Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kemarahan Gibson


__ADS_3

Lirikan mata Miria mengisyaratkan kebohongan. Mimik mukanya resah akibat kebohongan yang ia ciptakan demi terhindar dari tanggung jawab atas masalah yang dia perbuat. Akan tetapi, mau seberapa keras pun usahanya untuk mengelak, Andressa pasti terus menekannya.


"Tertinggal? Benarkah? Aku tidak percaya. Padahal aku tahu persis bahwa bros ini satu-satunya yang ada di kekaisaran Emilian. Aku masih ingat kalau bros ini dibawa masuk oleh pihak luar dan kau yang memenangkan pelelangan atas brosnya. Kau mau mengelak bagaimana lagi? Jangan mencoba memanipulasi fakta yang ada di depan matamu."


Penuturan Andressa kian memperkeruh suasana. Miria terjebak pada kebohongannya sendiri. Entah bagaimana setelah ini pandangan orang lain terhadap dirinya.


"M-Mungkin kau keliru. Bros itu ada di mana-mana. Mustahil jika aku seorang saja yang memakainya," ujar Miria bersikeras tak mau mengaku.


Kemudian Andressa menunjukkan sisi belakang bros. Tergurat sebuah huruf G di sana.


"Ini merupakan logo dari pembuat perhiasan terkenal. Logonya membuktikan kalau ini adalah bros asli dan langka. Tidak semua orang bisa memiliki bros tersebut. Mengakulah, Miria! Kau takkan menang melawan kenyataan yang aku suguhkan ini."


Miria mulai merasa frustrasi berada di bawah tekanan Andressa sekaligus tatapan orang-orang yang mengarah padanya. Reputasinya yang hancur bertambah hancur akibat ulah Andressa.

__ADS_1


'Apa yang harus aku katakan? Aku tidak bisa mengelak lagi. Apa aku harus mengaku? Tidak! Jika aku mengaku, maka kejayaan diriku mungkin berakhir di sini,' batin Miria.


Miria terpojok. Andressa berhasil membuatnya terhening seribu kata.


"Kenapa kau diam saja? Jika kau diam, maka aku anggap ini memang benar. Jadi, tolong beri ganti ruginya sesegera mungkin. Tenang saja, aku takkan melaporkan masalah ini kepada pihak istana karena kaisar sendiri tampaknya sudah tahu kebusukanmu," kata Andressa lanjut bersuara.


"K-Kau ... dasar jal*ng! A-Aku ...."


"Ya sudah, aku pamit dari sini. Ingat! Kirimkan ke alamatku uang ganti rugi. Jangan sampai aku sebarkan masalah ini ke seluruh penjuru Emilian."


Andressa berbalik badan sembari tersenyum penuh kemenangan. Dia benar-benar puas melihat ekspresi takut Miria.


'Nikmatilah rasa takutmu itu. Rasakan akibat yang kau terima seusai berani bermain-main denganku.'

__ADS_1


Walaupun Andressa menggertak Miria akan menyebarkan masalah ini, tetapi ia tak melakukannya. Justru kabar tersebut beredar dengan sendirinya dari mulut ke mulut.


Andressa tak perlu melakukan apa pun. Orang-orang yang berpihak padanya membantu ia untuk mendapatkan ganti rugi penuh.


Masalah ini pun sampai ke telinga Gibson. Pria itu tak menyangka Miria akan melakukan sesuatu yang nekat.


"Miria, jelaskan kepadaku situasi macam apa ini?! Berani sekali kau membakar klinik Andressa! Apa yang dilakukan Andressa sampai kau sebegitu benci terhadapnya?!"


Gibson memarahi Miria habis-habisan. Wanita itu tak bereaksi. Dia dibuat hening tak berkutik oleh tunangannya sendiri.


"Aku melakukannya karena tidak terima klinik Andressa membuat klinik keluargaku menjadi sepi. Aku tak melakukan sesuatu yang salah," ujar Miria dengan suara kecil.


"Hei, akui saja kesalahanmu! Jangan menjadikan kesalahanmu sebagai sebuah kebenaran! Apa pun alasannya, kau tidak dibenarkan melakukan itu! Kau tahu? Sekarang ada banyak pasien yang terlantar setelah klinik Andressa terbakar. Berhentilah melarikan diri! Cepat selesaikan ini sebelum aku bertindak untuk mengakhiri pertunangan kita."

__ADS_1


__ADS_2