
Setelah menerima undangan pertunangan dari Miria dan Gibson, Andressa membuang sejenak pikirannya yang dipenuhi kerumitan. Dia berpikir soal siapa orang yang bisa menjadi partnernya nanti tatkala menghadiri acara pertunangan tersebut. Andressa baru ingat bahwasanya ia tidak punya kenalan pria yang dekat dengannya selain Lorcan.
Saat ini Andressa mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri untuk mengurus para pasien yang terus menerus berdatangan. Bahkan, kini dia mulai kewalahan karena jumlah pasien berkali-kali lipat lebih banyak dibanding tabib.
“Nona, bolehkah saya berbicara sebentar? Mohon maaf sebelumnya, apa Anda sedang luang sekarang?”
Di kala Andressa tengah melepas penat, salah seorang tabib laki-laki bernama Bosley menemui Andressa di ruangannya.
“Kebetulan aku sedang luang. Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Andressa berfokus pada kedatangan Bosley.
“Apa Anda tidak berniat untuk merekrut lebih banyak tabib lagi? Klinik sangat kewalahan menghadapi pasien. Alangkah baiknya kita mengadakan perekrutan tabib kembali, Nona. Jika perlu, kita juga harus merekrut asisten tabib. Asisten nantinya akan membantu meringankan pekerjaan tabib. Pada dasarnya, mereka hanya bekerja sebagai tangan kanan tabib dan membantu merawat pasien dengan cara mengganti cairan infus atau lainnya,” tutur Bosley.
Tidak ada yang salah dari penuturan Bosley. Sejujurnya, Andressa juga sedang memikirkan hal tersebut. Dia memang punya rencana membuka perekrutan tabib baru. Klinik ini butuh lebih banyak tabib lagi.
“Asisten tabib ya? Berarti itu sama seperti perawat.” Andressa bergumam lalu kembali berucap, “Baiklah, mari lakukan itu. Kita akan melakukan perekrutan tabib dan asisten tabib dalam waktu satu minggu mulai sekarang. Tolong bagikan selebarannya ke masyarakat luas serta jangan lupa tempel satu selebaran di papan pengumuman alun-alun ibu kota.”
Bosley tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala.
“Saya akan langsung melaksanakan seperti yang Anda perintahkan, Nona. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Bosley tergesa-gesa meninggalkan ruangan Andressa. Dia gembira sebab selepas adanya tabib baru, pekerjaannya akan sedikit lebih ringan. Wajar bila Bosley merasa diberatkan oleh pekerjaannya karena masing-masing tabib saat ini menangani lebih dari dua puluh pasien dengan kondisi berbeda-beda setiap harinya.
“Oh, hampir saja aku lupa. Hari ini aku berencana untuk memeriksa keuangan klinik. Berapa kira-kira pemasukan bulan ini?”
Andressa mengecek buku keuangan. Senyum manisnya merekah sesaat melihat jumlah angka uang masuk bulan ini.
“Astaga! Pemasukan bulan ini benar-benar luar biasa! Jika terus seperti ini, mungkin aku bisa membuka cabang klinik di daerah lain. Aku sangat bahagia karena aku tidak perlu lagi susah-susah memikirkan soal uang,” ucap Andressa melompat-lompat kesenangan.
Kemudian Andressa berhenti melompat keriangan. Dia segera menyimpan kembali buku keuangannya lalu melangkah menuju ke luar ruangan.
“Saat ini jam istirahat tabib. Aku harus menemui mereka dan memberi tahu tentang kabar gembira ini.”
Sementara itu, para tabib sedang meregangkan otot-otot mereka di ruang istirahat. Mereka tampak lesu dan tidak bersemangat sama sekali. Mungkin ini efek dari rasa letih yang mendera tubuh mereka.
“Akhir-akhir ini aku jadi kurang tidur. Kita selalu kedatangan pasien darurat di larut malam.”
“Iya, terkadang kita terpaksa melakukan operasi di tengah malam. Aku heran, kenapa Nona Andressa tidak pernah terlihat lelah sedikit pun? Beliau selalu bekerja siang dan malam tiada henti. Sepertinya stamina beliau terus terisi ulang setiap menitnya.”
“Itu karena Nona Andressa sangat menyukai pekerjaannya. Setidaknya kita bersyukur karena beliau tidak pernah membayar kita dengan upah yang rendah. Tidak sama seperti klinik tempat kita bekerja sebelumnya yang membayar kita seenak mereka saja.”
Di tengah obrolan mereka, Andressa datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Mereka sangat terkejut karena Andressa menyelonong begitu saja, tidak sama seperti biasanya.
“Ada apa, Nona? Mungkinkah kita mendapatkan pasien gawat darurat lagi?” Mereka cemas waktu istirahat mereka akan terganggu.
“Tidak, bukan begitu. Aku punya kabar baik untuk kalian semua. Malam ini mari kita tutup lebih cepat dan aku akan mentraktir kalian di restoran,” ujar Andressa menggebu-gebu.
“Maksud Anda, malam ini kita akan pergi makan bersama? Tidak ada tugas atau semacamnya?”
Andressa menggeleng.
“Ya, tidak ada. Kalian aku bebas tugaskan. Aku paham kalian sedang lelah dan suntuk dengan pekerjaan kita saat ini. Namun, tenang saja, aku berencana untuk merekrut tabib baru dan asisten tabib. Jadi, tolong bertahanlah sebentar lagi lalu mari kita berpesta malam ini!”
Suara teriakan kegembiraan sekaligus kelegaan merebak ke pendengaran Andressa. Mereka senang sekali mendengarnya. Rasa letih di sekujur badan mendadak menghilang tak bersisa.
“Pesta! Mari kita berpesta!”
Andressa hanya tersenyum di ambang pintu menyaksikan kebahagiaan sederhana ini. Dia turut merasakan rasa bahagia di hati para bawahannya.
***
Sedangkan, di waktu bersamaan di istana kekaisaran, Lorcan tengah mengadakan pertemuan penting bersama para bangsawan di ruang rapat. Pembahasan mereka kali ini terkait Andressa.
“Nona Andressa telah berjasa banyak terhadap masalah yang melanda kekaisaran akhir-akhir ini. Saya pikir, sudah seharusnya beliau menerima hadiah besar sebagaimana semestinya,” kata Marquess Gencio.
“Benar, Yang Mulia, saya juga sependapat dengan Marquess Gencio. Anggaran istana juga banyak berlebih, bahkan kerugian kekaisaran pun telah dibereskan oleh Nona Andressa. Tidak hanya itu, beliau juga menyelamatkan anak saya yang berada di ambang kematian,” timpal Baron Yerland.
“Meskipun saya telah membantu renovasi klinik beliau, itu belumlah seberapa dengan jasa beliau terhadap Emilian. Tolong pertimbangkan hal ini sekali lagi, Yang Mulia.” Viscount Kaidan turut menambahkan.
Count Wain saat itu juga setuju. Bagaimana pun Andressa berjasa besar dalam menangani kasus kebakaran yang menimpa penginapannya.
Lorcan menghela napas panjang. Saat ini bangsawan berpengaruh semuanya berada di pihak Andressa. Pengaruh gadis itu bukan main-main, dia menyatukan bangsawan yang belum pernah saling berinteraksi sekali pun.
__ADS_1
“Apa yang harus aku berikan kepada Andressa? Dia pasti menolak kalau diberi hadiah. Apa kalian punya usulan?” Lorcan bertanya kepada para bangsawan, berharap mereka bisa memberinya usulan yang tepat.
“Kenapa Anda repot-repot memikirkan hal ini, Yang Mulia? Lagi pula itu sudah tugasnya sebagai tabib membantu orang-orang yang terluka. Saya pikir Anda tidak perlu memberi hadiah atau pun penghargaan kepada rakyat jelata itu.”
Suasana ruang rapat berubah memanas tatkala Duke Fidel bersuara. Dia dan sejumlah bangsawan lain terlihat tidak senang ketika Lorcan berencana memberi Andressa hadiah yang setimpal untuk membayar jasa-jasa Andressa.
“Apa yang Anda katakan, Duke? Pemberian penghargaan atau hadiah terhadap seseorang yang berjasa bagi kekaisaran bukanlah sebuah kesalahan. Tidak memandang dia seorang rakyat jelata maupun bangsawan, jika dia melakukan sesuatu yang besar, maka pihak kekaisaran wajib membalasnya.” Count Wain meninggikan suaranya, terlintas emosi yang mencuat dari dirinya.
Duke Fidel tersenyum miring. Seolah-olah meremehkan apa yang diucapkan Count Wain kepadanya.
“Yang diutarakan Duke Fidel tidak ada salahnya. Klinik Glory milik saya selama ini selalu menghasilkan prestasi yang menguntungkan Emilian. Akan tetapi, saya tidak pernah meminta hadiah atau penghargaan dari Anda, Yang Mulia,” celetuk Count Ewald – ayah Miria.
“Keterlaluan sekali. Apa Anda berdua pikir jasa Nona Andressa hanya sekedar mengobati pasien? Beliau justru memulihkan kondisi wilayah Selion! Bahkan, klinik Anda sendiri tidak bisa mengatasi wabah berbahaya itu. Terlebih lagi, klinik Anda sudah banyak menuai berita negatif akhir-akhir ini.”
Baron Yerland yang menyimpan rasa sakit hati terhadap Count Ewald melimpahkan kekesalannya. Dia membela Count Wain sekaligus mencoba melawan keangkuhan pria tersebut.
Raut muka Count Ewald berubah masam. Dia tidak terima dengan apa yang dikatakan Baron Yerland kepadanya. Sekarang di dalam ruang rapat terdapat dua kubu bangsawan yang saling bertentangan. Situasi ini sudah biasa terjadi setiap kali ada rapat di istana.
“Baron, betapa lancangnya mulut Anda—”
“Cukup! Hentikan perdebatan tidak berguna kalian ini.”
Lorcan akhirnya terpaksa menengahi mereka. Apabila dia membiarkan mereka terus menerus beradu mulut, maka kemungkinan terburuk akan mengguncang seisi istana.
Sontak mereka mengunci mulut masing-masing. Jika Lorcan sudah angkat suara, maka mereka tidak bisa lagi melanjutkan perdebatannya. Sangat menakutkan apabila Lorcan marah besar.
“Apa pun yang kalian katakan, aku tetap akan memberi Andressa hadiah. Dia pantas mendapatkannya. Anggaran istana tersisa banyak, aku akan menggunakan anggaran istana. Walau kalian menentangnya, aku tetap memberinya hadiah meski harus menggunakan dana pribadiku,” lanjut Lorcan memutuskan.
Duke Fidel dan Count Ewald teramat kesal. Mereka tidak bisa menghentikan niat Lorcan. Sekarang Lorcan malah terang-terangan menentang mereka.
“Hadiah apa yang ingin Anda berikan kepada Nona Andressa?”
Pertanyaan dari Marquess Gencio membuat Lorcan terpaksa berpikir keras.
“Menurut kalian aku harus memberi apa?” Sekali lagi Lorcan meminta pendapat mereka.
“Bagaimana jika Anda memberi Nona Andressa sebuah gelar kebangsawanan dan wilayah kekuasaan?” usul Viscount Kaidan.
“Tidak bisa! Kenapa tidak berikan saja dia uang? Rakyat jelata hanya butuh uang. Memberinya gelar hanya akan membuatnya sombong.” Duke Fidel menentang habis-habisan usulan tersebut.
“Justru kalau Nona Andressa diberi gelar dan wilayah kekuasaan sendiri, maka beliau bisa melindungi dirinya menggunakan gelar kebangsawanannya itu.” Viscount Kaidan tidak mau kalah.
Lorcan mengangguk. Ada benarnya juga apa yang dikatakan barusan oleh Viscount Kaidan bahwa Andressa memerlukan gelar bangsawan demi mempertahankan dirinya serta menyelamatkan pekerjaannya sebagai tabib.
“Aku setuju. Mari beri Andressa gelar bangsawan dan wilayah kekuasaan. Ini sudah diputuskan, satu pun dari kalian tidak bisa mengganggu gugat,” ujar Lorcan secara lantang.
“Tetapi, Yang Mulia, bagaimana jika dia menyalahgunakan gelarnya itu? Tidak jarang rakyat jelata diberi gelar ujung-ujungnya malah menindas banyak orang.” Count Ewald tampaknya masih belum menyerah.
“Aku yakin Andressa tidak akan melakukan hal sekeji itu. Dia gadis baik, aku tahu pasti karena aku cukup mengenalnya. Jadi, kekhawatiranmu itu percuma saja.” Lorcan bangkit dari tempatnya duduk. “Kalian paham? Ini merupakan keputusan akhir. Aku tidak menerima pertentangan dari kalian. Suka tidak suka, aku tidak peduli. Kalau begitu, sekarang silakan kalian keluar dari ruangan. Rapatnya selesai sampai di sini saja.”
Ekspresi Lorcan memburuk. Dia memendam amarah besar di dalam dada tatkala mendengar Duke Fidel dan Count Ewald mencoba menjatuhkan Andressa di hadapannya. Namun, sayangnya, dia tidak terpengaruh sama sekali.
‘Aku harus menahan diri sementara waktu. Ada banyak hal mencurigakan di istana dan di antara para bangsawan. Sampai aku berhasil menemukannya, aku sebaik mungkin tidak boleh bertindak gegabah,’ batin Lorcan berlalu pamit undur diri.
Pada keesokan pagi, Lorcan terlihat bingung sendirian di meja kerjanya. Jason yang kala itu baru saja datang juga ikut keheranan menyaksikan tingkah aneh Lorcan.
“Apa yang membuat Anda gusar, Yang Mulia?” Akhirnya, Jason bertanya kepada sang Kaisar.
Lorcan melirik ke arah Jason.
“Ada sesuatu yang membebani kepalaku. Kau tahu bagaimana kepribadian Andressa kan? Aku berencana memberinya gelar dan wilayah kekuasaan. Akan tetapi, gadis itu pasti menolaknya. Bagaimana cara supaya dia tidak menolak penghargaan sekaligus hadiah dariku?”
Sudah diduga, Lorcan pasti memikirkan tentang Andressa. Tidak ada hal selain Andressa yang dapat membuatnya kebingungan seperti ini.
“Kenapa Anda tidak membuat surat resmi saja? Anda hanya perlu membuatnya tanpa memberi tahu Nona Andressa sehingga nanti beliau takkan bisa menolak penghargaan dan hadiah dari Anda,” ucap Jason memberi saran.
Muka Lorcan langsung berseri-seri. Dia mendapatkan pencerahan secara tidak langsung dari Jason.
“Oh, benar! Kau benar juga … surat resmi ya? Kau rupanya sangat pintar. Baiklah, aku akan membuat surat resmi untuknya. Mungkin ini lebih baik karena Andressa tidak suka diundang secara resmi ke istana.”
Kemudian Lorcan segera bergerak menuliskan surat resmi pemberian gelar beserta sejumlah wilayah kekuasaan untuk Andressa. Namun, tidak berselang lama, sesosok kesatria menghampiri Lorcan untuk memberikan laporan.
__ADS_1
“Yang Mulia, saya membawa laporan. Pagi ini tahanan penjara yang Anda bawa beberapa hari lalu ditemukan meninggal dunia. Setelah diselidiki, mereka semua mati setelah menelan pil racun.”
Lorcan menjeda aktivitasnya sejenak. Dia amat terkejut mendengar pernyataan laporan tersebut.
“Maksudmu mereka bunuh diri? Aku akan pergi sendiri untuk melihatnya.”
Lorcan beranjak dari tempat duduk. Bergegas langkahnya menyusuri lorong istana ke arah penjara bawah tanah.
Para tahanan yang mati itu adalah pihak musuh yang berhasil ditangkap oleh Andressa. Mereka menolak bersuara ketika Lorcan mencoba menginterogasinya. Mau seberapa parah pun siksaan yang diberikan Lorcan, mereka tetap menolak untuk mengakui siapa yang memberi mereka perintah. Alhasil, Lorcan membiarkan mereka di penjara menderita dalam luka yang cukup serius. Lalu kini mereka memutuskan untuk bunuh diri daripada harus menderita di penjara selamanya.
Sesampai di penjara, Lorcan mematung tatkala menyaksikan bagaimana rupa mayat mereka. Tubuh mereka seakan-akan terkikis perlahan dan nyaris tidak bisa dikenali lagi. Kondisi mengenaskan mayat-mayat itu membuat para kesatria enggan mendekatinya. Apalagi aroma busuk yang dikeluarkan dari tubuh mereka sangatlah menyeruak ke indera penciuman.
“Yang Mulia, tampaknya pemimpin mereka lebih kuat dari yang saya bayangkan. Mereka lebih takut terhadap pemimpin mereka sendiri daripada menghadapi kematian,” bisik Jason.
“Kau benar. Aku tidak bisa menganggap remeh dalang dari semua ini. Aku harus melakukan sesuatu sebelum segalanya menjadi terlambat. Untuk saat ini, aku harus memanggil Andressa ke istana dan membiarkannya melakukan pemeriksaan kepada tubuh mayat-mayat ini.”
***
Laporan perihal kematian para tahanan pihak musuh pun merebak ke pendengaran Andressa. Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung berangkat ke istana. Dia penasaran dengan kondisi mayat para tahanan tersebut.
Andressa terpaksa meninggalkan klinik saat ramai kedatangan pasien. Dia harus mengutamakan masalah ini sebab menyangkut kelangsungan hidupnya di dunia ini.
Tidak butuh waktu lama bagi Andressa sampai di istana. Di sana kedatangannya disambut oleh Lorcan. Pria itu menuntun jalan Andressa menuju penjara bawah tanah.
“Apa para kesatria penjaga pintu masuk penjara sebelumnya tidak melihat adanya tanda-tanda penyusupan?” tanya Andressa.
Lorcan menggeleng pelan.
“Tidak. Mereka sepanjang hari berjaga dan tidak merasakan atau melihat tanda-tanda kedatangan penyusup. Keamanan istana telah diperketat, jadi mustahil ada penyusup yang masuk dan tak tertangkap indera penglihatan penjaga,” jawab Lorcan menjelaskan.
“Aneh sekali.” Andressa mengambil posisi jongkok di depan mayat-mayat para tahanan. Tangannya mulai bergerak melisik satu per satu tubuh mereka.
“Aneh?”
Andressa mengangguk.
“Iya, aneh. Aku telah memastikan sebelumnya bahwa di tubuh mereka tidak ada satu pun pil racun yang tersembunyi. Bahkan, aku juga sudah mengeceknya sampai ke dalam mulut.”
Lorcan mulai paham dengan kecurigaan Andressa.
“Artinya, ada seseorang yang sengaja menyusup? Penyusup itu memaksa mereka menelan pil beracun? Apakah begitu maksudmu?”
Andressa menjawab, “Benar, tepat seperti katamu barusan. Tanpa kau sadari, istanamu dimasuki penyusup. Mereka bergerak secara halus sehingga kau maupun penjaga tidak menyadari kehadirannya. Aku rasa ini menjadi semakin rumit.”
Andressa berdiri kembali. Dia berhasil mengidentifikasi seluruh kandungan racun yang menyebar di tubuh mayat-mayat itu menggunakan mana.
“Apa mereka punya kekuatan misterius selain aether?”
Netra Andressa melebar kala Lorcan bertanya seperti itu.
“Mengapa tiba-tiba kau punya pemikiran demikian? Mungkinkah ada sesuatu yang kau sadari?” tanya Andressa.
“Ini hanya firasatku saja sebab setiap pergerakan mereka sangat susah untuk dilacak. Oleh karena itulah aku berpikir bahwa mereka punya kekuatan lain selain aether. Apabila itu memang kenyataan, maka aku harus mencari tahu asal muasal kekuatan mereka apa dan berwujud bagaimana,” tutur Lorcan.
Andressa menepuk pundak Lorcan. Pria itu membeku tatkala matanya bertemu dengan mata dingin Andressa.
“Firasatmu bagus. Memang ada energi kekuatan lain berkecimpung ke dunia ini. Aku harap kau berhati-hati ke depannya. Seandainya saja ada sesuatu yang buruk terjadi padamu, segera hubungi aku karena aku punya urusan penting dengan para bajing*n pengacau itu.”
Suara Andressa penuh penekanan, menandakan bahwasanya terdapat segelintir dendam sekaligus kemarahan yang bergejolak di dada Andressa.
‘Energi kekuatan lain? Apa Andressa merahasiakan sesuatu dariku? Matanya seolah-olah mengatakan kalau dia tahu segalanya perihal pangkal permasalahan ini,’ pikir Lorcan.
Andressa dan Lorcan keluar dari penjara. Tidak lupa Andressa meminta Lorcan memberi perintah bawahannya untuk menguburkan jasad para tahanan tersebut sebelum aroma busuknya kian merebak di istana.
Ketika Andressa dan Lorcan berjalan di tengah teras istana utama, tiba-tiba mereka berdua merasakan hawa dingin yang menyakiti kulit. Refleks keduanya berhenti seraya berbalik badan.
“Sepertinya ada seseorang yang memperhatikan kita,” ujar Lorcan.
“Ya, sebaiknya aku cek untuk memastikannya. Akan sangat bahaya bila kita terkecoh serangan musuh.”
Andressa melangkah perlahan ke arah keberadaan hawa dingin tersebut. Perasaannya menggebu-gebu ingin menangkap segera orang yang mengeluarkan hawa dingin itu. Akan tetapi, ia terlambat, hawa dinginnya mendadak lenyap dari istana.
__ADS_1
‘Dia berhasil kabur. Aku yakin dia kemari untuk memastikan situasi istana saat ini. Aku harap aku bisa segera menemukan dalangnya. Aku sudah tidak bisa lagi menekan emosiku yang bergetar di diriku.’