
Gibson sontak tersadar. Andressa sangat sulit luluh mendengar mulut manis Gibson yang penuh kebohongan.
Pria yang selalu tebar pesona dan membuat banyak wanita berharap padanya. Bagaimana Andressa bisa mempercayainya? Lagi pula Andressa tidak punya keinginan menjalin hubungan dengan pria lain, terutama pria seperti Gibson.
"Apa tidak ada harapan untukku?" tanya Gibson menekuk ekspresinya.
"Tidak. Sama sekali tidak ada. Aku mau kau lenyap dari kehidupanku. Jangan kau kira di masa lalu aku menyukaimu lalu aku harus menyukaimu lagi di masa ini. Aku sungguh membenci pria sepertimu."
Andressa berkata sangat lembut, tetapi terdengar menyakitkan dan menusuk di hati Gibson. Pertama kali seumur hidupnya dia merasakan pedih di hati akibat penolakan dari wanita.
"Tolong beri aku satu kesempatan. Aku berjanji akan berubah. Aku mohon, Andressa ...." Gibson tak menyerah begitu saja.
"Aku tidak mau. Jangan paksa aku untuk menerimamu. Sekarang tolong keluar dari sini. Kau sudah mendengar jawaban dariku dan tidak ada yang perlu kau pertanyakan lagi," ujar Andressa mengusir Gibson.
__ADS_1
Andressa membuang muka sambil memutar badan. Dia tidak lagi peduli tentang keberadaan Gibson di sana.
"Andressa, jangan pergi dulu! Aku belum selesai. Aku takkan menyerah, sampai kapan pun aku akan memohon padamu. Meskipun harus berlutut di bawah kakimu, aku tetap memintamu memberi kesempatan kepadaku. Aku sungguh menyukaimu, aku hanya ingin menikahimu."
Gibson mencengkeram pergelangan tangan Andressa. Dia pantang menyerah sampai Andressa setuju memberinya kesempatan.
"Kau ini keras kepala sekali. Aku sudah bilang kalau sampai kapan pun aku tidak akan memberimu kesempatan. Jangan berharap lebih, bajing*n! Pria semacammu sangat banyak berserak di tepi jalan. Sungguh menjijikkan!"
Andressa menyentak tangan Gibson lalu bergerak pergi meninggalkan Gibson yang sedang berlinang air mata.
"Berhenti! Aku tidak mau mendengar suaramu lagi dan jangan mengikutiku! Silakan keluar dari klinikku sebelum aku mengusirmu paksa. Perhatikan juga sikapmu, Gibson. Besok kau resmi menjadi tunangan si jal*ng itu," sergah Andressa sekali lagi mengusir Gibson.
Kali ini Gibson membisu di tempat. Mulutnya terbungkam dan tak sanggup berkata-kata.
__ADS_1
"Andressa ... maaf ...." Suara Gibson terdengar lirih dan tidak sampai ke telinga Andressa.
Gibson pun akhirnya memilih menyerah berbicara dengan Andressa. Sekarang dia harus kembali ke mansion untuk mempersiapkan hari esok. Jika ayahnya tahu dia ada di klinik Adista, dia pasti akan dimarahi habis-habisan. Akan tetapi, Gibson tidak peduli. Dia hanya mempedulikan dirinya agar bisa berbicara dengan Andressa walau hanya sejenak saja.
Pada sore hari, Andressa sedang beristirahat di ruang pribadinya. Tiba-tiba saja surat dari istana kekaisaran datang. Surat tersebut berasal dari Lorcan. Selain surat, ada juga sebuah gaun beserta aksesoris dan sepasang high heels.
"Dari Lorcan? Biar aku baca dulu suratnya. Kira-kira mengapa dia mengirim ini padaku?"
Andressa membaca surat dari Lorcan. Seketika gadis itu tampak riang dan tersipu malu.
"Lorcan ingin aku menjadi partnernya. Jadi, besok aku tidak datang sendiri, melainkan bersama Lorcan. Mengapa jantungku malah berdetak kencang begini? Tenanglah, Andressa, ini hanya sekedar partner biasa untuk menghadiri pesta pertunangan pria dan wanita bajing*n itu."
Andressa bergumam sambil mengatur irama napas. Tidak lupa ia menekan detak jantungnya agar kembali normal seperti sedia kala.
__ADS_1
"Ahh, sial! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku. Jantungku tidak bisa berhenti berdegup cepat."