
"Yang Mulia! Apa yang terjadi?! Saya mendengar suara gaduh dari kamar Anda."
Jason — kesatria pribadi Lorcan berlari ke kamar Lorcan untuk mengecek kegaduhan di sana. Dia terperanjat kaget ketika melihat ada tumpukan tubuh pembunuh di lantai kamar.
"Astaga ... ini—"
"Jason, beri tahu semua kesatria istana. Segera lakukan patroli dan pemeriksaan di sekitar gedung istana! Mereka adalah pembunuh! Jangan sampai ada di antara mereka yang masih tertinggal atau berhasil kabur dari istana!" Lorcan memberi perintah tiba-tiba.
"Pembunuh? Mereka adalah pembunuh? Baiklah, saya akan memberi tahu para kesatria untuk melakukan patroli. Tunggu sebentar, Yang Mulia! Saya juga akan memanggilkan tabib untuk memeriksa luka Anda."
Malam itu, istana pun dihebohkan karena masalah ini. Ada seseorang yang sengaja menargetkan Lorcan. Mungkin jika Lorcan tidak menahan berita ini, maka seluruh penjuru negeri akan mengetahuinya. Akan tetapi, Lorcan tidak ingin ada orang yang tahu perihal ancaman pembunuhan terhadapnya.
"Katakan kepada semua orang, suruh mereka tutup mulut. Jangan biarkan masalah ini sampai terdengar ke telinga rakyat. Aku tidak mau orang-orang meragukan keamanan istana," titah Lorcan.
"Baik, Yang Mulia."
__ADS_1
Lorcan malam itu juga langsung diperiksa oleh tabib istana. Untungnya saja tidak ada luka parah di tubuhnya. Hanya ada sedikit goresan akibat benda tajam yang tak sempat dihindari olehnya.
"Kira-kira siapa yang menjadi dalang percobaan pembunuhan terhadap Kaisar? Ini bukan masalah kecil lagi. Apabila pihak luar tahu, maka mereka akan termakan rasa khawatir terhadap keamanan Kaisar."
"Iya, bagaimana pun juga kita hidup di tempat di mana peperangan masih sering terjadi. Kekaisaran Emilian menjadi sebesar ini karena Kaisar telah berjuang mati-matian untuk merebut wilayah kekuasaan."
"Seandainya saja Kaisar berhasil dibunuh pihak luar, maka ini akan membuka kesempatan bagi kekaisaran atau kerajaan lain untuk menyerang dan merebut wilayah kekuasaan Emilian."
Begitulah desas-desus antar para penghuni istana. Mereka amat khawatir dengan kondisi Lorcan. Ditambah lagi kaki dan mata Lorcan menjadi penghambat dari pergerakan Lorcan dalam menghadang musuh.
"Tidak bisa seperti ini. Aku harus pulih secepatnya sebelum terlambat."
"Jason, siapkan kereta segera! Aku akan pergi ke wilayah Selion untuk menemui Andressa!"
Jason tanpa berkata-kata lagi langsung mempersiapkan kereta untuk Lorcan. Mereka berangkat pukul tiga dini hari menuju klinik Andressa.
__ADS_1
Hingga beberapa jam berlalu, Lorcan akhirnya sampai di klinik Andressa. Klinik itu masih saja ramai seperti biasa. Lorcan terpaksa menunggu klinik sepi agar tidak ada orang lain yang melihat kedatangannya.
"Yang Mulia, Nona Andressa sudah menyelesaikan pemeriksaan terhadap pasien. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk Anda masuk," ujar Jason.
"Baiklah, bawa aku ke dalam dan pastikan di sekitar ini aman."
Lorcan melangkah masuk ke dalam klinik. Waktu itu Andressa sedang duduk sembari memeriksa persediaan obat.
"Oh, Lorcan! Sejak kapan kau datang?"
Terpaksa Andressa menghentikan sejenak pekerjaannya dan menyambut kedatangan Lorcan.
"Aku baru saja sampai."
Lorcan dipersilakan duduk di atas sofa. Kemudian Andressa menyuruh Amelia mengambilkan kudapan dan minuman untuk Lorcan.
__ADS_1
"Apa yang membawamu kemari? Aku yakin, ada hal penting yang ingin kau bicarakan kan?" Andressa merasakan kemarahan teramat dalam di diri Lorcan.
"Andressa, kapan kita bisa memulai operasinya? Aku tidak bisa terus seperti ini. Tolong segera dimulai operasinya. Tidak peduli berapa pun biayanya, aku pasti akan membayarmu."