
Andressa memojokkan tubuh Marchioness Jevano ke pembatas tangga. Wanita itu menjerit kesakitan karena jemari Andressa menekan tengkuknya.
"Lepaskan aku! Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Cepat lepas!" Marchioness Jevano meronta-ronta meminta dibebaskan.
"Diam kau! Aku akan membuatmu pingsan."
Andressa menekan beberapa titik bagian tubuh Marchioness Jevano hingga membuat wanita itu pingsan. Pendengaran Andressa baru terasa damai saat Marchionss Jevano tak sadarkan diri.
"Nah, kalau begini kan bagus. Aku bisa menyeretmu sekarang ke istana kekaisaran."
Andresaa mengirim sepucuk surat kepada Lorcan. Dia meminta agar Lorcan menjemput dirinya ke kediaman Marchioness Jevano. Dia tidak mungkin mengangkat wanita itu sendirian menggunakan seekor kuda.
Sementara menunggu jemputan dari istana, Andressa mengikat tubuh Marchioness Jevano ke pohon. Dia pun mulai menyusuri secara detail kediaman tersebut.
Andressa menemukan hal-hal menarik di sana. Salah satu yang dia temukan ialah bukti pembunuhan Marchioness Jevano terhadap suaminya yang tertulis rinci di buku harian wanita itu.
__ADS_1
"Betapa bodohnya dia menulis semua kejahatannya di buku harian. Seharusnya dia tidak usah menulis hal ini di buku harian jika tidak mau orang lain mengetahuinya," gumam Andressa.
Selepas itu, Andressa membuka brankas. Ditemukan emas batangan di dalamnya serta beberapa surat kepemilikan tanah yang dia ambil paksa dari pemilik sebelumnya.
"Wanita ini sangat gila. Dia merampas apa yang seharusnya bukan menjadi miliknya. Kasihan sekali Marquess Jevano harus mati akibat ulah istri yang dia kira baik."
Andressa merasa kasihan kepada mendiang suami Marchioness Jevano. Berdasarkan rumornya, Marquess Jevano sangat mencintai sang istri. Dia akan memberikan apa saja asalkan istrinya bahagia. Akan tetapi, segala ketulusannya malah dibalas dengan tidak adil begini.
"Ya sudahlah. Aku urus dulu masalah ini, aku juga tidak tahu ada berapa orang yang sudah dibunuh olehnya."
Andressa mengangkut semua bukti yang dia temukan di kediaman Marchioness Jevano. Pantas saja Lorcan sulit menemukan buktinya, wanita itu menyembunyikannya di tempat tidak terlihat oleh mata.
"Nona, apa Anda tidak naik kereta?" tanya seorang kesatria ketika melihat Andressa menunggangi kuda.
"Tidak, aku akan mengiringi dari belakang sambil menunggangi kuda," jawab Andressa.
__ADS_1
Lalu mereka pun berangkat ke istana kekaisaran. Sebenarnya, dia sedikit mengkhawatirkan kondisi wilayah kekuasaan Marquess Gencio. Namun, dia harus mengurus serta memastikan bahwa Marchioness Jevano berhasil tiba di istana dan masuk penjara tanpa kendala.
"Yang Mulia, Nona Andressa telah tiba."
Mendengar itu, Lorcan menghentikan aktivitasnya.
"Ya, suruh dia menunggu di ruang sebelah. Aku ingin segera mendengar laporan darinya secara menyeluruh," ujar Lorcan.
"Baik, Yang Mulia."
Andressa dibawa ke ruang sebelah ruang kerja Lorcan. Andressa telah siap bersama sejumlah bukti untuk memperlihatkan kebersalahan Marchioness Jevano.
"Kau sudah datang? Bagaimana? Aku ingin melihat apa yang kau bawa hari ini."
Andressa yang sedang duduk di atas sofa sontak bangkit dari tempatnya duduk. Andressa langsung menyerahkan barang bukti kepada Lorcan.
__ADS_1
"Di sana lengkap. Ada barang bukti pembunuhan Marchioness Jevano terhadap suaminya, ada laporan perampasan hak rakyat, dan ada juga laporan tentang cairan yang menyebabkan wabah penyakit terjadi di Selion."
Lorcan mengamati baik-baik semua itu. Dia takjub dengan kemampuan Andressa.