Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Berangkat Perang


__ADS_3

Muka Lorcan merona seketika Andressa memberinya sapu tangan serta menyuruhnya cepat pulang. Di saat itu pula, seluruh bawahan Lorcan memusatkan atensinya kepada mereka berdua.


"Ada apa itu? Apa aku salah lihat? Baru saja Kaisar tersipu malu di hadapan Viscountess Erriel."


"Apa jangan-jangan rumor itu benar? Rumor yang mengatakan kalau Kaisar menjalin hubungan rahasia dengan Viscountess Erriel."


"Aku tidak tahu, tetapi yang jelas mereka berdua jelas punya rasa yang sama. Mari kita dukung saja. Lagi pula Viscountess Erriel sudah banyak berjasa untuk kekaisaran ini."


"Aku juga mendukung. Abaikan saja latar belakang Viscountess Erriel sebagai rakyat jelata. Sekarang beliau sudah menjadi bangsawan. Kita tidak bisa memperlakukannya secara semena-mena."


Begitulah tanggapan mereka yang sangat beragam. Andressa bisa mendengar semua yang sedang mereka bicarakan. Namun, dia memilih untuk tak memberi respon.


"Aku pasti akan cepat kembali. Tolong tunggu aku. Sambut aku ketika pulang membawa kemenangan," tutur Lorcan tersenyum manis.


Andressa mengangguk seraya mengusap tangan Lorcan.

__ADS_1


"Ya, aku yakin kau bisa menang. Berhati-hatilah karena aku berfirasat bahwa pihak musuh punya sesuatu yang dapat melukai kalian."


Lorcan mengangguk seraya mengusap puncak kepala Andressa.


"Terima kasih sudah mengingatkanku. Aku akan berhati-hati dan menjaga fokusku."


"Baiklah, aku menunggu kabar baik darimu dan dari pasukanmu."


Lorcan pun masuk ke barisan sambil menunggangi kuda. Dia memimpin jalan menuju jalur medan perang. Semua orang mengantar keberangkatan mereka sampai ke gerbang perbatasan masuk kekaisaran Emilian.


***


Sang Ibu Suri — Leyna, tengah berdiri di jendela yang menghadap langsung ke arah sinar mentari. Dia hanya membuka sedikit gordennya dan membiarkan kamarnya didera kegelapan.


Leyna tersenyum miring seraya meneguk minuman beralkohol. Ada yang membuat suasana hatinya membaik kala itu yakni berkaitan dengan keberangkatan Lorcan ke medan perang.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa menurutmu rencana kita bisa berjalan sesuai apa yang dibicarakan sejak awal?"


Leyna bertanya kepada sesosok pria yang berdiri di sudut ruangan yang tak terpapar sinar mentari. Pria itu pun melangkah maju. Wajahnya terlihat jelas ketika cahaya matahari mengenainya.


"Tenang saja, Yang Mulia. Saya telah memeriksa berulang kali dan saya yakin kita bisa berhasil melukai atau membunuh Kaisar beserta bawahannya. Saya sudah lama menunggu momen ini."


Pria itu adalah Egran. Dia datang secara khusus untuk berbincang dengan Leyna. Mereka punya hubungan yang rumit karena bersatu demi mencapai tujuan yang sama.


"Aku berharap rencananya tidak meleset. Aku cukup khawatir dengan keberadaan tabib jal*ng itu. Aku merasa bahwa dia bisa melakukan penyembuhan jenis apa pun. Kali ini apa dia juga bisa mengobati dan menghidupkan orang mati?'


Gigi Leyna bergemelatuk akibat geram terhadap Andressa. Baik dia maupun bawahannya yang lain menganggap Andressa sebagai hama.


"Apa Anda punya rencana lain untuk wanita itu? Lagi pula saya yakin seratus persen bahwa dia tak bisa menyelamatkan bajing*n-bajing*n itu sebab jebakan yang kita pasang terbilang tidak bisa ditangani dengan tenaga manusia."


Leyna menggoyang-goyangkan gelas minumnya. Dia percaya kepada Egran, tetapi di sisi lain ia juga merasa bahwasanya tak menutup kemungkinan rencananya digagalkan oleh Andressa. Walaupun dia tidak bisa memperkirakan pergerakan Andressa.

__ADS_1


"Tidak usah. Kita tunggu saja kabar baik dari mata-mata yang sudah aku kirim mengawasi Kaisar. Sekarang aku harus mengatur ketenanganku supaya tidak ada yang menaruh curiga kepadaku nanti."


__ADS_2