Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Racun dan Obat Terlarang


__ADS_3

Belum sempat tabib itu membuka suara, Lorcan dengan cepat membekap dan memukulnya. Dia terpelanting ke permukaan tembok hingga kepalanya luka mengeluarkan darah segar.


Samar-samar penglihatannya pun mulai didominasi kegelapan. Sekarang posisinya benar-benar berada tepat di tepi jurang kematian.


'Ukhh ... Kaisar? Mengapa Kaisar bisa ada di sini? Aku tidak bisa melawannya ... tidak boleh! Aku tidak boleh mati di sini. Aku harus pergi dan membawa pergi racun ini sebelum ketahuan tabib Andressa.'


Rupanya tabib tersebut belum menyerah. Dia bersusah payah bangkit lalu melangkah dengan kaki yang gemetar. Sejenak ia berusaha semaksimal mungkin untuk lolos dari hadapan Lorcan meski kala itu dirinya diterpa angin mematikan.


"Jangan harap kau bisa kabur dariku!"


Lorcan melumpuhkan pergerakan tabib itu. Dia kembali tersungkur ke atas tanah. Lalu dua botol berukuran sedang berwarna hitam jatuh dari dalam bajunya.


"Gawat! Botolnya jatuh!"


Ketika tabib itu hendak menjangkau botolnya, Lorcan lekas merampas botol tersebut. Firasatnya mengatakan bahwa botol itu berisi sesuatu yang membahayakan.

__ADS_1


"Apa mungkin ini yang ingin kau sembunyikan sedari tadi? Sayang sekali, ini sudah berada di tanganku. Aku harus menyerahkannya kepada Andressa," ujar Lorcan sembari mengulas senyum licik.


"Tidak, Yang Mulia! Mohon kembalikan lagi kepada saya botol itu. Jangan berikan kepada Nona Andressa. Ampuni saya ... saya hanya menjalankan perintah."


Tabib itu merangkak di bawah kaki Lorcan. Kepalanya dipenuhi bayangan kematian. Dia kala itu dihantui oleh orang yang memberinya perintah dari belakang.


"Aku tidak peduli. Aku tetap akan memberikannya kepada Andressa. Sebaiknya, kau tidur saja karena tidak ada gunanya kau membuka mata sekarang."


Lorcan menghajar habis-habisan tabib itu sampai tidak sadarkan diri. Kemudian tanpa berlama-lama Lorcan masuk menemui Andressa. Bertepatan saat itu Andressa baru saja selesai mengecek bawahannya. Dan dia berhasil menangkap sekitar tiga orang penyusup dari pihak musuh.


"Andressa, aku datang!" Lorcan memanggil Andressa secara lantang sembari melambaikan tangan serta membentuk lengkung senyum manis di bibirnya.


"Oh, astaga, kau datang tanpa pemberitahuan lagi. Apa yang kau lakukan di sini?"


Semua orang tampak tertegun menyaksikan kehadiran Lorcan. Ditambah lagi mereka belum terbiasa dengan Andressa yang memperlakukan Lorcan layaknya teman sebaya.

__ADS_1


"Aku tadi kebetulan ada urusan di sekitar sini. Jadi, sekalian saja aku mampir. Oh iya, aku menangkap bajing*n ini. Dia berencana kabur dari pintu belakang."


Lorcan melempar tabib yang dia tangkap barusan ke hadapan Andressa.


"Pantas saja jumlah mereka berkurang, ternyata dia sudah lebih dulu kabur lewat pintu belakang. Jadi, ada empat orang yang menyusup di antara bawahanku. Bisa-bisanya aku terkecoh," ucap Andressa berceloteh.


Lorcan lalu menyerahkan dua botol yang dia rebut dari tabib tadi kepada Andressa.


"Dia juga membawa dua botol ini. Aku tidak tahu apa isinya, tetapi tampaknya dia kabur karena ingin menyelamatkan kedua botol ini."


Andressa membuka tutup botolnya sembari mengendus aroma dari bubuk di dalamnya. Tercium aroma menyengat dari sana. Aroma yang khas, tajam, dan tidak asing bagi penciumannya.


"Ini adalah racun dan obat terlarang. Mereka sudah bertindak lebih jauh dari dugaanku."


"Kedua botol itu isinya racun dan obat terlarang?"

__ADS_1


Andressa mengangguk pelan.


"Iya, sebelumnya ada sesuatu yang terjadi di sini. Setelah aku selidiki, rupanya kedua bubuk berbahaya ini turut serta dalam penyusupan mereka."


__ADS_2