
Tepat satu hari sebelum jadwal operasi Lorcan, para tabib sudah mulai terbiasa dengan pelatihan yang diberikan Andressa. Mereka sudah hafal segala jenis alat-alat yang akan digunakan sebagai alat utama dalam operasi kali ini.
Mereka pada awalnya mengeluh sulit, tetapi perlahan mereka mengingat nama-nama alatnya. Sama seperti Amelia, gadis itu juga melalui fase yang sama.
"Nona, apakah sudah benar begini?" tanya salah satu tabib, dia belajar cara menjahit luka operasi.
Andressa mengamati hasil jahitannya.
"Ya, itu sudah benar. Kau akhirnya bisa setelah di percobaan yang ke sepuluh," ujar Andressa.
Lega dan bangga luar biasa dirasakan oleh tabib tersebut. Dia sangat tidak menyangka bisa menguasai teknik menjahit di upaya percobaan ke sepuluh.
"Sepertinya kalian sudah mulai terbiasa dan pandai mempraktekkan apa yang aku ajarkan. Kalau begitu, pelatihan hari ini sampai di sini saja. Mari bertemu lagi besok di waktu di mana kita akan melakukan operasi kepada Kaisar."
"Baik, Nona!" jawab mereka serentak penuh semangat.
Para tabib membereskan alat-alatnya. Mereka segera mengistirahatkan badan sebelum menyambut hari esok. Sedangkan Andressa masih di ruang kerjanya melakukan peracikan obat.
__ADS_1
"Ini obat-obat yang sudah habis. Untung saja ada warga yang membantuku mengumpulkan bahan-bahan untuk meracik obat. Sekarang aku harus menyediakan stok obat lebih banyak lagi."
Di kala Andressa sedang sibuk meracik obat, gadis itu tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang ramai dari arah luar. Firasatnya mengatakan bahwa langkah kaki itu berasal dari orang luar yang menyusup ke wilayah Selion.
Terpaksa Andressa menghentikan sejenak pekerjaannya. Dia segera pergi ke luar untuk memastikannya sendiri.
"Hm? Ternyata dugaanku benar."
Tatkala Andressa baru saja melangkah ke luar, dia langsung dikepung oleh beberapa orang yang membawa senjata tajam. Orang-orang itu dipenuhi aura membunuh yang kuat.
"Kau peka juga rupanya. Ya, target kami adalah kau!"
Mereka menerjang ke arah Andressa seraya mengayunkan senjata. Mereka tidak main-main ingin membunuh gadis itu.
"Hanya untuk membunuh seorang gadis biasa, kalian membutuhkan orang yang banyak. Betapa pengecutnya kalian, rasanya aku ingin tertawa saja."
Andressa menyunggingkan senyum. Tangannya bergerak bebas di udara. Pergerakan tangan Andressa teramat lincah, seolah-olah sudah terlatih sepenuhnya.
__ADS_1
"Dia bukan wanita biasa. Berhati-hatilah kalian!"
Salah satu dari pembunuh itu memperingati rekannya. Dia sadar alangkah berbahayanya target mereka kala itu.
Andressa semakin brutal. Serangannya kian menjadi-jadi. Ujung belatinya terus menghunus jantung para pembunuh itu.
"Kalian sangat sombong di hadapanku sebelumnya, tetapi lihatlah ini! Menghabisi kalian hanya butuh seperempat dari kekuatanku saja. Dasar lemah!"
Andressa melakukan serangan penghabisan. Dia berhasil menghabisi para pembunuh itu dalam sekejap.
Andressa membuang napas panjang. Dia sedikit kelelahan karena harus menghadapi orang-orang tidak berguna itu.
"Siapa yang mengirim mereka? Mungkinkah orang itu juga adalah dalang di balik terjadinya wabah ini? Sialan! Seharusnya tadi aku biarkan salah satunya hidup supaya aku bisa menginterogasinya. Namun, aku rasa itu juga percuma. Mungkin mereka takkan mau membuka mulut," gumam Andressa.
Selepas itu, dia pun masuk kembali ke dalam klinik. Tidak lupa ia menyeka darah yang memercik ke muka dan pakaiannya.
"Aku akan mencari dalangnya setelah operasi Korban selesai dilakukan."
__ADS_1