Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Liontin


__ADS_3

Pembicaraan mereka terhenti sampai di sana karena tiba-tiba Lorcan harus pergi mengerjakan hal mendesak. Sedangkan Sirius tetap berada di kamar yang telah disediakan di istana.


Kemudian pertemuan antara Andressa dan Sirius telah diatur oleh Lorcan. Mereka akan bertemu dua hari lagi. Kini Sirius harus istirahat total untuk memulihkan kondisi tubuhnya.


Sementara itu, Andressa merasa janggal seusai bertemu Sirius. Dia terus menerus berpikir keras mengingat siapa pria tersebut. Rasanya aneh melihat Sirius yang punya wajah familiar di ingatannya.


"Siapa dia? Aku merasa pernah bertemu dengannya di masa lalu, tetapi aku tidak ingat sama sekali. Lagi pula pemilik tubuh ini sebelumnya tinggal di panti asuhan. Mungkinkah mereka pernah bertemu sebelum aku merasuki tubuh ini?" gumam Andressa.


Andressa menatap ke arah jendela kamar yang terbuka. Tampak jelas langit bertabur bintang menyinari malam ini.


"Ya sudahlah, pikirkan saja nanti. Sekarang lebih baik aku tidur. Besok aku harus menangani operasi beberapa orang pasien."


Andressa membaringkan badan di atas kasur. Segera ia tertidur setelahnya.


Dua hari berselang, Andressa berangkat ke istana menemui Sirius. Sebelum bertemu Sirius, terlebih dahulu Lorcan menjelaskan identitas sebenarnya dari Sirius.


Cukup mengagetkan bagi Andressa, siapa sangka pria itu berasal dari Kekaisaran Zervian. Bahkan, pikirannya mulai melayang mengingat warna rambutnya sama dengan Sirius.


'Mungkinkah pemilik tubuh ini sebenarnya berasal dari Kekaisaran Zervian?' pikirnya langsung ditepis.

__ADS_1


Andressa menghadap Sirius. Dia menyapa pria itu dengan salam kekaisaran.


"Salam kepada Yang Mulia Kaisar Zervian. Mohon maafkan saya tidak mengetahui identitas Anda sebelumnya."


"Tidak apa-apa, wajar saja kau tidak mengenaliku. Duduklah, aku ingin berbicara denganmu," tutur Sirius.


Andressa mendudukkan badannya. Pikirannya masih belum bisa tenang.


"Saya dengar dari Lorcan Anda ingin berbicara dengan saya. Apa yang hendak Anda bicarakan, Yang Mulia?"


Sirius terkesan, rupanya Andressa tipe gadis yang lebih suka bicara terus terang.


"Aku—"


"Nona, bisakah aku melihat liontinmu sebentar?"


"Liontin saya? Baiklah."


Walau tidak tahu apa yang akan dilakukan Sirius terhadap liontinnya, Andressa tetap memberikan liontin tersebut kepada Sirius.

__ADS_1


Sirius menatap lama liontin itu. Dia tidak percaya menemukan bukti paling valid tentang identitas Andressa.


"Liontin ini punya Anda?" tanya Sirius.


Andressa mengangguk sambil menjawab, "Ya, liontin itu melekat di leher saya sejak kecil."


'Tidak salah lagi. Liontin ini adalah liontin turun temurun dari keluarga Valentine. Paman dan bibi memberikannya kepada putrinya sebelum insiden penculikan itu terjadi. Setelah aku lihat lebih dekat, Andressa punya wajah yang mirip dengan bibi. Sekarang aku paham, gadis ini benar-benar adik sepupuku.'


Sirius mengembalikan liontin tersebut kepada Andressa. Dia sudah cukup memastikan identitas Andressa.


"Apa ada yang salah dari liontin saya?"


Sirius menggeleng.


"Tidak, hanya saja liontin Anda mirip dengan liontin milik pamanku."


"Oh, ternyata begitu."


Obrolan mereka berlangsung singkat. Mereka berdua hanya membicarakan sebatas hal-hal ringan saja.

__ADS_1


Sesudahnya, Andressa pamit undur diri. Gadis itu terlihat terburu-buru karena khawatir meninggalkan klinik terlalu lama.


"Aku harus mengirimkan surat sesegera mungkin ke kediaman paman. Bagaimana pun dia harus tahu berita ini dan bisa menyusul menjemput Andressa untuk pulang ke Kekaisaran Zervian."


__ADS_2