
Andressa mulai muak. Panggilannya tidak ditanggapi sama sekali oleh penduduk Selion. Pada akhirnya, dia pun pun mendobrak pintu rumah sampai rusak.
"Sialan! Cepat keluar kalian! Jangan terlalu lama menanggapi penawaranku."
Penghuni rumah yang pintunya didobrak Andressa sontak kaget melihat gadis itu tiba-tiba menyelonong masuk begitu saja.
"Hei, kenapa kalian malah bersembunyi di sana?! Kemari cepat! Biar aku lihat separah apa penyakit kalian itu!"
Semakin Andressa mencoba menarik mereka keluar, semakin pula mereka menyembunyikan diri dari Andressa. Alhasil, gadis itu terpaksa turun tangan sekali lagi. Dia menarik paksa salah seorang wanita dari belakang lemari.
"Mengapa kalian sulit sekali disuruh keluar? Ayo biar aku periksa," ucap Andressa memaksa.
"Nona, tolong jangan pegang tangan saya. Anda akan tertular jika Anda menyentuh saya," ujar wanita itu khawatir.
"Tenang saja, aku takkan mudah tertular penyakit ini. Tolong duduk sebentar, aku akan segera mengecek kondisimu."
__ADS_1
Andressa menyalakan lampu supaya ia bisa melihat lebih jelas lagi kondisi wanita tersebut. Setelahnya, ia membuka seluruh jendela agar udara luar masuk ke dalam ruangan.
"Sudah berapa lama kau menderita sakit ini?" tanya Andressa.
"Sekitar tiga tahun. Apakah Anda tidak jijik atau takut melihat tubuh saya? Padahal semua orang dari luar pasti akan mual jika berada di dekat kami karena tubuh kami mengeluarkan bau tidak sedap."
Andressa bereaksi biasa saja ketika menyentuh kulit wanita itu tanpa sarung tangan. Dia juga tidak jijik sedikit pun atau sampai merasa mual.
"Aku sudah terbiasa menangani pasien. Tenang saja, aroma tubuhmu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan selama ini. Terima kasih karena kau sudah mau bertahan."
Kemudian anak dan suami wanita itu keluar dari tempat persembunyia. Mereka berdua dipanggil oleh wanita itu untuk segera diperiksa Andressa.
"Kemarilah! Nona ini sangat baik. Biarkan beliau memeriksa kita."
Pada akhirnya, mereka bertiga diperiksa bersamaan oleh Andressa. Firasat Andressa mengatakan sesuatu yang aneh soal penyakit yang diderita mereka.
__ADS_1
'Penyakit ini ... sudah aku duga, ini bukan penyakit yang diderita secara alami melainkan ada hal yang menjadi penyebabnya. Sementara aku mencari penyebabnya, aku akan memberi mereka penawar rasa sakit terlebih dahulu.'
Sesudah itu, Andressa mengambil jarum suntik. Dia telah memesan banyak jarum suntik dari Aldan dan Matheus.
Di dalam jarum suntik tersebut, terdapat cairan obat penawar rasa sakit. Untung saja Andressa telah meracik banyak stok obat untuk dia gunakan.
"Tolong tahan sebentar. Aku akan memberi kalian penawar rasa sakit."
Mereka tampak biasa saja ketika jarum suntik menembus masuk ke kulit mereka. Hal ini dikarenakan mereka sudah biasa merasakan sakit melebihi tusukan jarum.
"Aku hanya bisa memberi obat ini sekarang. Aku janji akan segera menemukan cara mengobati kalian," ucap Andressa.
"Apakah penyakit kami ini kutukan, Nona?" tanya suami wanita tersebut.
Andressa menggeleng pelan. "Itu bukan kutukan. Penyakit ini adalah penyakit kulit, kemungkinan kalian terjangkit penyakitnya dari luar. Nanti aku akan menyelidiki wilayah ini terlebih dahulu. Sampai saat itu, jangan kehilangan semangat hidup. Sebagai seorang tabib, aku tidak mungkin membiarkan kalian mati begitu saja. Kalian paham itu?"
__ADS_1
Mereka saling bersitatap lalu menjawab, "Iya, kami paham, Nona."