADS_1
Egran memperhatikan lebih dekat lagi bagaimana cara Andressa mengobati lukanya.
'Apa-apaan teknik pengobatan miliknya ini? Dari mana dia mempelajarinya?' batin Egran bertanya-tanya.
Tidak butuh waktu lama bagi Andressa sampai ia menyelesaikan pengobatannya dengan membalut luka Egran menggunakan perban.
"Sudah selesai." Andressa menyimpan kembali alat-alat medisnya.
"Oh, sudah? Cepat sekali. Berapa biayanya? Saya ingin membayarnya."
Andressa tersenyum miring seraya memutar kepalanya menatap Egran.
"Aku tidak memungut biaya apa pun darimu, tetapi kalau kau masih memaksa, maka bayar saja dengan identitasmu. Sebutkan, siapa kau? Dari mana kau berasal?"
Andressa mengeluarkan sebilah pedang dan mengarahkan ujung pedangnya ke arah Egran. Sontak Egran terkejut bukan kepalang. Tubuhnya melompat menjauh dari Andressa.
__ADS_1
"Kau tahu aku menyamar?" Pandangan lembut Egran berubah tajam. Suaranya yang serak dan lembut pun mulai mengeluarkan suara aslinya.
"Kau pikir aku sebodoh itu sampai tidak menyadari kehadiran seseorang mencurigakan sepertimu? Aku bahkan bisa menyadarinya sejauh sepuluh meter dari jarakku dan dirimu. Sebaiknya, kau katakan sekarang, siapa kau?! Apa tujuanmu menyelinap masuk ke klinikku?!"