Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Rumor Kekaisaran Dorton


__ADS_3

Penuturan Lorcan barusan mengundang tanda tanya besar di benak Andressa. Pantas saja dia merasakan kejanggalan begitu menerima undangan tersebut. Rasanya ada yang tidak beres di sini.


“Benarkah? Apa maksud mereka mengirim langsung kepadaku? Aku jadi curiga.” Hal ini menjadi beban pikiran tersendiri bagi Andressa. “Lalu di tahun-tahun sebelumnya kau turun tangan memilih tabib yang menghadiri pertemuan ini?” lanjut Andressa bertanya.


Lorcan mengangguk pelan.


“Iya, aku sendiri yang memilih utusan tabib perwakilan Emilian,” jawab Lorcan.


“Apa ini memang diselenggarakan khusus oleh kekaisaran Dorton? Maksudku, pertemuan tabib ini setiap tahun diadakan di sana?”


“Sebenarnya pertemuan tabib ini baru berlangsung selama tujuh tahun belakangan ini semenjak kaisar Dorton sekarang menjabat.”


Andressa mengangguk paham, ia kembali mengamati surat undangannya.


“Mengapa amplopnya berwarna hitam? Seperti surat ancaman kematian saja,” gumam Andressa.


“Aku juga mempertanyakan hal yang sama sebab selama ini amplop undangannya selalu berwarna putih. Aku jadi khawatir kau pergi ke sana. Haruskah aku menemanimu?”


Tergurat perasaan cemas tertuju pada Andressa. Gadis itu menghargai kekhawatiran Lorcan terhadap dirinya. Namun, ia merasa dapat mengatasi masalah ini meski tanpa bantuan Lorcan.


Kemudian Andressa menjawab, “Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri. Kau cukup mengirim doa untukku. Aku tak ingin kau meninggalkan pekerjaanmu demi menemaniku ke sana.”


Sudah diduga Lorcan kalau Andressa pasti menolak tawarannya. Dia tidak bisa memaksa Andressa agar membawanya pergi bersama.


“Baiklah kalau begitu. Sekarang aku pamit, sudah waktunya aku kembali ke istana. Nanti aku akan mengabarimu lagi lewat surat. Jangan lupa membalas suratku.”


Lorcan berpamitan kepada Andressa. Mereka menyudahi pertemuan untuk menyelesaikan urusan masing-masing. Setelah melihat kereta kuda Lorcan menjauh dari klinik, Andressa memutuskan pergi ke ruang kerja dan membawa surat undangan dari kekaisaran Dorton. Dia ingin menyelidiki lebih lanjut perihal kekaisaran tersebut.


“Amelia, apa kau pernah mendengar desas-desus kurang enak soal kekaisaran Dorton dan kaisar yang memerintah saat ini?” Andressa mencoba mengorek informasi dari Amelia beserta bawahannya yang lain.


“Kekaisaran Dorton? Saya pernah mendengar rumor buruk tentang kaisar saat ini. Rumor itu mengatakan bahwa kaisar Dorton sekarang selalu memperbudak rakyatnya. Kesenjangan sosial di sana terasa lebih curam dibanding Emilian dan kekaisaran atau kerajaan lain. Lalu ada satu rumor lagi yang beredar,” jelas Amelia.


“Rumor apa itu?”


Amelia tampak ragu-ragu mengatakan kepada Andressa. Dia menoleh kiri kanan untuk memastikan tidak ada orang selain mereka berdua.


“Katanya banyak tabib yang tidak kembali seusai melakukan kunjungan pertemuan. Dan tidak jarang juga tabib yang kembali dalam keadaan linglung bahkan sampai gila. Anehnya, tabib-tabib yang menghilang itu selalu berasal dari kerajaan dan kekaisaran kecil. Untung saja perwakilan Emilian tak pernah mengalami hal itu.”


Andressa tersentak kaget. Tidak menyangka ada rumor seperti itu beredar. Ke mana saja si pemilik tubuh selama ini sampai tidak ada satu pun informasi perihal kekaisaran Dorton?


Andressa pun membuang napas berat sebelum merespon penjelasan Amelia.


“Ternyata rumornya seburuk itu. Mengapa tidak ada yang menindak atau menyelidiki masalah ini?”


“Sebenarnya beberapa pihak sudah mencoba mencari tahu, tetapi mereka tidak mendapatkan bukti apa pun. Kekaisaran Dorton selalu memberi alasan bahwa tabib-tabib yang menghilang itu mungkin saja dimangsa oleh binatang buas karena kekaisaran Dorton dikelilingi oleh hutan belantara.”


Semakin terasa janggal. Seluruh informasi yang dibeberkan Amelia kian menunjukkan bahwasanya memang ada yang tidak beres di sini. Andressa jadi semakin bertanya-tanya seperti apa wujud dari kaisar Dorton dan seperti apa kehidupan di sana. Rasa penasarannya amat mengusik pikirannya.


“Seharusnya semua orang bisa sadar dengan alasan yang tidak masuk akal itu. Apa memberikan bukti nyata kalau para tabib yang menghilang benar-benar diterkam binatang buas?”


Amelia menggeleng.


“Tidak, Nona. Mereka tidak memberi bukti apa pun. Pihak Dorton sendiri bersikeras mengatakan bahwa mereka mengatakan yang sejujurnya. Lagi pula tidak ada alasan bagi pihak luar mencurigai mereka sebab reputasi Dorton sangat bagus di mata orang luar terlepas dari kesenjangan ekonomi dan sosial yang dialami,” tutur Amelia, dia punya informasi yang sangat rinci.

__ADS_1


“Memangnya apa yang pihak Dorton lakukan sampai orang-orang tidak menaruh curiga terhadap mereka?” Andressa bertanya sekali lagi sebab rasa penasarannya semakin bercabang di kepala.


“Pihak Dorton seringkali menyumbangkan dan membantuk memasok bahan-bahan pembuatan obat. Ada banyak sekali nyawa yang tertolong karena hal tersebut. Maka dari itulah kekaisaran Dorton amat dihormati semenjak kepemimpinan kaisar saat ini.”


“Ternyata begitu? Baiklah, aku pikir aku sudah mendapatkan seluruh informasi yang aku ingin tahu. Terima kasih, rupanya kau punya informasi yang sangat berguna,” kata Andressa langsung melanjutkan aktivitasnya meracik obat.


Amelia menatap lekat Andressa. Tumben sekali atasannya menanyakan informasi mengenai kekaisaran lain. Biasanya dia terlihat tidak pernah menunjukkan keingintahuan tentang kerajaan atau kekaisaran di luar Emilian.


“Mengapa Anda tiba-tiba bertanya soal kekaisaran Dorton? Apa Anda tersandung masalah dengan pihak Dorton?” Amelia menduga-duga dan membayangkan kejadian buruk yang belum pasti.


“Tidak, aku mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan tabib di sana sebulan lagi. Makanya aku ingin mendapatkan info tentang kekaisaran Dorton,” jawab Andressa.


Amelia sontak ternganga dan menutup mulut.


“Hah? Anda diundang ke sana? Ya ampun, Nona, ini sangat aneh! Bukankah perwakilan tabib menghadiri pertemuan itu selalu ditentukan oleh kaisar? Saya menjadi khawatir. Sebaiknya, Anda tidak usah menghadirinya, Nona. Saya sendiri tidak percaya sepenuhnya kepada pihak Dorton.”


Andressa tersenyum tipis. Beruntung dia mempunyai bawahan yang begitu mempedulikan nasibnya.


“Tenang saja, aku bisa mengatasi apa pun kesulitan yang mungkin terjadi nanti. Simpan rasa khawatirmu itu, percuma saja kau mencemaskan aku.”


Amelia menghela napas panjang. Andressa memang sulit untuk dicegah mengambil keputusan yang sembarangan seperti ini. Dia gadis yang keras kepala dan selalu percaya terhadap kemampuan diri sendiri.


“Baiklah, Nona. Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk terjadi menimpa Anda. Saya selalu berdoa untuk keselamatan Anda di mana pun dan kapan pun itu.”


***


Leyna tampak gelisah di istana kediamannya. Dia tak berhenti mondar-mandir di kamar seperti ada yang sedang mengusik pikirannya.


Kemudian dia mendudukkan diri di atas sofa sembari berpikir panjang. Seberapa banyak pun usahanya menghancurkan hubungan Andressa dan Lorcan, semuanya percuma saja. Mereka berdua selalu punya cara menggagalkan rencana Leyna. Tingkat kewaspadaan keduanya berada pada level yang berbeda sehingga sangat sulit menerkam mereka dari belakang.


Di tengah keresahannya, tiba-tiba ia mendapatkan panggilan dari kaisar Dorton. Tepat sekali pria itu menghubungi di saat-saat seperti ini.


“Kenapa kau baru menghubungiku? Aku berada dalam jurang kegelisahan dan kau tak memberiku ide apa pun saat ini.” Leyna langsung menyerang Thales – sang kaisar Dorton dengan omelannya.


“Beraninya kau memarahiku, padahal di sini aku punya posisi lebih tinggi darimu. Sebaiknya segera tutup mulutmu sebelum aku potong lidahmu.”


Leyna tersentak. Tubuhnya mendadak membeku dan merinding mendengar suara dingin Thales. Baru kali ini pria itu memarahinya, biasanya dia tak menganggap serius celotehan Leyna. Sepertinya ini efek dari suasana hatinya yang kurang bagus.


“Kenapa kau tiba-tiba memarahiku? Apa yang terjadi padamu?”


Terdengar helaan napas panjang Thales, pikirannya benar-benar sedang kacau sekarang.


“Aku sedang ada masalah di sini. Aku menghubungimu karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” ucap Thales.


“Apa yang mau kau katakan?” Leyna tampak lebih berhati-hati dalam berbicara sebab ia takut akan diamuk oleh Thales.


Thales diam sepersekian detik lalu terdengar dari seberang sana bawahannya sedang berbicara dengannya. Leyna berupaya menunggu dengan sabar meski rasanya ingin marah karena dipaksa menunggu Thales selesai berbincang.


“Leyna, aku mengerti kau sedang gelisah, tetapi ada sesuatu yang perlu kau ketahui. Aku telah mengirim undangan kepada gadis yang bernama Andressa itu. Satu bulan lagi mungkin dia akan datang menghadiri pertemuan tabib di sini. Aku akan membuatnya tak bisa kembali hidup-hidup ke Emilian. Jadi, sementara waktu bisakah kau memberinya pelajaran kecil dan mengusahakan agar pertunangan dia dengan putramu tertunda?”


Perkataan Thales barusan menjadi angin segar bagi Leyna. Kegelisahannya seketika lenyap tak bersisa.


“Itu artinya, dalam waktu satu bulan kau bisa melenyapkannya? Bagus! Dengan begini aku bisa fokus pada tujuan awalku. Serahkan saja padaku, aku akan membatalkan pertunangannya dengan Lorcan. Kau cukup habisi saja nyawa wanita itu nantinya. Tolong jangan biarkan dia berhasil meloloskan diri dari maut.”

__ADS_1


Thales terkekeh. Suara tawanya sekilas terdengar seperti seseorang yang percaya diri bahwa rencananya mungkin bisa benar-benar berhasil membunuh Andressa. Baginya, Andressa bukanlah ancaman besar karena dia belum melihat langsung kemampuan gadis itu.


“Kau meremehkanku? Ya, kau tunggu saja sambil duduk manis di sana. Kau cukup mendengar laporan keberhasilanku membantai gadis itu. Sekuat apa pun dia, tidak mungkin dia lebih kuat dariku.”


Leyna tersenyum seringai. Harapan baru mengisi kepalanya kala itu.


‘Benar juga, dia tak mungkin bisa mengalahkan Thales. Bagaimana pun dia hanya seorang wanita lemah. Dia hanya beruntung bisa menghindari kematian yang telah aku rencanakan selama ini.’


Otak Leyna diwarnai oleh imajinasi-imajinasi kematian Andressa. Tanpa dia ketahui bahwasanya Andressa tidaklah semudah itu mereka jatuhkan. Apa mungkin nanti segala rencana buruk mereka malah menyerang balik diri mereka masing-masing? Kemungkinan besarnya seperti itu.


“Aku percaya padamu. Kita sudah bekerja sama selama bertahun-tahun. Aku yakin kau dapat menyingkirkan wanita itu dari jalanku. Aku akan menunggu sebentar sampai aku mendapat kabar kematian Andressa. Tinggal selangkah lagi sampai aku berhasil menduduki takhta kaisar Emilian.”


“Ya, aku pastikan nanti mengirim kepala gadis itu padamu. Dengan Emilian yang berhasil kau kuasai, berarti tujuanku hampir tercapai sepenuhnya. Ingatlah tugasmu, Leyna, hancurkan pertunangan mereka. Aku tidak mau mendengar kalau kau gagal menggagalkan pertunangan mereka,” ujar Thales menekan Leyna.


“Aku akan mengusahakannya. Tenang saja, harap tunggu kabar dariku.”


***


Tepat beberapa hari menjelang diselenggarakannya upacara pertunangan Andressa dan Lorcan, terjadi perseteruan antar para bangsawan di ruang rapat istana. Mendadak para bangsawan banyak yang melayangkan protes seusai duke Fidel mengajukan lamaran pertunangan putrinya dengan Lorcan. Sebagian bangsawan membelot mendukung pertunangan Camille dan Lorcan sebab Camille dinilai lebih pantas menjadi permaisuri dibanding Andressa.


Suasana kian memanas. Saat ini terbagi dua kubu di satu tempat. Pertama, kubu pendukung Andressa. Kedua, kubu pendukung Camille. Mereka saling berdebat meributkan perihal siapa yang cocok menjadi ibu dari kekaisaran ini di masa depan.


“Yang Mulia, mohon dipertimbangkan kembali keputusan Anda menikahi viscountess Erriel! Seharusnya Anda memilih nona dari keluarga duke Fidel saja supaya kehormatan Anda tetap terjaga,” ucap Count Ewald bersikeras.


“Benar, Yang Mulia. Tidak ada salahnya Anda bertunangan dengan nona Camille. Beliau cantik dan terkenal oleh keramahannya di pergaulan sosial. Selain itu, beliau paham mengenai etiket istana serta mempunyai sikap anggun.”


“Berbeda dengan viscountess Erriel yang kadang selalu seenaknya saja. Dia juga tidak punya sikap anggun seperti nona Camille. Kita harus menjaga Emilian agar tak terkena rumor buruk. Apa Anda akan membairkannya saja bila nama kekaisaran Emilian tercoreng akibat Anda menikahi gadis berdarah rakyat jelata itu?”


Kubu pendukung Camille benar-benar heboh dan berusaha memojokkan kubu pendukung Andressa. Mereka merendahkan Andressa atas dasar garis keturunannya sebagai rakyat jelata. Sungguh membuat jengkel sebab mereka menolak sadar kemampuan luar biasa Andressa dalam bidang ilmu medis sekaligus kemampuan bela diri mengendalikan aether.


Duke Fidel hanya tersenyum tenang di tempat duduknya seraya menikmati perdebatan yang tak kunjung terhenti. Dia percaya diri kalau mungkin saja ia bisa memenangkan hati Lorcan demi menjadikan sang putri sebagai permaisuri.


“Apa-apaan kalian ini?! Mengapa kalian mempermasalahkan garis keturunan viscountess? Hei, apa mata kalian buta? Justru kontribusi beliau jauh lebih besar dari nona Camille demi menyejahterakan rakyat. Memangnya nona Camille sudah melakukan apa saja selama ini? Beliau hanya duduk berdiam diri sambil bermanja-manja dengan orang tuanya. Kalian pikir itu saja cukup untuk menjadi permaisuri?” Viscount Kaidan akhirnya meledak.


“Ya, itu benar! Viscountess Erriel mempunyai kelebihan yang bahkan tak dimiliki nona Camille. Selain tabib berkemampuan hebat, beliau tahu banyak perihal etiket bangsawan dan istana. Beliau juga punya wawasan luas, ketegasan, serta tak bergantung kepada kaisar,” imbuh baron Yerland ikut merasakan kekesalan.


“Kalian menolak sadar kan? Ah, mungkinkah duke Fidel menghasut kalian supaya menentang pertunangan kaisar dan viscountess Erriel?” Marquess Gencio angkat suara, perkataannya menembak langsung duke Fidel.


Kala itu duke Fidel seketika naik pitam karena merasa tersindir. Dia dan marquess Gencio memang tidak pernah sejalan sedari dulu sehingga tidak salah mengapa keduanya saling berdebat sepanjang waktu tatkala mengadakan rapat di istana.


“Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba kau menyindirku? Marquess, aku tidak pernah menghasut siapa pun di sini. Memang kenyataannya bukan? Putriku jauh lebih pantas mengemban gelar permaisuri. Dia punya darah murni bangsawan. Berbeda dengan gadis rakyat jelata itu. Akan lebih menguntungkan bagi kaisar bila beliau menikahi putriku,” balas duke Fidel menahan dirinya agar tidak meledak.


“Benarkah begitu?” Marquess Gencio menyeringai. “Aku tidak percaya karena para bangsawan mendadak membelot menentang pertunangan ini sesudah Duke menyerahkan lamaran pertunangan kepada kaisar. Aku pikir ada yang salah di sini.”


“Kurang ajar!” Duke Fidel menggebrak meja. Amarahnya tak tertahankan lagi. Dia gelap mata oleh emosi sesaat. “Jangan coba-coba menudingku sembarangan. Posisimu tak jauh lebih tinggi dariku, jadi tolong hormati aku! Memangnya kau pikir bisa menang melawanku? Jangan harap! Jangan pernah berpikir bahwa kau bisa menginjak-injakku!”


Duke Fidel mengatur irama napas kembali. Lorcan hanya diam menyaksikan kegaduhan di tengah rapat tersebut. Sebenanya ia tak mau mengadakan rapat sebab ia terlau malas menonton perdebatan bangsawan. Akan tetapi, karena ini menyangkut pertunangannya, jadi ia memutuskan mengadakan rapat bersama bangsawan.


“Tolong hentikan! Tutup mulut kalian semuanya! Biar aku yang berbicara!” Lorcan pun muak, ia berteriak marah di ruang rapat. Tak tahan lagi mendengar perselisihan yang tak berguna.


Ruang rapat menjadi hening, tiada lagi terdengar para bangsawan yang beradu mulut. Lorcan sedikit lebih tenang karena atensi berhasil ia ambil alih.


“Kalau hening begini kan lebih bagus. Aku jadi bisa berbincang sesuka hatiku. Sangat disayangkan kalian meributkan keputusan yang telah aku tetapkan. Terutama kau, Duke Fidel!” Lorcan menyorot tajam duke Fidel. “Bagaimana kau bisa sebegitu percaya dirinya bisa mengubah keputusanku dari beberapa waktu sebelumnya? Aku tidak habis pikir sama sekali.”

__ADS_1


__ADS_2