
Lorcan mengantarkan Andressa untuk melihat mayat Marchioness Jevano. Di ruang tempat penyimpanan mayat, terdapat beberapa orang kesatria yang berjaga. Mereka sedang memperketat penjagaan supaya tidak ada lagi penyusup yang masuk.
"Ini mayatnya. Silakan kau lihat sendiri."
Andressa membuka kain penutup mayat. Dia amat terkejut begitu menyaksikan tubuh Marchioness Jevano membiru. Padahal waktu jarak kematiannya belum lama. Akan tetapi, tubuhnya bukan seperti mayat baru.
Kemudian Andressa mulai meraba satu per satu bagian tubuh Marchioness Jevano. Mulai dari pengamatan luka baru hingga luka memar yang dia dapatkan.
"Ini ada bekas tusukan jarum." Andressa menemukan bekas tusukan jarum di tengkuk belakang Marchioness Jevano.
"Bekas tusukan jarum?"
Lorcan melihat lebih dekat lagi. Ternyata benar ada bekas tusukan jarum.
"Ya, kemungkinan pembunuh itu menaruh racun di ujung jarumnya lalu membunuh Marchioness Jevano menggunakan jarum tersebut," jelas Andressa.
__ADS_1
"Tidak heran mengapa dia terbunuh tanpa luka dan darah. Lalu apa lagi yang bisa kau simpulkan dari kondisi mayat wanita ini?"
Andressa berpikir sejenak. Dia melirik ujung kuku Marchioness Jevano penuh dengan darah.
"Tampaknya dia sempat memberontak sebelumnya dengan mengais-ngaiskan ujung jemarinya ke lantai penjara. Ditambah lagi sebelum mati, dia dicekik dan dipukul. Mengapa kesatria tidak mendengar kegaduhan di penjara?"
"Ini yang membuatku bingung. Kemungkinannya hanya satu."
Mata Caerina melebar. "Mungkinkah penyusupnya menyamar sebagai kesatria ataukah sejak awal kesatria itu memang ada di istana untuk memata-matai aktivitas penghuni istana."
"Itu adalah kemungkinan utamanya. Aku sudah memberi perintah beberapa orang untuk menangkap kesatria yang dianggap mencurigakan. Namun, sepertinya mereka terlambat satu langkah. Mata-mata sekaligus pembunuh itu sudah tidak ada lagi di istana," tutur Lorcan.
Andressa kebingungan. Ini merupakan masalah yang penuh misteri. Ditambah lagi, Andressa belum terlalu familiar dengan dunia ini sehingga akan terdapat kesulitan menangani kasus tersebut.
"Apa ini?" Indera penglihatan Andressa menangkap sebuah guratan tanda di lengan kanan Marchioness Jevano. "Bukankah ini sebuah lambang? Pembunuh itu mengukir lambang ini menggunakan jarum."
__ADS_1
Lambang di lengan tangan Marchioness Jevano berbentuk seperti garis dua diberi tanda silang. Lambang itu diukir dengan ujung jarum sehingga membekas membentuk bekas luka.
"Lambang ini ... ah, aku ingat! Aku pernah melihat lambang ini di salah satu mayat kesatria. Dia juga diduga mati dibunuh dan di lengan kanannya juga terdapat ukiran lambang tersebut."
Andressa melirik ke arah Lorcan.
"Jadi, ini bukan kasus pembunuhan pertama? Apa kau ingat apa saja yang dilakukan kesatria itu selama hidup? Atau maksudku dia punya sebuah masalah?" tanya Andressa memandang serius.
"Seingatku, dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena membiarkan para pengedar obat terlarang memasuki perbatasan wilayah. Maka dari itu, aku menghukumnya. Tidak disangka juga dia malah mati setelah aku masukkan ke penjara," papar Lorcan.
Ini cukup menjadi sedikit petunjuk bagi Andressa.
"Obat terlarang, cairan virus. Apabila tebakanku benar, pelaku utama di balik masalah ini pandai dalam ilmu tabib. Siapa kira-kira? Aku akan melakukan penyelidikan sesegera mungkin," ucap Andressa.
"Serahkan saja kepada pihak istana. Kau harus fokus dengan pekerjaanmu. Masalah ini biar aku yang menanggungnya. Bagaimana? Kau bisa mempercayakannya kepadaku?"
__ADS_1