
Duchess Fidel semakin geram mendengar perkataan Andressa. Gadis itu kian dibiarkan, kian menjadi-jadi. Amelia sengaja menguping perdebatan mereka berdua. Jantungnya berdebar saat Andressa melawan salah satu bangsawan paling berpengaruh di kekaisaran Emilian.
"Aku seorang bangsawan, jangan coba-coba mengajarkanku soal etiket. Lagi pula kau hanya seorang rakyat jelata, mana mungkin kau tahu tentang etiket bangsawan."
Andressa tersenyum masam. Ingin rasanya dia siramkan segelas air ke muka Duchess Fidel. Namun, ia tak mau melakukannya sebab pasti masalahnya nanti akan semakin merambat ke mana-mana.
"Aku juga tahu bagaimana etiket bangsawan. Aku tidak bermaksud mengajarkanmu, tetapi begitulah kenyataan yang sebenarnya. Kau tidak tahu etiket bangsawan mungkin karena dulunya kau berasal dari bangsawan tingkat paling rendah."
Andressa tersenyum mengejek Duchess Fidel. Inilah fakta yang semua orang ketahui. Duchess Fidel berasal dari keluarga bangsawan yang nyaris jatuh menjadi rakyat biasa. Dia bisa selamat karena berhasil memanjat menjadi istri dari Duke Fidel sampai hari ini.
"Kurang ajar! Dasar gadis tidak tahu sopan santun! Apa kau mau aku menghancurkan klinik ini?!" Duchess Fidel mulai mengancam menggunakan kliniknya.
"Coba saja kalau kau bisa. Kau akan berurusan dengan Kaisar bila kau berani melakukannya."
__ADS_1
"Apa? Kaisar?"
Duchess Fidel terdiam seketika Andressa mulai membawa-bawa Lorcan ke tengah masalahnya.
"Benar. Kaisar telah menghadiahkanku ini." Andressa memperlihatkan sebuah token istana kepada Duchess Fidel.
Wanita itu tertegun seketika token istana berada di tangan Andressa. Token istana yang tidak akan pernah didapatkan dengan mudah. Kali ini seorang rakyat biasa memiliki tokennya. Bahkan, di antara para bangsawan hanya Marquess Gencio yang memiliki token istana. Sekarang token itu juga ada pada Andressa.
"Jangan menuduhku sembarangan! Token ini diberikan langsung oleh Kaisar untukku. Kau bisa menanyakan kepada Kaisar dan aku yakin dia akan mengatakan bahwa dia memberikannya padaku. Jadi, jangan sombong hanya karena kau seorang bangsawan."
Duchess Fidel hanya bisa menggigit bibir. Dia marah sekaligus malu karena tidak bisa menjatuhkan Andressa dengan mudah.
"Baiklah. Aku pergi sekarang dan kau sebaiknya jauhi putraku. Aku tidak sudi punya menantu rakyat jelata sepertimu," ucap Duchess Fidel beranjak pergi.
__ADS_1
"Aku juga tidak sudi mempunyai mertua yang mukanya terlalu putih karena bedak dan make up."
Andressa terkekeh. Duchess Fidel langsung mengambil cermin dan melihat sendiri bayangan mukanya di cermin. Make upnya sungguh tidak natural sama sekali.
"Nona, mengapa Anda sangat berani melawan para bangsawan? Saya heran. Mungkinkah Anda sudah bosan hidup? Tidak ada rakyat biasa yang berani melawan bangsawan," tanya Amelia mendudukkan diri di atas sofa berhadapan dengan Andressa.
"Aku memang sudah bosan hidup. Jadi, kalau mereka membunuhku akibat penghinaan terhadap bangsawan, maka aku menerima dengan senang hati. Mati hanya tinggal mati, tidak ada yang spesial dari kematian."
Amelia terdiam. Perkataan Andressa merupakan perasaan terdalam gadis itu. Tidak ada makna kematian bagi Andressa sebab setelah mati dia akan terbangun lagi di tempat lain.
"Semua orang takut mati. Saya pun takut mati, tetapi mengapa Anda berbicara seolah-olah Anda pernah menghadapi kematian?"
"Ya, kau tidak perlu tahu. Hanya saja aku bisa memastikan kalau kematian tidaklah semenakutkan itu," pungkas Andressa.
__ADS_1