Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kondisi Kaisar


__ADS_3

Berita soal apa yang sesungguhnya terjadi di wilayah Selion telah menyebar ke penjuru Kekaisaran Emilian. Tidak sedikit dari mereka yang terkejut dan tidak menyangka dengan fakta terbaru diungkapkan Andressa.


Marquess Gencio masih sibuk berkutat dengan berbagai laporan serta penyelidikan terkait pelaku. Sekarang dia bermaksud ke istana untuk bertemu dengan sang Kaisar. Bagaimana pun Kaisar harus tetap tahu kondisi wilayah Selion.


Sementara itu, di istana saat ini cukup disibukkan oleh situasi di mana Kaisar tak bisa menerima laporan apa pun. Sang Kaisar — Lorcan Emilian terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Pria berparas tampan itu sama persis dengan pria yang ditemui Andressa sebelumnya di hutan.


"Bagaimana kondisi Kaisar? Apa beliau baik-baik saja ataukah ada sesuatu yang serius menimpa beliau?" tanya Janson — kesatria pribadi Lorcan kepada seorang tabib.


"Aneh sekali. Apakah ada seseorang yang mengobati luka Kaisar sebelumnya? Luka yang beliau derita tertutup secara sempurna. Tampaknya ada tangan ajaib yang mengobati beliau," tutur tabib tersebut.


Janson kebingungan. Dia jelas menemukan Lorcan dalam keadaan luka yang dibalut perban. Dia juga tidak tahu siapa gerangan orang yang telah menyelamatkan Lorcan.


"Aku tidak tahu. Hanya saja aku rasa memang ada seseorang yang menyelamatkan Kaisar. Aku menemukan jejak kaki keberadaan seseorang di dekat Kaisar tepat sebelum aku menemukan Kaisar," tutur Janson.

__ADS_1


"Sepertinya dia tabib yang sangat ahli. Resep obat yang masih tersisa di tubuh Kaisar mengandung herbal yang tidak aku tahu. Namun, obat inilah yang membuat luka Kaisar tertutup."


Berselang beberapa detik, kelopak mata Lorcan bergerak. Perlahan bola mata berwarna biru mengerjap mengambil kesadaran penuh.


Janson sontak terkejut melihat Lorcan telah sadar. Dia pun segera berdiri lebih dekat dengan sang Kaisar.


"Yang Mulia, bagaimana keadaan Anda? Apa ada bagian tubuh Anda yang masih terasa sakit?" Janson langsung menanyakan kondisi tubuh Lorcan.


"Ada di mana aku? Apakah aku sudah berada di istana?"


"Iya, Yang Mulia. Anda sudah berada di istana."


Kemudian Lorcan kembali terdiam. Dia tidak memberi reaksi apa pun selain memperlihatkan ekspresi serius dan penuh tanda tanya. Ada sesuatu hal yang membuat Lorcan lebih berpikir keras.

__ADS_1


"Apa tadi kau bertemu dengan seorang wanita? Wanita itu mengobati lukaku," ujar Lorcan.


Bola mata Janson melebar sempurna. Baru saja Lorcan menyebut soal seseorang yang menyelamatkan hidupnya.


"Apakah mungkin orang yang mengobati luka Anda adalah sesosok perempuan? Apa Anda ingat wajahnya?" tanya Janson.


"Tidak. Kesadaranku samar-samar. Aku tidak bisa mengingatnya. Hanya saja ada sesuatu yang mencolok dari wanita itu."


Janson kian penasaran. "Apa itu, Yang Mulia? Bisakah Anda beri tahukan kepada saya?"


"Rambutnya berwarna perak. Aku tidak mungkin salah ingat. Rambutnya memang warna itu. Lalu suaranya terdengar lembut. Aku kehilangan kesadaran sepenuhnya sebelum aku sempat berterima kasih kepadanya."


Janson seketika berpikir keras. Dia sedikit tidak percaya mendengar wanita berambut perak.

__ADS_1


"Yang Mulia, saya rasa ingatan Anda sedikit rancu. Bagaimana bisa ada seseorang wanita berambut perak di Kekaisaran Emilian? Aneh sekali."


Lorcan menyorot tajam Janson. "Kau meragukan aku? Padahal aku sudah berkata sejujurnya. Mungkinkah kah berpikir aku membual?!"


__ADS_2