
Lorcan membuang muka. Dia sungguh emosi kala itu. Namun, ia berupaya menahan diri sebaik mungkin sebab Andressa berpesan padanya untuk menjaga emosi sementara waktu. Ini karena Lorcan masih berada pada masa perawatan bagian organ dalam tubuhnya. Oleh sebab itu, Andressa meminta Lorcan mengatur emosi demi membuat obatnya bereaksi secara positif.
"Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah menganggapmu sebagai Ibuku. Sebaiknya kau angkat kaki dari istana ini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi."
Lorcan berbalik badan meninggalkan ruangan. Leyna terlihat tenang dari luar. Akan tetapi, sebenarnya dia sedang menggebu-gebu marah di hatinya.
'Dasar anak kurang ajar! Dia pikir dia sudah hebat karena berhasil menjadi Kaisar?! Aku yang membuatnya berada di posisi ini sekarang. Lihat saja! Sampai kapan kau bisa bertahan pada posisi ini? Aku akan membuatmu lengser dari singgasana Kaisar,' batin Leyna menggerutu.
Leyna segera menyingkirkan sejenak perasaan amarahnya itu. Dia mengarahkan pandangannya pada Camille yang masih membatu di sana.
"Maaf ya, suasana hati Kaisar sedang tidak baik. Mari kita bicarakan soal pertunangan dan pernikahan ini nanti. Kau takkan menolaknya kan?"
"Tidak, Yang Mulia. Saya takkan menolak penawaran Anda. Saya bersedia menjadi tunangan dan Permaisuri pendamping Kaisar," jawab Camille.
Leyna tampak puas mendengar respon Camille.
"Baguslah kalau begitu. Aku akan mengatur kembali jadwal pertemuan antara dirimu dan Kaisar. Tenang saja, hanya kau seorang yang dapat memenangkan hati Kaisar. Jadi, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Paham?"
Leyna berupaya meyakinkan Camille agar tidak menyerah terhadap rencana pertunangan tersebut.
"Iya, Yang Mulia. Saya paham."
Setelah bertemu Leyna, Lorcan menenangkan dirinya di balkon kamar. Cuaca cerah hari itu menghadirkan suasana tenang di hatinya.
"Apa lagi yang diinginkan wanita itu?"
Lorcan terlihat frustrasi. Dia menyimpan kenangan buruk tentang Leyna di masa lalu. Sehingga kini pun kebencian besar tertanam di hati Lorcan.
"Aku tidak bisa mengusir atau pun membunuhnya karena para bangsawan sebagian besar berpihak padanya. Ditambah lagi, aku tak bisa menemukan satu pun bukti kejahatannya. Apa yang harus aku lakukan?"
Di sela rasa frustrasi, tiba-tiba saja wajah dan suara Andressa terlintas di kepala.
"Tolong perhatikan asupan makananmu dan jangan banyak pikiran sampai perawatanmu selesai dilakukan."
__ADS_1
"Ah, Lorcan! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau memegang pedang? Aku sudah bilang, kau tidak boleh bergerak berlebihan apalagi sampai memaksa dirimu mengayunkan pedang. Sini pedangmu! Aku akan menyitanya."
"Lorcan, jangan lupa bahwa kau adalah pasienku. Tubuhmu berada di bawah kendaliku sementara waktu. Maka dari itu, kau harus mendengarkan perkataanku. Jangan banyak pikiran, apalagi sampai stres. Lalu jangan pilih-pilih makanan! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau membuang brokoli yang aku bawa kemarin?!"
Lorcan tertawa kecil. Andressa sering mengomelinya ketika ia dirawat di klinik. Suara celotehan Andressa selalu terdengar setiap hari. Meski begitu, dia merasa bahagia setiap kali Andressa memperhatikannya.
"Mengapa aku mendadak merindukannya? Aneh sekali. Padahal aku baru bertemu Andressa kemarin, tetapi entah kenapa aku mau bertemu dengannya lagi."
Suasana hati Lorcan membaik tatkala mengingat Andressa. Dia bangkit dari tempat duduk lalu bergerak masuk ke kamarnya.
"Baiklah, aku akan menemuinya lagi nanti. Mungkin sekitar tiga hari dari sekarang karena aku harus membereskan pekerjaanku yang terbengkalai di istana," gumamnya bersemangat.
Di saat bersamaan, Leyna baru saja sampai di istana kediamannya. Dia cukup resah menyaksikan perilaku Lorcan kian menunjukkan perlawanan terhadapnya.
"Apa Anda memanggil saya, Yang Mulia?" Sesosok pria berpakaian serba tertutup mendatangi Leyna.
"Iya, aku ada tugas untukmu." Leyna menyerahkan selembar potret kepada pria itu. "Selidiki tabib bernama Andressa. Sepertinya Kaisar punya hubungan khusus dengannya. Jangan lupa melaporkan gerak-gerik wanita itu padaku."
Pria itu menerima potret Andressa. Dia mengamati baik-baik potret wajah gadis yang akhir-akhir ini mewarnai berita utama kekaisaran Emilian.
Pria itu pun bergegas pergi dari hadapan Leyna. Dia membawa tugas yang menurutnya mudah untuk diselesaikan. Tanpa ia tahu, sesungguhnya gadis bernama Andressa bukanlah sosok gadis yang bisa diremehkan begitu saja.
"Andressa ... wanita itu sudah pasti seorang rakyat jelata. Kenapa Putraku yang selalu menghindari wanita tiba-tiba sangat dekat dengannya? Mencurigakan ... apabila wanita itu menjadi penghalang rencanaku, maka dia harus aku singkirkan sesegera mungkin," ujar Leyna bergumam.
***
Tiga hari berlalu dengan amat cepat, akhirnya Lorcan punya waktu luang dan ia pun berkunjung ke klinik Andressa.
"Hei, ini kan bukan jadwalmu untuk ke klinik. Aku memintamu datang dua minggu lagi," ucap Andressa.
Lorcan tersenyum kikuk seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Nona, sebenarnya Kaisar hanya ingin bertemu dengan And—"
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu." Lorcan memukul perut Jason dan membungkamnya yang hendak membeberkan maksud kedatangannya. "Aku kebetulan lewat. Jadi, aku singgah untuk melihat perkembangan pembangunan klinikmu."
Ya, itu hanyalah sekedar alasan belaka demi berkilah membohongi Andressa.
"Hmm, ternyata begitu. Ya sudah, aku sedang senggang sekarang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
Semua orang tercengang mendengar Andressa blak-blakkan menawarkan makan bersama dengan sang Kaisar.
"Anda tidak boleh sembarangan mengajak Kaisar makan siang bersama," bisik Amelia.
"Kenapa? Padahal hanya makan bersama." Tampang polos Andressa membuat seluruh orang menepuk kening.
"Beliau kan seorang pemimpin dari Emilian. Mana mungkin Kaisar mau makan bersama rakyat biasa seperti kita. Dan juga ini dianggap sebagai penghinaan terhadap Kaisar. Lalu kepala Anda bisa dipenggal jika menghina Kaisar maupun keluarga kekaisaran."
"Hmm ...." Andressa melipat kedua tangan di dada sambil memperhatikan Lorcan. "Benarkah kau akan memenggal kepalaku jika aku mengajakmu makan bersama? Sayang sekali. Kalau begitu, aku makan bersama yang lain saja."
"Aku takkan memenggal kepalamu. Apa yang salah dari makan bersama? Ayo kita makan sekarang selagi kau tidak menyuguhkan brokoli untukku," kata Lorcan lekas menepis segala prasangka Andressa tentang hukuman penggal.
Jason benar-benar tidak habis pikir. Biasanya Lorcan akan menganggap hal ini sebagai penghinaan. Akan tetapi, apa yang dia lihat sekarang merupakan keanehan dari diri Lorcan.
'Kaisar berubah gila! Memang benar apa yang dikatakan orang lain bahwa cinta dapat merubahmu menjadi orang gila seperti Kaisar,' batin Jason.
Andressa terkekeh. Sudah dia duga kalau Lorcan takkan menganggap ajakannya sebagai penghinaan.
"Ya, baiklah. Aku tidak menyuguhkan brokoli untukmu. Tenang saja."
Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke ruang makan. Namun, langkah Andressa terhenti begitu seorang tabib menghampirinya.
"Nona, ada surat untuk Anda," ucap sang tabib menyerahkan surat kepada Andressa.
"Surat? Surat dari siapa kira-kira?"
Andressa mengambil surat tersebut lalu membuka amplopnya.
__ADS_1
"Rupanya ini surat dari Ibu Suri," gumamnya tak sengaja sampai ke pendengaran Lorcan.
"Huh? Apa kau bilang? Surat dari Ibu Suri?"