Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kelemahan Monster Magis


__ADS_3

Melihat Andressa yang setengah panik dan gelisah, firasat Lorcan menjadi tak karuan. Dia belum pernah melihat Andressa sepanik ini sebelumnya.


"Kenapa kau melarangku pergi ke sana? Apa ada alasannya?" tanya Lorcan.


"Monster yang muncul di pegunungan timur itu sangat bahaya. Apabila kau secara sembarangan melawan mereka, maka kau akan kehilangan nyawa. Terlebih lagi langit sudah gelap dan monster-monster itu beraksi ketika malam. Mereka akan berhenti beraksi saat matahari terbit sebab penglihatan dan indera penciuman mereka buta oleh sinar matahari," tutur Andressa menjelaskan panjang lebar.


Seluruh telinga yang mendengar sejenak tercengang. Mereka tidak percaya Andressa punya banyak informasi penting perihal monster magis tersebut.


"Bagaimana kau bisa tahu? Jadi, makhluk itu disebut monster? Apa kau pernah bertemu mereka sebelumnya?" Lorcan melontarkan berbagai pertanyaan sebagai isyarat rasa penasarannya.


"Itu tidak penting! Yang terpenting sekarang bila kau bersikeras pergi ke sana, maka ajak aku bersamamu! Aku tahu di mana titik lemah para monster itu. Bagaimana? Aku boleh pergi kan?"


Lorcan tidak langsung merespon. Terlebih dahulu ia berpikir menjelang mengambil keputusan mengajak Andressa atau tidak. Ada beberapa pertimbangan, tetapi jika Andressa tidak pergi, maka mungkin saja bawahannya dihabisi oleh monster-monster itu.


"Baiklah, kau boleh pergi bersamaku. Dengan catatan, kau tak boleh membahayakan dirimu sendiri. Paham?"

__ADS_1


Andressa mengangguk.


"Ya, aku paham."


Di menit itu, Andressa segera mengambil seekor kuda untuk dia tunggangi. Mereka berangkat bersama-sama menuju ke pegunungan timur. Jarak antara pegunungan timur dan lokasi mereka sebelumnya tidaklah jauh sehingga tak butuh waktu banyak bagi mereka tiba di sana.


"Hawanya terasa mencekam. Apa mungkin semua monster di sana telah pergi ke pemukiman penduduk?"


Andressa melirik ke sekitar. Pemukiman penduduk sangat jauh dari pegunungan tersebut. Ditambah pergerakan monster magis sangat terbatas di dunia ini sebab mereka butuh sihir yang banyak untuk bergerak bebas.


Andressa dan Lorcan memacu laju kuda mereka. Hingga tibalah mereka di hadapan monster yang sedang lahap menerkam beberapa ekor hewan yang biasa bernaung di hutan pegunungan timur.


"Mereka sangat menakutkan." Para kesatria tampak merinding takut.


"Tenanglah! Jangan sampai rasa takut itu menguasai kalian," seru Lorcan menenangkan bawahannya.

__ADS_1


Andressa menghela napas lega.


'Untunglah monster magis ini kategori monster terlemah. Jadi, aku tidak perlu mengeluarkan banyak kekuatan untuk menghabisi mereka. Nah, sekarang waktunya aku bergerak melenyapkan mereka,' batin Andressa.


Andressa menarik pedang dari sarung. Dia bersiap-siap membantai habis seluruh monster yang berada di depan mata.


"Lorcan, aku akan memberi tahumu titik kelemahannya. Apa kau bisa melihat baru berwarna merah darah di jantungnya?" Andressa menunjuk ke arah jantung monster.


"Ah, itu batu berbentuk jantung? Ada apa dengan batu itu?"


"Apabila ingin melenyapkan mereka, maka kau harus menusuk tepat ke jantungnya itu. Mereka otomatis akan mati jika kau berhasil menikamnya karena kelemahan monster magis terletak pada batu jantung," papar Andressa.


"Aku mengerti. Jadi, aku cukup menikamnya saja? Apabila aku menebas kepalanya, apa dia masih bisa hidup?"


Andressa menjawab, "Masih bisa sebab monster magis punya kemampuan pemulihan diri yang sangat kuat."

__ADS_1


__ADS_2