
Andressa menepuk pelan keningnya. Dia lupa memikirkan jawaban soal pertanyaan tersebut. Sekarang dia terhening sambil menggali isi pikirannya demi menemukan alasan yang tepat dan takkan dicurigai.
"Sebenarnya ada seseorang yang memberitahuku, tetapi orang itu menghilang setelah membeberkan informasi mengenai monster-monster itu. Orang itu sepertinya punya pengetahuan yang berada di luar batas hal normal di dunia ini," jelas Andressa, tentu saja berbohong.
Andressa berakting seolah-olah yang dia katakan itu merupakan sebuah kebenaran. Hanya itulah jawaban yang dia dapatkan untuk menyimpan baik-baik rahasia terkait jiwanya yang berasal dari dimensi yang berbeda.
"Benarkah begitu?" Lorcan menatap lekat Andressa, dia tampak masih belum mempercayai gadis itu seratus persen.
Andressa berusaha tetap tenang agar kebohongannya tak terbongkar.
"Apa kau meragukanku? Padahal aku sudah jujur padamu." Andressa mengerucutkan bibir, dia bersikap seakan-akan marah karena Lorcan mencurigainya.
Lorcan seketika merasa bersalah sebab secara tidak langsung malah menuding Andressa tak jujur terhadapnya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk meragukanmu. Tolong jangan marah padaku." Lorcan membujuk Andressa.
__ADS_1
"Ya, aku tidak marah, tetapi mulai sekarang tolong percayalah dengan apa pun yang aku katakan. Aku tidak mungkin membohongimu," tutur Andressa.
Lorcan pun menjawab, "Iya, aku janji akan percaya pada apa yang kau katakan seterusnya. Sekali lagi tolong maafkan aku."
Andressa tersenyum lega. Sedikit tenang sebab Lorcan ternyata mudah dia bohongi.
Kemudian para kesatria mengumpulkan seluruh bangkai monster magis di satu tempat. Ukuran tubuh monster magis itu sangat besar dan butuh empat orang untuk mengangkat satu tubuh monster magis. Selepas itu, mereka mengambil batu jantung untuk dijual nanti di ibu kota.
"Nona, apa yang harus kita lakukan dengan bangkai monster ini? Kita tidak mungkin membiarkan bangkai-bangkainya membusuk di sini," tanya seorang kesatria.
"Kalau begitu, persiapkan kayu bakar untuk membakar bangkai monster-monster ini. Kita tidak bisa membakarnya secara sembarangan karena aku yakin baunya menyengat dan takutnya nanti sampai ke penciuman penduduk sekitar." Lorcan menambahkan perintah.
"Baik, Nona, Yang Mulia."
Para kesatria tersebut bergerak secepat mungkin melaksanakan perintah dari kedua orang itu. Sementara mereka sedang sibuk, Andressa berjalan mendekati portal dunia monster yang belum tertutup sepenuhnya.
__ADS_1
"Aku tadi melihat monsternya keluar dari lubang aneh ini," kata Lorcan.
"Ya, makanya aku mau menutupnya supaya tidak keluar lagi monster lain yang dapat menghancurkan pemukiman penduduk dalam sekejap. Selain itu, aku juga khawatir tentang kemunculan monster yang lebih kejam dari ini."
Kedua mata Lorcan melebar sempurna.
"Maksudmu, ada monster lebih kuat dari yang kita lawan tadi?"
Andressa mengangguk pelan.
"Monster punya berbagai jenis tingkatan berdasarkan kekuatan mereka. Sebenarnya, monster ini disebut sebagai monster magis. Mereka memiliki kekuatan melebihi manusia biasa dan kekuatannya itu beragam. Ada di antaranya yang bisa menyerap jiwa manusia atau memangsa manusia untuk dijadikan sebagai cadangan energi yang besar. Aku tidak bisa memberi tahukan detailnya, tetapi kurang lebih begitulah penjelasannya."
Lorcan paham. Dia mengerti dengan mudah penjelasan dari Andressa.
"Ternyata seperti itu. Sekarang apa kau punya cara menutup lubang ini?"
__ADS_1