
'Mengapa dia terlihat tidak asing ya?'
Begitulah batin Andressa. Seolah-olah dia pernah bertemu pria itu di suatu tempat. Dia langsung menepis segala jenis perasaan aneh yang mencoba mengusiknya sedari tadi.
Di saat itu pula, tatapan pria itu cukup mengganggunya. Andressa berupaya sekuat tenaga agar tidak terpengaruh oleh tatapan tersebut.
"Tuan, apakah ada yang salah dari wajah saya?" tanya Andressa seraya tersenyum canggung.
"Maafkan aku, kau terlihat mirip kenalanku," jawabnya.
"Benarkah begitu? Bolehkah saya tahu dari mana Anda berasal?"
Pria muda itu tampak enggan menjawab pertanyaan Andressa. Dia sengaja mengalihkan pandangan. Andressa pun paham bahwa dia tidak mau memberi jawaban atas pertanyaannya.
"Baiklah, Anda tidak perlu menjawabnya. Sekarang silakan Anda beristirahat. Nanti saya kemari lagi untuk memeriksa tubuh Anda."
__ADS_1
Andressa beranjak meninggalkan ruangan. Dia masih tidak bisa mengalihkan pikirannya dari pria tersebut.
'Siapa dia? Entah mengapa pria itu sedikit mengusik pikiranku. Semoga saja dia bukan pihak musuh yang ingin menghancurkanku.'
Seusai Andressa pergi dari ruang rawatnya, raut muka pria muda berwajah tampan itu berubah seketika. Dia terlihat amat serius bercampur terkejut tatkala melihat paras Andressa.
"Tidak salah lagi ... gadis itu adalah dia. Aku harus segera memberi laporan supaya mereka bisa membantu pemeriksaan latar belakangnya," gumamnya.
Berselang beberapa jam selepas itu, Andressa telah mengirim laporan kepada istana bahwasanya penyusup tersebut telah sadarkan diri. Segera Lorcan datang untuk melihatnya secara langsung.
"Tenang saja, dia tidak mencurigakan sama sekali. Tidak ada satu pun dari gerak-geriknya yang menunjukkan bahwa dia penyusup. Aku pikir kau harus memeriksanya sendiri supaya kau tahu apa yang aku maksudkan."
"Benarkah? Aku harap dia bukan penyusup dari pihak musuh. Sangat merepotkan bila dia menyusup dan mengirim laporan hasil mata-matanya kepada Kaisar Dorton."
Kemudian Lorcan masuk ke ruang rawat si pria itu. Aura bangsawan yang dipancarkannya menyadari Lorcan kalau pemuda itu bukanlah orang biasa.
__ADS_1
"Andressa, tolong tunggu aku di luar. Aku harus berbicara dengan pria ini."
Andressa mengangguk. Tanpa menaruh perasaan apa pun Andressa mengundurkan diri dari sana.
Kini hanya tinggal Lorcan bersama pria tersebut. Entah pembicaraan semacam apa yang akan berlangsung di antara keduanya.
"Siapa kau? Bisakah kau memberi tahuku identitasmu? Aku yakin kau bukan seorang bangsawan biasa," kata Lorcan menginterogasi.
"Seperti yang diharapkan dari Kaisar Emilian. Saya memang bukan bangsawan biasa. Biarkan saya memperkenalkan diri."
Pria itu turun dari ranjang rawat sembari merogoh sesuatu dari dalam pakaiannya. Sebuah token pengenal dia tunjukkan kepada Lorcan.
"Perkenalkan, saya Sirius Zervian — Kaisar dari Kekaisaran Zervian," lanjutnya memperkenalkan diri.
Di detik itu, Lorcan mematung di tempat. Dia tidaklah salah mendengar apa yang dikatakan Sirius barusan. Dia menyebutkan Kekaisaran Zervian, di mana kekaisaran ini sangat tertutup sehingga tidak ada pihak luar yang mengetahui tentang keberadaannya.
__ADS_1
"Kekaisaran Zervian? Benarkah itu? Mengapa Kaisar Zervian tiba-tiba muncul di sini? Apa yang terjadi sebenarnya? Tidakkah kalian selama ini menutup diri dari pihak luar dan tak pernah menunjukkan diri kepada orang-orang di luar wilayah Zervian?"