
"Ibu Suri mengancammu?" Lorcan sedikit terkejut.
Andressa menganggukkan kepala pelan.
"Benar, Ibu Suri mengancamku. Dia menyuruhku menjadi bawahannya dan diiming-imingi dengan berbagai sogokan yang mungkin terdengar menggiurkan bagi sebagian orang," jelas Andressa.
"Ternyata seperti itu. Ibu Suri sudah bertindak lebih jauh dari perkiraanku. Dia berambisi sekali ingin menghancurkan hidupku. Lalu kau menolak sogokannya itu?"
"Iya. Kenapa aku harus menjadi anj*ngnya wanita tua itu? Lebih baik aku bekerja sendiri tanpa perintah orang lain. Lagi pula aku berada di bawah perlindunganmu. Jadi, kau pasti bisa memberikan hal yang lebih daripada Ibu Suri untukku," ucap Andressa tersenyum lebar.
Lorcan merasa tersanjung mendengar perkataan Andressa barusan. Dia menjadi semakin percaya diri bahwa dia sangat dibutuhkan oleh Andressa.
"Tentu saja! Aku bisa memberikan sesuatu yang lebih untukmu. Katakan apa yang kau inginkan, nanti aku akan menyuruh bawahanku untuk menyerahkannya padamu," kata Lorcan berbangga diri.
__ADS_1
"Oh, benarkah? Bagaimana kalau aku meminta istanamu? Apa kau mau memberikannya kepadaku?"
Andressa tidak serius meminta istana, ia hanya berniat untuk bercanda saja. Akan tetapi, Lorcan malah menanggapinya secara serius.
"Aku akan memberikannya untukmu. Atau perlukah aku memberi sebuah kerajaan? Aku sudah pulih, jika aku pergi ke medan perang lagi mungkin aku bisa kembali merebut sebuah kerajaan dan kekaisaran sekali pun."
Andressa terdiam tatkala Lorcan berkata demikian. Jason pun ikut ternganga karena tidak biasanya ia menyaksikan Lorcan memberikan sesuatu tak terduga kepada lawan jenis.
"Hei, aku bercanda. Jangan ditanggapi dengan serius. Kau ini benar-benar sangat tulus. Aku suka lelaki baik sepertimu."
'Lelaki baik apanya? Nona Andressa tidak sadar ya? Kaisar itu hanya baik padanya saja. Beliau tidak pernah memperhatikan seseorang sampai sebegitunya. Bahkan, aku yang sudah bekerja bertahun-tahun di sisi beliau pun tidak pernah mendapatkan hal yang mengesankan,' batin Jason.
Kemudian Andressa dan Lorcan saling tertawa. Bahana tawa keduanya sampai ke pendengaran Camille yang sedang menguping dari kejauhan. Wanita itu langsung memutar badan meninggalkan tempatnya berdiri. Dia tampak diselimuti oleh rasa kesal yang memanas di hatinya.
__ADS_1
Selepas itu, Andressa diantar pulang oleh kereta kuda yang disiapkan Lorcan. Sementara itu, Lorcan melanjutkan sesi latihan bersama para kesatria.
Sesampainya di klinik, Andressa mengistirahatkan badan sejenak. Ada hal yang mengganjal isi pikirannya.
"Ada yang aneh dari Ibu Suri. Wanita tua itu diliputi oleh energi yang tidak biasa. Aku pernah merasakan energi itu di suatu tempat, tetapi di mana aku pernah merasakannya? Mungkinkah itu di kehidupan aku yang lalu? Di kehidupan yang ke berapa?"
Andressa berpikir keras. Rasanya kepalanya nyaris pecah ketika memaksakan diri menelusuri memorinya. Ingatan Andressa terasa penuh sebab ia menyimpan segala memori dari kenangan kehidupannya di masa lalu.
"Energi itu ... aku rasa itu bukan dari aether. Energi yang panas dan melekat banyak aura kelicikan. Aku pernah mengenal seseorang—"
"Ketemu kau!"
Andressa terperanjat kaget di tempat duduk. Suara nyaring dari makhluk berbulu yang muncul di depan matanya membuat jantung Andressa nyaris copot.
__ADS_1
"Siapa kau?" Andressa beringsut mundur ke belakang.