Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Undangan Pertunangan


__ADS_3

Andressa terdiam. Sejenak ia menundukkan kepala dan merasakan dalam keheningan setiap denyut nadinya. Perlahan ia mulai sadar, dia menemukan sesuatu di sana.


"Ini adalah aliran mana! Bagaimana mungkin bisa terjadi? Aku tahu persis soal tubuhku." Andressa menatap lekat Lion. "Jangan-jangan kau baru membuka jalur untuk tubuhku menerima energi mana?" terka Andressa.


Lion berdehem sembari memperlihatkan mimik muka angkuh.


"Tentu saja. Aku bisa membantumu mendapatkan hal sepele semacam ini. Hanya saja kau tidak boleh membicarakannya atau memberi tahu siapa pun soal ini. Kau paham? Ini adalah rahasia di antara kita berdua. Apabila kau nekat membocorkan rahasianya, maka aku akan melenyapkanmu!"


Lion berbincang panjang lebar sambil menekan Andressa. Akan tetapi, gadis itu malah terlihat santai dan tidak menanggapi serius ancaman tersebut.


"Iya, tenang saja. Aku juga takkan berbicara kepada siapa-siapa. Kau tidak perlu khawatir masalah itu," ujar Andressa.


"Syukurlah kalau begitu. Mulai sekarang, kau bekerjalah lebih maksimal. Kau harus mengumpulkan alat sihir yang terdampar ke dunia ini. Kau juga boleh membunuh siapa saja yang ketahuan menggunakan sihir. Ini merupakan tindakan legal. Bila sesuatu tak diinginkan terjadi, maka aku akan senantiasa membantumu," tutur Lion.


"Ya, kau tidak perlu berceloteh panjang lebar. Aku juga mengerti apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Sekarang kau pergilah selesaikan tugasmu sendiri. Aku mau bermeditasi untuk memperkuat manaku supaya aku bisa menggunakan sihir kembali."


Andressa pergi begitu saja tanpa mendengar respon lebih lanjut dari Lion.

__ADS_1


"Cih! Dasar gadis itu! Mengapa dia tidak punya rasa takut sama sekali? Mungkinkah karena dia sudah pernah merasakan mati berkali-kali sehingga dia tak bisa lagi merasakan takut terhadap berbagai jenis ancaman?" gumam Lion berdecih sembari menatap punggung Andressa yang kian menghilang dari pandangan.


Lion juga kembali melanjutkan kesibukannya sebagai penjaga pembatas dimensi. Sedangkan Andressa berdiam diri di kamar seraya bermeditasi.


Andressa merasakan ada banyak sekali energi mana yang terasa baru bermasukan ke dunia ini. Yang mana, secara lambat energi tersebut berkumpul di sekitarnya.


"Aku rasa, tidak butuh waktu lama bagiku mengembalikan kekuatan sihirku lagi. Namun, aku punya firasat buruk soal ini. Tidakkah energi mana semakin bertambah banyak di dimensi ini? Jika benar, maka kemungkinan keretakan pada dinding dimensi kian melebar."


***


"Nona! Nona! Ada undangan untuk Anda!" Amelia berteriak dari kejauhan membawakan sebuah undangan entah dari siapa.


"Undangan? Dari siapa?"


Amelia mengedikkan bahu.


"Saya juga tidak tahu. Sebaiknya Anda periksa saja sendiri undangan dari siapa itu."

__ADS_1


Andressa lekas membuka undangan tersebut. Di halaman depan undangan tertulis nama Miria dan Gibson.


"Ternyata undangan pesta pertunangan Miria dan Gibson? Mereka sungguh bermaksud mengundangku?" Andressa bergumam kala melihat undangannya.


"Apa Anda berniat untuk menghadiri pertunangan mereka, Nona? Bagaimana pun mereka pernah membuat Anda menderita di masa lalu," tanya Amelia tampak bersimpati tentang masa kelam Andressa.


"Aku akan hadir. Lagi pula pertunangannya masih dua minggu dari sekarang," jawab Andressa.


"Ya ampun, Nona. Hati Anda sungguh lapang sekali."


Amelia menatap Andressa dengan mata berbinar-binar.


"Hentikan tatapanmu itu. Aku tidak suka jika kau melihatku begitu."


Andressa menaruh undangannya di dalam laci meja. Alasan dia menghadiri acara pertunangan itu adalah karena dirinya tidak ingin terlihat layaknya seorang pecundang.


'Aku disuruh membawa partner? Siapa kira-kira yang aku bawa nanti?'

__ADS_1


__ADS_2