
Suasana di klinik Glory terlihat sangat gaduh. Terjadi keributan antara Viscount Kaidan dengan para tabib. Di sisi lain ruangan, tampak Viscountess Kaidan dalam keadaan hamil tengah merintih kesakitan.
“Omong kosong apa yang sedang kalian bicarakan? Kalian tidak bisa membantu istriku melahirkan?! Lalu apa maksudnya jika ingin diselamatkan, maka aku harus merelakan bayiku mati?!”
Emosi Viscount Kaidan tak lagi terbendungkan seketika mendengar para tabib tidak ada yang bisa mengatasi permasalahan ini. Chris yang saat ini bertugas kewalahan menghadapi emosi Viscount Kaidan.
“Jika Anda tidak menanganinya langsung, maka nyawa Viscountess juga tidak bisa diselamatkan. Tolong pikirkan baik-baik, Tuan. Kami para tabib tidak bisa melakukan tindakan lain selain ini.”
Viscount Kaidan mengacak-acak rambutnya. Dia melirik ke arah sang istri yang berada di antara hidup dan mati. Kemudian sebelum memberi jawaban, Viscount Kaidan mendekati istrinya terlebih dahulu untuk berbincang singkat.
“Aku tidak mau anak kita mati. Tolong carikan solusi lain supaya anak kita selamat. Kita sudah menunggu selama tiga tahun, aku tidak mau menunggu lagi,” ucap Viscountess Kaidan dengan suara teramat pelan.
“Jangan berbicara lagi, kondisimu masih lemah. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkan anak kita. Jadi, aku mohon, bertahanlah sebentar.”
“Aku percaya padamu, aku yakin kau takkan membiarkan anak kita mati begitu saja.”
Chris menghampiri Viscount Kaidan untuk meminta kepastian mengenai keputusannya.
“Bagaimana, Tuan? Kita tak punya waktu lagi. Usia kandungan Nyonya masih delapan bulan, tidak mungkin anaknya bisa lahir dengan selamat jika seperti ini,” ujar Chris.
Viscount Kaidan tertunduk. Dia harus mendapatkan solusi terbaik untuk menangani kehamilan istrinya. Sepersekian detik kemudian, dia tiba-tiba teringat dengan perkataan Marquess Gencio.
__ADS_1
“Istriku melahirkan dibantu oleh tabib Andressa. Beliau punya kemampuan berbeda dari tabib lain dan dirumorkan sebagai tabib pemilik tangan ajaib.”
Viscount Kaidan refleks mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dia menemukan setitik cahaya untuk menyelamatkan istri dan anaknya.
“Benar. Aku akan meminta tolong kepada tabib Andressa saja. Aku yakin dia bisa membantu istri dan anakku,” gumam Viscount Kaidan.
Tanpa berlama-lama, dia langsung menggendong Viscountess Kaidan ke dalam kereta. Sontak para tabib dibuat terkejut olehnya.
“Tuan, ke mana Anda akan membawa Nyonya?”
“Kondisi Nyonya sedang tidak baik. Tolong jangan lakukan hal yang membahayakan Nyonya!”
“Aku akan membawanya kepada tabib Andressa. Apa pun yang terjadi, aku takkan pernah mengorbankan anakku!”
Setelah mengatakan itu, Viscount Kaidan menyuruh sang kusir untuk segera berangkat ke wilayah Selion. Para tabib hanya terdiam begitu mendengar nama Andressa terucap dari mulut Viscount Kaidan.
“Apa baru saja Viscount mengatakan ingin membawanya kepada tabib Andressa?”
“Sehebat apa pun kemampuannya, tidak mungkin dia bisa menyelamatkan bayinya. Sungguh keputusan yang bodoh membawa istrinya ke klinik Andressa.”
Sementara itu, Andressa saat ini disibukkan oleh beberapa pasien yang menderita demam. Hal ini disebabkan oleh perubahan cuaca yang akhir-akhir ini terjadi secara tak berketentuan. Kebanyakan yang demam adalah anak kecil.
__ADS_1
“Coba buka mulutmu.” Andressa meminta seorang anak kecil yang dia periksa untuk membuka mulut.
“Tidak, aku tidak mau. Jangan paksa aku minum obat! Rasanya sangat tidak enak!”
Saat ini Andressa sedang berusaha untuk memberikan obat kepada anak itu. Orang tuanya kesulitan membuatnya minum obat sehingga mereka meminta tolong agar Andressa saja yang menyuapi obat tersebut padanya.
“Jangan takut. Obatnya manis rasa stroberi.” Andressa masih mencoba membujuknya baik-baik.
“Rasa stroberi? Jadi, obatnya manis?”
“Iya. Tidak bisakah kau lihat warnanya merah muda? Ini sangat manis dan tidak pahit. Ayo sekarang buka mulutmu.”
Setelah bersusah payah membujuknya, akhirnya anak itu mau menurut dan membuka mulutnya.
“Wah, benar! Ini sangat manis. Ibu, obatnya tidak pahit. Kalau seperti ini, aku takkan menolak minum obat,” ucap sang anak kepada Ibunya.
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Nona, saya baru pertama kali melihat obat dengan rasa yang manis. Anda benar-benar seorang tabib yang luar biasa.”
Seusai menyelesaikan pengobatan dan pemeriksaannya, Andressa hendak beristirahat dan menghirup napas segar sejenak. Akan tetapi, dia terpaksa menunda waktu istirahatnya sesaat melihat Viscount Kaidan datang.
“Nona, tolong selamatkan istri dan anak saya!”
__ADS_1