
Andressa mengecek kondisi Lorcan pasca operasi. Dia menggunakan mana di tubuhnya yang tidak seberapa demi mempercepat proses penyembuhan.
"Bagaimana? Apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Andressa.
Lorcan menggeleng pelan.
"Tidak, aku baik-baik saja. Kapan kira-kira aku bisa pulih sepenuhnya?"
Andressa berpikir sejenak. Dia semakin menekan mananya ke tubuh Lorcan biar luka operasi pria itu bisa pulih hari itu juga.
"Aku rasa kau sudah sembuh sepenuhnya. Apa kau mau mencoba berjalan dan melihat sekarang?"
Seisi ruangan terkejut. Mereka tidak menyangka pemulihan Lorcan bisa berjalan secepat itu. Dan terlihat jelas bahwa Lorcan juga sangat bersemangat menunggu kepulihan dirinya.
"Iya, tolong ya."
"Baiklah. Tunggu sebentar."
Andressa melepas pelan-pelan perban yang menempel di mata Lorcan. Sesudah itu, Andressa meminta Lorcan untuk membuka matanya. Perlahan, Lorcan mengerjapkan bola matanya.
__ADS_1
Terlihat cahaya yang memancar ke matanya. Awalnya tampak kabur, tetapi sepersekian detik seusainya, Lorcan bisa melihat wajah Andressa secara sempurna menggunakan kedua mata.
"Aku ... kedua mataku bisa melihat normal seperti sedia kala! Kau sungguh luar biasa, Andressa."
Lorcan gembira bukan main. Kini dia bisa melihat arah serangan menggunakan penglihatan sempurna. Tidak seperti sebelumnya, dia hanya melihat menggunakan sebelah mata saja.
"Coba sekarang kau aku bantu untuk bangkit dari ranjang. Kakimu juga harus coba dibawa melangkah."
Andressa mengulurkan tangannya. Dia mengisyaratkan Lorcan untuk menerima uluran tangan tersebut. Hanya saja, Lorcan tampak ragu-ragu menerima tangan Andressa.
"Yang Mulia, ayo terima uluran tangan Nona Andressa."
"Nah, mari aku bantu untuk berjalan. Tolong lakukan dengan pelan. Jangan terburu-buru."
Wajah Lorcan tersipu malu. Baru kali ini jantungnya seolah-olah akan meledak kala berhadapan dengan seorang wanita. Akan tetapi, Lorcan mengesampingkan dulu perasaannya itu karena apa yang sedang dia hadapi sekarang lebih penting.
"Huh? Kakiku tidak sakit."
Lorcan berjalan mengikuti arah tuntunan jalan Andressa. Selama hampir lima belas menit, Lorcan mulai terbiasa.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa aku boleh melepaskanmu sekarang?"
"Ya, tolong lepaskan tanganku. Aku mau melangkah sendiri."
Andressa melepas genggaman tangannya. Kemudian dia memperhatikan Lorcan berjalan sendiri dengan tertatih-tatih hingga langkahnya kembali normal seperti biasa.
"Aku bisa berjalan normal lagi! Tidak sakit dan rasanya sangat nyaman!"
Para kesatria serta tabib yang berada di ruang yang sama terpukau menyaksikan keajaiban tersebut. Pasalnya, mereka tidak yakin awalnya Lorcan bisa balik normal seperti sedia kala. Namun, sesaat melihat dengan mata kepala sendiri, mereka tampa sadar memuja kemampuan operasi Andressa.
"Luas biasa. Dari mana beliau belajar soal teknik operasi ini? Aku harus belajar banyak dari Nona Andressa tentang teknik operasi."
"Iya, kita butuh teknik operasi supaya kita tidak perlu lagi mengamputasi tangan atau kaki para pasien. Dengan begini, kita dapat menyelamatkan masa depan lebih banyak orang lain."
Terdengar bising. Mereka semua membicarakan soal Andressa. Tidak sedikit di antara mereka yang semangatnya kian terpacu begitu menonton pemulihan Lorcan.
"Terima kasih, Andressa! Terima kasih!"
Sontak Lorcan memeluk Andressa. Gadis itu tertegun tatkala mendapatkan pelukan dari Lorcan. Rasanya aneh sekali dipeluh seorang Kaisar, sedangkan ia hanyalah seorang rakyat jelata.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku refleks melakukannya."