Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Rencana Lain


__ADS_3

Camille membatu di tempat. Sekarang dia paham mengapa ibu suri tidak bisa menentang pertunangan antara Andressa dan Lorcan.


Seakan-akan digulung badai besar, Camille sampai tidak berani bereaksi sedikit pun. Dia tidak punya kekuatan lebih untuk melawan Andressa. Selain gadis di hadapannya itu punya kemampuan yang membuat sang kaisar takjub, parasnya juga menawan melebihi dirinya.


Tanpa sadar, Camille menyadari hal tersebut. Dia punya banyak kekurangan dari yang ia kira. Bahkan, Camille dapat melihat adanya tembok besar menjulang antara dirinya dan Andressa. Sungguh menyedihkan, tetapi Camille langsung menepis segala pikiran buruk tersebut.


“Kaisar melakukan itu semua demi bertunangan dan menikahimu? Tidak bisa dipercaya! Bagaimana mungkin kaisar bisa menghapus peraturan yang sudah ada sejak zaman dahulu? Dan lagi beliau melakukannya tanpa persetujuan dari ibu suri,” tutur Camille, nada suaranya terdengar bergetar.


“Perintah kaisar adalah mutlak. Siapa saja tidak bisa menolak atau menentang perintah dari kaisar tanpa alasan yang jelas. Jadi, sampai sini kau mengerti? Kaisar hanya sedang menggunakan kekuasaannya sendiri,” tegas Andressa.

__ADS_1


Camille beringsut mundur ke belakang. Setelah dia rasakan kembali, Andressa memang bukan lawannya. Seharusnya, sejak awal ia memilih untuk tidak memusuhi Andressa. Sekarang inilah akibatnya. Dia tertekan serta pikirannya menjadi berkecamuk tak menentu. Namun, lagi-lagi dia menampik perasaan itu kembali.


“Baiklah, terserah kau saja. Apabila memang itu yang terjadi, maka aku harus mencari cara lain untuk merebut posisi itu darimu kan? Sangat mudah. Lagi pula keluargaku punya kekuasaan lebih besar darimu. Jika saja aku mengirim surat lamaran pertunangan kepada kaisar, apakah para bangsawan akan berpaling darimu? Ya, aku yakin mereka akan memilihku dibanding dirimu.”


Andressa tertawa kecil. Betapa gigihnya Camille ingin menjadi seorang permaisuri.


“Benarkah? Kalau begitu, cobalah! Buktikan kepadaku bahwa apa yang kau katakan itu sebuah kebenaran. Aku tidak percaya kekuasaan keluargamu dapat mempengaruhi penilaian para bangsawan. Berusahalah, Camille, aku akan melihat hasil dari kegigihanmu itu.”


“Dasar sombong! Aku akan mematahkan keangkuhanmu itu. Lihat saja nanti siapa yang akan menjadi pemenangnya. Lagi pula kau berasal dari rakyat jelata, tidak mungkin wanita berdarah keturunan rendahan sepertimu dapat mencapai puncak mustahil seperti itu,” gumam Camille menggerutu.

__ADS_1


Segera setelah itu, Camille bergegas meninggalkan istana. Dia berencana akan melakukan pembicaraan dengan sang ayah seusai tiba di kediamannya. Hanya ayahnya lah harapan satu-satunya untuk saat ini karena dia tahu pasti bahwasanya kekuasaan merupakan pusat dari pemikiran semua orang di Emilian.


“Ayah, apa kau sedang sibuk?” Camille menemui Duke Fidel di ruang kerja.


“Ada apa, Camille? Tidak biasanya kau mendatangi Ayah ke sini.”


Terpaksa Duke Fidel menjeda sejenak pekerjaannya demi berbincang bersama sang putri.


“Begini … Ayah sudah tahu kan soal berita pertunangan kaisar?” Camille mendudukkan badan di sofa.

__ADS_1


“Ya, aku tahu itu. Apa kau kecewa mendengarnya? Aku tahu kau mendamba-dambakan untuk menjadi seorang permaisuri. Maka itulah sebabnya, Camille, Ayah sudah menyiapkan rencana untuk membatalkan pertunangan kaisar dengan Viscountess Erriel.”


Duke Fidel menyeringai. Dia akan melakukan apa saja demi memperluas pengaruhnya di kekaisaran ini, bahkan jika ia memang harus mengorbankan perasaan putrinya.


__ADS_2