
Andressa benar-benar sudah muak. Entah sampai kapan Miria akan mengelak dari kesalahannya. Maka dari itu, Andressa tidak punya pilihan lain selain membuat Miria mengaku secara paksa.
“Lancang sekali mulutmu. Reputasiku tidak tercoreng! Jangan berbicara sembarangan!” Nada suara Miria mulai bertambah tinggi.
“Benarkah begitu?” Andressa menyeringai. “Bukankah kau selalu menjadi perbincangan akhir-akhir ini karena kau melabrak wanita-wanita yang berinteraksi dengan tunanganmu? Semua orang menganggapmu gila karena terlalu berlebihan. Bahkan, salah satu rekan bisnis Gibson membatalkan kerja samanya akibat ulah kecemburuanmu sendiri. Kau ini memang tidak pernah sadar diri ya.”
Kedua bola mata Miria melebar menahan marah, kedua tangannya terkepal erat.
“Omong kosong apa lagi ini? Kau tampaknya senang sekali memfitnahku. Apa kau sebegitu irinya karena aku berhasil bertunangan dengan tuan muda ahli waris Duke Fidel? Aku tahu kau menyukai tunanganku sejak lama, tetapi sayangnya akulah yang berhasil memikat—”
“Aku tidak mau mendengar celotehan tak bergunamu. Pria semacam dia tidak pantas bersanding denganku. Lagi pula sampah lebih cocok ditakdirkan bersama sampah.”
__ADS_1
Andressa tersenyum lebar di wajah tak berdosa. Sarkasan Andressa membuat Miria naik pitam. Sekarang seluruh citranya sebagai gadis lemah lembut seketika hancur karena Andressa. Miria tidak lagi mementingkan bagaimana orang akan menilainya setelah ini.
“Beraninya kau menghinaku! Dasar wanita sialan!”
Miria mengangkat tangannya, ia hendak melayangkan tamparan ke pipi Andressa. Akan tetapi, Andressa cepat menangkap pergelangan tangan Miria menahan ayunan tamparan itu menyakiti wajahnya.
“Mau menamparku? Kau tidak bisa melakukannya sebab kau yang aku tampar terlebih dahulu!”
Andressa menampar pipi Miria berulang kali. Dia membuat gadis itu tersungkur ke permukaan lantai seraya menekan rasa sakit yang ia terima. Tentu saja Andressa belum puas, tetapi setidaknya sebagian emosinya telah tersalurkan.
Tampak jelas bahwa Miria tengah ketakutan. Aura membunuh Andressa mengintimidasi dirinya. Kala itu ia nyaris tak bisa bernapas secara normal seusai menerima tamparan serta menatap sorot mata kemarahan Andressa.
__ADS_1
“Apa yang sedang kau pikirkan? Mungkinkah kau mulai takut? Bukannya kau anak bangsawan? Seharusnya situasi semacam ini bukanlah sesuatu yang dapat mengancam posisimu. Sekarang aku datang ke sini meminta pertanggungjawabanmu, tolong ganti rugi seluruh bagian klinik yang terbakar,” ujar Andressa bersuara lantang hingga seluruh orang dapat mendengarnya.
“Memangnya kau punya bukti kalau aku yang membakar klinikmu? Jika kau menudingku, seharusnya kau sudah punya bukti. Coba kau tunjukkan bukti yang valid.”
Miria menantangnya. Sungguh sesuatu yang telah dia duga sejak awal. Andressa mengeluarkan sebuah bros mawar biru lalu melemparnya ke arah Miria.
“Itu milikmu kan? Aku menemukannya di lokasi kebakaran. Beberapa waktu lalu aku sering melihatmu memakai bros itu. Mustahil brosnya berjalan sendiri ke klinikku kan?”
Miria terperanjat kaget, ia membeku seperti patung. Benar bros itu punya dia dan dia kehilangan brosnya saat melakukan rencana pembakaran klinik Andressa.
“Mana mungkin itu milikku. Bisa saja milik orang lain yang brosnya sama dengan punyaku,” elak Miria.
__ADS_1
“Benarkah? Kalau begitu, tolong keluarkan brosmu sekarang juga agar aku bisa melihatnya langsung.
“Brosnya tertinggal di mansion. Jadi, aku tidak bisa memperlihatkannya padamu.”