Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kesalahan Jiwa Andressa


__ADS_3

Gibson menyerahkan satu kantong berisi koin emas kepada Andressa. Gadis itu sedikit syok melihat jumlah uangnya.


"Keluarga duke Fidel memang kaya ya. Baiklah, aku terima ini." Tanpa berpikir panjang, Andressa langsung mengambil uang tersebut dari tangan Gibson. "Kau boleh pergi sekarang karena urusanmu sudah selesai kan?"


Andressa mengusir Gibson dari klinik. Dia tidak mau melihat wajah Gibson lebih lama sebab akan mengingatkannya pada sikap kurang ajar pria itu. Namun, Gibson enggan angkat kaki sebelum dia bisa berbincang dengan Andressa.


"Tunggu sebentar! Ada yang ingin aku tanyakan padamu," kata Gibson menahan langkah Andressa.


Andressa memutar bola mata malas. Padahal ia mau cepat-cepat naik lagi ke lantai atas, tetapi pria ini malah menghalanginya.


"Ada apa lagi? Cepatlah bicarakan di sini!" desak Andressa.


"Apa kau yakin ingin menjadi tunangan kaisar? Maksudku, kau tahu sendiri bagaimana perlakuan para bangsawan kepadamu kan? Tolong pikirkan baik-baik mengenai keputusanmu bertunangan dengan kaisar."


Andressa sudah malas membahas masalah ini. Dia hanya ingin bertunangan dengan Lorcan selama beberapa waktu saja, tetapi banyak sekali persoalan yang dia hadapi.


"Ini bukan urusanmu! Aku sendiri yang memutuskannya, itu artinya aku sudah siap menerima konsekuensi apa pun. Jangan membuatku kesal karena kau terus mencoba mematahkan keputusanku."


Andressa menanggapinya dengan sangat tidak ramah. Gibson tampak terbiasa dengan sikap Andressa seperti itu. Dia tidak merasa tersinggung sedikit pun. Gadis itu sengaja bersikap kasar supaya Gibson menjauhinya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Maafkan aku, seharusnya dulu aku menyadari lebih cepat perasaanmu. Tidak bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi? Izinkan aku menebus kesalahanku."


Mimik muka Gibson dipenuhi penyesalan. Andressa tak peduli soal seberapa besar rasa penyesalannya itu. Bagi dia, pria yang suka menyakiti hati perempuan tidak layak diberi kesempatan.


"Kesempatan? Kau tidak sedang bergurau kan? Bagaimana bisa memberi kesempatan kepada orang sepertimu? Nikmati saja penderitaanmu sendiri. Aku tidak mau lagi punya hubungan apa pun denganmu." Andressa menanggapinya secara ketus.


"Tidak ada kesempatan ya? Aku paham. Kalau begitu, aku pamit. Terima kasih karena sudah mau berbicara denganku walau kau terpaksa melakukannya."


Gibson perlahan berbalik badan meninggalkan klinik Andressa. Satu gangguan telah pergi, tetapi setelah itu muncul lagi gangguan lain yakni kedatangan Camille. Adik kakak ini memang selalu ingin terlibat dalam hidup Andressa.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan sampai kaisar terpikat olehmu? Apa kau mencuci otak kaisar supaya beliau tergila-gila denganmu?"


Andressa benar-benar terkejut sampai ia sendiri lupa bagaimana cara mengekspresikan rasa kagetnya itu.


"Hah? Omong kosong apa yang kau katakan? Apa kau sudah gila?!" Andressa marah bercampur jengkel.


"Aku tidak gila! Justru kau yang gila! Aku ingin tahu apa yang telah kau perbuat kepada kaisar? Kenapa beliau mau bertunangan dengan rakyat jelata sepertimu? Pasti ada yang tidak beres di sini. Jujurlah padaku!"


Ekspresi Camille terlihat lucu. Andressa nyaris tertawa mendengar celotehan Camille.


"Apa kau seorang anak kecil? Bagaimana kau bisa punya pikiran sependek itu? Astaga, itulah pentingnya membaca buku biar wawasanmu bertambah dan tidak terlihat bodoh seperti ini," tutur Andressa meledek Camille.


"Keterlaluan!" Camille membentak Andressa. "Aku tidak bodoh! Beraninya kau mengatakan aku bodoh! Kau jangan bersikap seolah-olah kau sudah menang dariku karena berhasil memikat hati kaisar."


Wow! Camille marah besar. Terlihat jelas sekali bahwa sebenarnya dia iri terhadap apa yang didapatkan Andressa. Dia menolak mengakui kalau Andressa lebih hebat darinya dan menolak mengakui pesona Andressa sebagai seorang wanita.


Mendengar suara cempreng Camille meneriakinya, Andressa tertawa kecil. Sangat menyenangkan melihat Camille memberi reaksi seperti demikian terhadap ledekannya.


"Kalau tidak bodoh, maka kau takkan menghampiriku kemari. Justru seharusnya kau mempersiapkan dirimu menjebakku dibanding membuang-buang tenaga memarahiku. Ini menunjukkan kalau otakmu kosong dan hanya diisi angin saja."


Kedua tangan Camille terkepal kuat, ia bersiap-siap menghantam kepala Andressa, tetapi gadis itu malah sengaja berdiri menjauh darinya.


"Apa kau sedang mencoba menyulut api kemarahanku? Sepertinya memang percuma saja aku menghampirimu kemari. Aku masih yakin kalau kau menggunakan trik busuk supaya kaisar mau bersamamu. Lihat saja, aku akan buat kaisar terpikat denganku sebelum kau resmi menjadi permaisuri."

__ADS_1


Camille memberi Andressa gertakan. Apa ia peduli dengan gertakkan kecil itu? Tentu tidak. Selagi tidak mengganggu aktivitasnya sebagai seorang tabib dan tidak mengganggu kedamaian para pasien, maka Andressa memutuskan untuk mengabaikan wanita ini. Lagi pula hanya membuang waktu bila dia meladeni kebodohan Camille yang tak ada sudahnya.


"Silakan kalau kau bisa. Aku tak yakin kau bisa menang melawanku," ujar Andressa tersenyum miring.


"Baiklah, kau tunggu saja."


Camille memutar badan, ia beranjak meninggalkan klinik sambil menghentakkan kakinya ke atas lantai sampai mengeluarkan suara mengusik suasana tenang. Tidak ada dewasanya sama sekali, sama saja seperti anak kecil yang tidak dituruti perintahnya.


"Ada-ada saja. Aku tidak habis pikir harus melawan bangsawan seperti ini. Seharusnya aku buat saja dia tidak bisa berbicara selamanya," gumam Andressa.


Seusai pertemuan dengan Camille, ia kembali ke ruangannya. Lion masih di sana menghabiskan seluruh cemilan yang awalnya disediakan untuk dia.


"Kenapa kau masih belum pergi? Bukankah kau punya banyak pekerjaan?" tanya Andressa.


"Ya, pekerjaanku memang masih banyak dan menumpuk, tetapi aku butuh sedikit waktu santai. Aku kemari ingin menanyakan, apa kau sudah mengumpulkan banyak alat sihir yang tersebar di dunia ini?"


Andressa menghela napas. Dia mengeluarkan satu per satu alat sihir yang berhasil dikumpulkan beberapa waktu belakangan ini.


"Aku hanya dapat segini saja dan itu pun bukan alat sihir yang berguna. Kau bawa saja semuanya, aku tidak butuh alat-alat ini."


"Baiklah, biar aku menyimpannya."


Dalam sekejap alat sihir itu menghilang dari meja Andressa. Lion membawanya untuk dikembalikan ke dunia asalnya.


"Oh iya, pasien yang koma itu kenapa tidak kau coba pulihkan dia menggunakan sihirmu? Seharusnya kau bisa melakukannya kan?" Lion bertanya, ia tampak penasaran.


"Karena aku tidak bisa melakukannya. Butuh mana yang cukup besar memulihkannya sepenuhnya. Jadi, aku hanya bisa melakukannya secara perlahan. Mungkin nanti dia bisa pulih sepenuhnya setelah beberapa hari. Kau tahu sendiri dunia ini tidak punya banyak pasokan energi mana. Cukup sulit bagiku sembarangan menggunakan sihir healer sedangkan masih banyak pasien yang perlu aku tangani," jelas Andressa.


Andressa terdiam sepersekian detik memandang Lion.


"Tumben sekali. Memangnya kau mau ke mana? Apa yang harus aku bantu?" Andressa tampak tak enggan menerima permintaan Lion selagi tidak memberatkannya.


"Sekarang kondisi alam semesta bertambah kacau. Aku mau kau melakukan pemeriksaan ulang terhadap seluruh wilayah di dunia ini. Tenang saja, aku akan memberimu kertas mantra teleportasi karena aku rasa monster magis masih berkeliaran di dunia ini melewati portal. Bagaimana? Kau bisa melakukannya kan?"


Andressa berpikir sejenak, ia tidak bisa langsung menjawabnya. Namun, setelah dipikirkan berulang kali, rasanya tidak ada salahnya ia membantu Lion sebab dia punya waktu senggang beberapa waktu ke depan.


"Kau tidak menghilang lama kan? Aku bisa membantumu jika kau tak terlalu lama mengurus pekerjaanmu."


Lion menghela napas lega.


"Syukurlah. Aku hanya pergi sebentar, mungkin sekitar tiga minggu. Nanti aku akan kembali lagi menjelang kau berangkat menghadiri pertemuan tabib di kekaisaran Dorton," tutur Lion.


"Ya sudah, tidak apa-apa kalau begitu."


Beban Lion terasa ringan seketika. Tumben sekali Andressa bisa dimintai bantuan seperti ini. Akan tetapi, Lion tak terlalu memikirkannya.


"Terima kasih. Dan juga aku memintamu untuk berhati-hati karena mungkin pihak musuh akan mengintaimu secara terang-terangan." Lion memberi pesan serius menjelang dia kembali ke dinding pembatas dimensi.


"Musuh? Hei, apa kau tahu siapa musuhku? Aku rasa dia sudah terlalu menggangguku sepanjang waktu aku di sini."


"Aku tidak akan memberi tahumu sekarang. Nanti kau akan mengetahuinya sendiri. Ada banyak rahasia yang belum terungkap. Jadi, tolong persiapkan dirimu menerima kenyataan yang mungkin mengejutkanmu nantinya. Sekarang aku pamit, jaga dirimu baik-baik."


Raut muka Lion sebelum menghilang pergi terlihat serius. Andressa jadi terpikir soal ini. Sampai sekarang dia masih belum tahu siapa musuh sebenarnya di sini.

__ADS_1


'Aku harap bisa mengetahuinya nanti. Sejujurnya saja aku merasa terganggu atas ucapan Lion barusan.'


***


Lion saat ini telah tiba di dinding pembatas dimensi. Dia bersama rekan yang lainnya tengah disibukkan oleh segudang pekerjaan. Lion hanya dapat bersabar sebentar sampai pekerjaannya selesai dilakukan.


"Lion, bagaimana kondisi Andressa? Dia baik-baik saja kan?" tanya salah seorang rekan kerja Lion.


"Ya, dia baik-baik saja. Mengapa kau tiba-tiba bertanya soal dia? Biasanya juga kau dan yang lain tidak terlalu mempedulikannya," jawab Lion terdengar tidak ramah.


"Kami penasaran karena bagaimana pun gadis itu adalah jiwa yang harus kita awasi. Kita tidak boleh sampai kehilangan jiwanya lagi. Alam sementa akan semakin kacau kalau dia berhasil kabur melalui celah dinding dimensi."


Lion menghela napas berat, sorot matanya menatap jengkel teman-temannya.


"Bukankah sedari awal ini akibat kelalaian kalian? Jika saja waktu itu kalian mengawasi dengan baik dinding pembatas dimensi, kekacauan ini takkan pernah terjadi."


Semua rekan Lion mengguratkan mimik penuh penyesalan dari wajah mereka.


"Ya, kami tahu itu. Namun, gadis itu juga melakukan kesalahan. Jiwanya marah dan mengamuk saat malaikat maut hendak membawanya pergi ke akhirat. Akibat kemarahannya itu, entah bagaimana caranya jiwanya malah membuat dinding pembatas dimensi menjadi rusak. Kami minta maaf, tetapi dia jauh lebih salah lagi," tutur rekan kerja Lion yang lain.


"Dia memang salah, tetapi dia takkan mengingat kesalahannya itu. Bagaimana pun sejak awal dia adalah jiwa yang menolak kematian dirinya sendiri dan kematian orang-orang yang dia sayangi. Sekarang dia sudah kembali ke dunia asalnya. Kita sudah membantu ia balik ke masa dirinya masih belum tahu apa-apa. Tenang saja, berkat ingatan masa lalunya di beberapa kehidupan, mungkin kali ini dia bisa berhasil menciptakan kebahagiaannya sendiri."


Mendengar tanggapan Lion, mereka merasa sedikit lebih tenang. Di sini jabatan Lion berada di level yang tinggi dibanding mereka semua sehingga perintah Lion merupakan sebuah keharusan untuk mereka lakukan.


"Apa ada kemungkinan dia mengingat kehidupan pertamanya? Kita telah membantu membalikkan waktu, tetapi sayangnya karena kekacauan dimensi, kita tidak bisa mengembalikan seluruh energi sihir ke tempat semula. Mungkin dunia ini akan lebih kacau dibanding kehidupan pertamanya."


"Ya, mungkin saja seperti itu. Namun, tidak ada gunanya kalian mengkhawatirkan dia. Khawatirkan saja diri kalian sendiri sebab Andressa selalu punya cara mengatasi masalahnya. Aku yakin, meskipun dia mendapatkan kembali ingatan kehidupan pertamanya, dia pasti memiliki rencana lain di otaknya," ucap Lion meyakinkan rekan-rekannya.


Mereka saling bertukar pandang, mungkin yang dikatakan Lion ada benarnya juga.


"Baiklah, mari kita percaya kepada Andressa. Semoga dia tidak menghancurkan harapan kita terhadapnya dan juga semoga semua kekacauan ini bisa segera berakhir agar kita tidak perlu lagi menjalani hari-hari yang sulit."


Begitulah akhirnya mereka menerima pemikiran Lion. Meskipun Lion tampak tak peduli dengan Andressa, tetapi sebenarnya dia selalu mementingkan diri gadis itu sehingga dia nekat melakukan apa pun supaya Andressa bisa hidup lebih tenang.


'Cukup menyulitkan. Lika-liku kehidupan Andressa kali ini akan memberatkannya. Aku harap dia bisa segera bertemu orang tuanya dan menikah dengan pria yang dia cintai. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantunya.'


Beberapa jam berselang, tiba-tiba saja Lion dan rekannya dihebohkan oleh guncangan keretakan pada dinding pembatas dimensi. Mereka berlari ke sana kemari membantu meredakan guncangan tersebut.


"Ah, sial! Apa yang sedang terjadi? Cepat pergilah ke ruang kontrol! Coba kalian usahakan mengontrol guncangan ini. Entah mengapa, aku merasakan firasat buruk."


Mereka berhamburan. Ketakutan menimpa mereka, tetapi mereka tidak bisa berhenti begitu saja. Sampailah ketika angin kencang menerpa. Sekilas terlihat di antara angin itu terdapat aliran mana yang masuk ke dunia ini. Aliran mananya menyebar ke seluruh dunia dalam sekejap.


"Lion, bagaimana ini? Apa tidak ada yang bisa kita lakukan? Energi mana yang masuk melalui keretakan dinding dimensi melebihi jumlah sebelumnya. Apabila kita biarkan ini terjadi, mungkin kehancuran alam semesta akan semakin dekat."


Lion tampak pusing. Sesungguhnya ia tak punya solusi apa pun untuk sekarang. Namun, dia berusaha untuk tetap berpikir mencari solusi lain.


"Kalian tetaplah di sini! Perkecil celahnya agar energi mana tidak masuk lebih banyak lagi. Aku akan pergi untuk memblokir sebagian energi mana yang sudah terlanjur tersebar. Jangan khawatir! Setidaknya kita bisa meminimalisir kemungkinan terburuk yang bisa terjadi nanti."


"Baiklah, kami akan mengusahakannya."


Lion pun bergerak pergi melakukan pemblokiran aliran mana. Dia cemas energi mana ini bisa sampai ke tubuh manusia yang tidak bertanggung jawab. Dunia bisa hancur dalam waktu dekat bila tidak segera dihentikan.


"Aku harus bergegas! Jangan sampai aku terkecoh lagi."

__ADS_1


__ADS_2