
Andressa tertegun. Lorcan sepertinya sangat terburu-buru untuk mengembalikan kondisi kaki dan matanya.
"Kenapa kau begitu tergesa-gesa? Apakah ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuanku?"
Lorcan tidak langsung menjawab. Dia diam terlebih dahulu menjelang memberi jawaban kepada Andressa. Dia berpikir bahwa dia harus menjawab dengan benar supaya Andressa tidak menaruh curiga padanya.
Andressa melirik tubuh Lorcan dari atas sampai ke bawah. Ada beberapa bekas luka baru di tangan Lorcan seperti luka sayatan benda tajam. Andressa pun bisa menyimpulkan sendiri apa yang telah dialami Lorcan semalam.
"Apa mungkin mereka sudah bergerak? Pihak luar yang tidak tahu dari mana asal usulnya mulai menyerangmu?" Andressa menebaknya dengan sangat tepat.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
Sejujurnya kala itu Lorcan dan Jason amat terkejut mendengar Andressa menebak dengan sangat tepat. Padahal mereka belum mengatakan apa-apa soal masalah tadi malam.
__ADS_1
"Itu mudah." Andressa mengarahkan telunjuk ke luka Lorcan. "Luka itu jelas terlihat seperti sayatan paksa dari sebuah senjata tajam. Aku tahu kau hanya berdiam diri di istana dan tidak melakukan aktivitas apa-apa yang berhubungan dengan senjata. Lalu kau mendapatkan luka itu, yang artinya kau baru saja mendapat ancaman pembunuhan. Bukankah begitu?"
Andressa memandang serius Lorcan. Sesungguhnya Jason sangat merinding melihat Andressa menebaknya dengan benar hanya dengan mengamati luka Lorcan.
"Benar. Kau menerkanya dengan benar," jawab Lorcan mengembuskan napas singkat. "Oleh karena itulah, Andressa, aku kemari untuk mengatur jadwal operasiku. Tolong operasi aku sesegera mungkin supaya aku bisa bergerak lebih bebas mengayunkan pedangku."
Andressa mengubah posisi duduknya. Dia tidak bermaksud menolak permintaan Lorcan kala itu yang terlihat putus asa.
Lorcan selalu merasa bersalah kepada para bawahannya atas kondisi tubuhnya yang tidak lagi sempurna. Dia tidak bisa melindungi orang lain dengan maksimal menggunakan tubuhnya saat ini.
Lorcan sudah mempersiapkan hati untuk hal tersebut.
"Ya, aku siap. Silakan lakukan apa pun asalkan aku bisa kembali normal seperti semula," tegas Lorcan.
__ADS_1
"Bagus! Namun, sebelum itu, ada sesuatu yang ingin aku minta darimu."
"Apa itu? Katakan saja! Aku akan memenuhinya."
"Bisakah kau mengutus sejumlah tabib istana kemari? Aku butuh beberala orang untuk melakukan operasi ini. Aku tidak bisa melakukannya hanya dengan aku dan Amelia saja. Sangat sulit mengoperasimu bila hanya dengan dua orang seperti ini."
Sungguh permintaan yang mudah bagi Lorcan. Ini bukan sesuatu yang sulit untuk ia kabulkan.
"Ya, aku akan mengutus beberapa orang tabib kemari. Tenang saja, aku akan membawa tabib paling berbakat di istana."
Andressa puas mendengar jawaban Lorcan. Beban di hatinya sedikit lega. Dengan begini, dia bisa melakukan operasi terhadap Lorcan.
"Tolong kirim mereka besok kemari dan untuk jadwal operasimu, mari lakukan empat hari dari sekarang. Aku butuh waktu untuk melatih para tabib supaya mereka dapat membantuku memulihkan kaki serta matamu," tutur Andressa.
__ADS_1
"Tidak masalah! Empat hari bukan waktu yang lama. Aku akan mengutus para tabib kemari keesokannya. Aku sangat menantikan hari di mana aku bisa berjalan dan melihat normal kembali."