
“Kau jangan bertindak bodoh di hadapan ibu suri. Aku tidak mau tiba-tiba mendengar kabar kurang mengenakkan soal dirimu.”
Gibson memberi peringatan kepada Camille. Pria itu tahu seberapa cerobohnya Camille dalam menjaga martabat keluarga. Terkadang terpaksa dia turun tangan demi menyembunyikan kebodohan Camille.
“Apa yang Kakak bicarakan? Memangnya aku pernah melakukan hal bodoh? Jangan sembarangan menekanku begitu!” oceh Camille, tidak terima dirinya diperingati.
Gibson berdecih. Selalu saja seperti ini jika ia memperingatkan atau menasehati Camille. Gadis manja itu tak terima jika Gibson menyenggol soal kebodohannya.
“Terserah kau saja. Aku akan pergi menemui kaisar. Ingatlah untuk selalu menjaga sikap,” ucap Gibson menegaskan hal yang sama sekali lagi.
Raut muka Camille tampak kesal. Dia hanya merungut marah tatkala ditegur demikian.
__ADS_1
“Iya, tenang saja. Aku tidaklah sebodoh itu sampai harus mempertaruhkan nama keluarga.”
Mereka berdua berpisah di persimpangan lorong istana utama. Keduanya pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Sekitar dua jam kemudian, pembicaraan mereka selesai. Namun, tampaknya tidak berjalan sesuai harapan. Gibson yang ingin berbincang dengan Lorcan mendapatkan hasil akhir yang buruk. Lorcan marah besar kepadanya dan berakhir diusir dari ruang pribadinya. Bagaimana pun Gibson telah lancang menemui Lorcan tanpa surat pemberitahuan serta caranya berbicara juga terkesan sangat buruk.
Sedangkan Camille, ketika ia datang menemui ibu suri, ekspresi Leyna terlihat buruk sehingga pembicaraan berjalan tidak lancar. Leyna justru meminta Camille bersikap lebih agresif lagi terhadap Lorcan.
“Apa-apaan itu?” Camille menghela napas kasar. “Kenapa ibu suri sangat dingin padaku hari ini? Sebenarnya, apa yang terjadi? Tidak mungkin ibu suri merestui pertunangan mereka berdua. Lalu mengapa keduanya bisa merencanakan pertunangan? Sangat mencurigakan.”
“Ibu suri juga menyuruhku untuk menggoda kaisar dan memintaku agar aku dapat membatalkan pertunangan mereka. Bagaimana caranya? Kaisar tidak sama seperti pria lain yang akan tergoda oleh kecantikanku. Aku harus mencari cara lain supaya mereka tidak jadi bertunangan.”
__ADS_1
Pada saat Camille tengah asik bergumam, di kala itu pula ia tanpa sengaja berpapasan dengan Andressa. Gadis itu baru saja menyelesaikan urusannya di istana dan berniat untuk kembali ke klinik. Akan tetapi, seperti nasib sial, dia bertemu Camille. Padahal Andressa sedang malas berdebat, tetapi jika itu Camille, maka tak ada alasan untuk Camille berdiam diri.
“Oh, lihat siapa yang aku lihat sekarang.” Camille melipat kedua tangan di dada sambil menatap angkuh Andressa.
“Ya ampun, Nona. Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Saya pikir Anda sedang sibuk menangis di kamar Anda semalaman,” sindir Andressa.
“Aku menangis? Untuk apa aku menangis? Apa karena berita pertunanganmu?” Camille berusaha tenang di hadapan Andressa.
“Bisa jadi. Bukankah sebelumnya kau bersikeras ingin menjadi permaisuri? Ah, kau juga kan wanita pilihan ibu suri, tetapi sayangnya ibu suri tidak punya hak ikut campur.”
“Apa maksudnya? Ibu suri punya kedudukan penting sebagai ibu kandung kaisar. Lalu mengapa ibu suri tidak bisa ikut campur?”
__ADS_1
Andressa sudah menduga kalau Camille belum tahu apa-apa soal peraturan istana yang dihapus Lorcan. Sekarang kesempatannya membuat Camille semakin terpuruk.
“Astaga, mungkinkah ibu suri tidak memberitahumu, Nona? Peraturan istana tentang pertunangan dan pernikahan kaisar yang harus mendapat restu dari ibu suri sudah dihapus oleh kaisar. Sekarang semua kendali berada penuh di tangan kaisar.”