Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Sesuatu yang Buruk Terjadi


__ADS_3

Andressa mengiyakan permintaan Lorcan. Lagi pula tidak ada alasan baginya menolak permintaan Lorcan.


Sesudah itu, Lorcan secara tidak sadar melangkah pergi ke luar gedung klinik. Akan tetapi, Andressa tiba-tiba menahannya.


"Hei, katanya kau mau diperiksa olehku. Ayo ke ruanganku sekarang," ujar Andressa menarik pergelangan tangan Lorcan.


"Aku baik-baik saja sekarang. Kau tidak perlu memeriksaku," tutur Lorcan berupaya menolak.


"Tidak bisa begitu, kau harus diperiksa karena takutnya kondisi tubuhmu memburuk jika tak diperiksa."


Lorcan gelagapan. Secara bersamaan, dia takut ketahuan bahwa dia sedang berpura-pura. Makanya kala itu Lorcan memberi isyarat kepada Jason untuk membantunya keluar dari situasi tersebut. Namun, Jason sengaja mengalihkan pandangan seolah-olah ia tak sadar dengan isyarat Lorcan.


'Sial! Awas saja kau nanti, Jason!' Lorcan menggerutu dalam hati seraya memelototi Jason.


Pada saat Lorcan diseret ke ruangan Andressa, Tiba-tiba saja Calvin datang buru-buru menghampiri gadis itu.


"Nona, ada pasien gawat darurat!" Calvin memberi tahunya dengan sangat panik.

__ADS_1


"Pasien gawat darurat?" Sontak Andressa melepas cengkeraman tangannya dari Lorcan. "Bagaimana kondisinya?"


"Pasien adalah seorang anak kecil, dia terjatuh dari lantai dua." Calvin pun menjelaskan secara detail kondisi pasien tersebut.


"Sepertinya dia butuh tindakan operasi," gumam Andressa. "Maafkan aku, Lorcan. Tampaknya aku tidak bisa memeriksamu hari ini. Tolong minta saja tabib lain memeriksamu. Sekarang aku harus pergi menangani pasien."


Lorcan menghela napas lega. Akhrinya, ia tak perlu khawatir lagi Andressa akan memarahinya bila ketahuan berbohong.


"Ya, tidak apa-apa. Sebaiknya kau fokus saja pada pasienmu. Aku nanti bisa periksa dengan bawahanmu."


"Baiklah, maafkan aku dan aku pergi dulu."


"Untung saja aku bisa selamat kali ini. Tidak bisa dibayangkan bila Andressa marah karena aku berpura-pura sakit agar dapat menemuinya. Oh iya, aku harus mencari perhitungan dengan Jason."


***


Pada malam harinya, Andressa dan sejumlah tabib lainnya terlihat masih berada di klinik. Gadis itu memutuskan bertugas di malam hari sebab pikirannya terlalu kacau sehingga ia butuh sesuatu yang dapat mengalihkan pikiran tersebut.

__ADS_1


"Nona, apa Anda tidak akan pulang? Padahal malam ini Anda tidak punya jadwal di klinik," tanya Amelia.


"Tidak, aku berencana bermalam di sini. Lagi pula masih banyak hal yang harus aku kerjakan," jawab Andressa.


"Baiklah kalau begitu, sekarang saya pamit pulang lebih dulu, Nona. Pekerjaan saya sudah selesai, jadi saya mohon maaf meninggalkan Anda di klinik."


"Ya, pulanglah. Lagi pula kenapa kau pindah ke rumah yang jaraknya sedikit lebih jauh dari klinik? Padahal kau bisa tinggal di rumahku."


Amelia tertawa canggung.


"Tidak terlalu jauh, jika berjalan kaki hanya memakan waktu lima belas menit. Saya tidak ingin merepotkan Anda, Nona. Terlebih lagi akan lebih nyaman bila saya menyewa rumah sendiri. Uang dari gaji yang Anda berikan sangat berlebih sehingga sayang sekali bila saya tak menggunakannya dengan baik."


Andressa menghela napas.


"Baiklah, terserah kau saja. Hati-hati di jalan dan besok jangan sampai telat."


Amelia membungkuk sekilas lalu buru-buru pergi ke luar dari klinik. Sekarang Andressa tidak punya teman mengobrol sebab para tabib yang lain juga sedang sibuk.

__ADS_1


Hingga di tengah malam, sesuatu yang buruk terjadi pada klinik miliknya.


__ADS_2