
Andressa mengusap mulut seraya menyipitkan mata memandang Lion. Sedikit kesal sebab Lion selalu muncul secara tiba-tiba di kala ia sedang menikmati suasana sekitar. Ditambah saat ini Lion memarahinya atas dasar kesalahan yang tanpa sengaja ia lakukan.
"Kenapa aku tidak boleh mengatakannya? Bukankah lebih banyak orang tahu, maka itu akan semakin baik? Aku tidak bisa menahan diri lama-lama. Terlebih lagi harus mencari alasan untuk berbohong perihal fenomena aneh yang mereka lewati beberapa waktu belakangan ini," tutur Andressa mengoceh panjang lebar.
Lion menggeleng-geleng. Gadis ini jauh lebih sulit diatur dari yang dia pikirkan. Mungkin ini juga bagian dari kesalahannya.
"Tidak bisakah kau menurut saja? Kau bayangkan bila manusia biasa mengetahui kondisi alam semesta saat ini, bisa-bisa bertambah banyak penjahat yang merajalela. Sekarang saja aku sudah repot, apalagi nanti jika manusia lebih sering berperan sebagai pengacau dunia."
Andressa tampak tak peduli. Tiada guratan rasa bersalah tergambar dari raut mukanya.
"Ya sudah, terserah kau saja. Lalu bagaimana dengan mereka? Aku terlanjur berbicara soal sihir," ucap Andressa.
"Aku akan menghapus ingatannya sekaligus ingin membantu Lorcan untuk menyeimbangkan aliran mana di tubuhnya. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan saat ini."
Andressa menghela napas kasar.
"Baiklah, lakukan saja sesuka hatimu. Aku hanya menjadi penonton dari belakang." Respon Andressa sedikit terdengar ketus.
__ADS_1
Lion melirik tajam Andressa.
"Ada apa dengan dirimu? Apa kau sudah bosan hidup?"
Andressa membalas lirikan Lion.
"Kau masih sanggup bertanya seperti itu?" Ekspresi Andressa berubah kesal. "Aku memang sudah sangat bosan menjalani hidup. Kapan aku akan mati? Tolong jangan membuatku terlalu lama tinggal di dunia ini. Aku tak mau harus menjalani kehidupan yang berbeda setiap saat selama lebih ratusan tahun lamanya."
Lion pun menjawab, "Aku paham itu. Sekarang berhentilah protes kepadaku. Bukankah sebelumnya sudah ada perjanjian di antara kita? Kau harus membantuku, setelahnya kau akan aku bantu untuk mengakhiri segala penderitaan hidupmu."
"Oh benar juga. Kau harus menepati janjimu."
"Iya, jangan khawatir soal itu."
Andressa mencoba menghilangkan ketegangan di hati.
"Bagus kalau begitu. Aku menunggu janji darimu sesudah ini semua selesai. Aku akan tutup mulut sementara waktu."
__ADS_1
"Jika seperti itu, maka aku akan menghapus ingatan kedua orang ini supaya mereka tidak mengingat apa yang bicarakan sebelumnya," kata Lion.
"Terserahmu saja. Memang lebih baik kau menghapus ingatan mereka. Dan juga tolong jalankan kembali waktu seperti semula. Aku sangat pusing menyaksikan aliran waktu tiba-tiba berhenti."
Lion menjentik jemari. Dia menuruti perkataan Andressa. Akhirnya, waktu pun berjalan lagi. Ingatan mereka telah dihapus oleh Lion.
"Aku pamit sekarang. Nanti tolong kau cek ulang tempat mereka terluka alias medan perang mereka sebelumnya untuk memastikan keberadaan benda itu."
Andressa hanya mengangguk. Kemudian Lion segera menghilang dari hadapan pandang Andressa.
Di saat itu, Lorcan dan Jason terlihat kebingungan. Mereka berdua saling bertukar pandang.
"Apa yang tadi sedang kita bicarakan? Aku lupa," tanya Lorcan.
Jason mengedikkan bahu.
"Saya tidak tahu, Yang Mulia. Rasanya tadi kita sedang berbicara masalah serius." Jason berpikir sejenak, tetapi ia tak menemukan jawabannya.
__ADS_1
"Aneh sekali, aku merasa ada yang aku lewatkan," gumam Lorcan.