Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Gawat, Nona!


__ADS_3

Lorcan telah tiba di medan perang. Saat ini ia sedang berada di tenda pasukan perang kekaisaran Emilian. Semua orang tampak sibuk menurunkan persediaan makanan, obat-obatan, dan cadangan senjata. Sedangkan Lorcan terlihat tengah mengecek persenjataan miliknya yang akan ia gunakan untuk melibas musuh.


“Yang Mulia, Nona Andressa menitipkan ini kepada saya. Beliau menyuruh saya untuk membagikannya kepada Anda dan pasukan perang.”


Jason memberikan sebotol air berwarna biru bening. Entah jenis cairan apakah itu, tidak ada yang tahu. Lorcan langsung menerima air tersebut tanpa berpikir panjang.


“Andressa yang memberikannya? Memangnya air apa ini? Apa dia memberi tahumu?” tanya Lorcan.


“Kata beliau ini adalah ramuan yang beliau racik menggunakan resep khusus. Setiap orang yang meminumnya akan membantu pergerakan tubuhnya agar lebih ringan. Dengan kata lain, Nona Andressa bermaksud mendorong penggunaan aether tanpa harus membebani tubuh,” jelas Jason.


Lorcan mengangguk paham. Bola matanya bergerak mengamati ramuan miliknya dan milik pasukannya. Ramuan itu mempunyai warna yang berbeda. Punya Lorcan warnanya cenderung lebih bening, sementara yang lain warnanya lebih keruh.


“Kenapa ramuannya memiliki warna yang berbeda?” Sekali lagi Lorcan bertanya.

__ADS_1


Jason menjawab, “Ah, Nona Andressa sempat menjelaskan kepada saya kalau punya Anda dibuat secara khusus dibanding ramuan yang lain. Dosis yang beliau gunakan berbeda. Begitulah yang dikatakan Nona Andressa, Yang Mulia.”


“Oh rupanya seperti itu. Tidak heran kenapa warnanya berbeda. Baiklah, aku akan meminum ramuannya sampai habis. Kau juga bagikan semua ramuan itu kepada pasukan agar mereka bisa lebih kuat dalam melawan pihak musuh.”


“Baik, akan saya lakukan segera.”


Lorcan meneguk habis ramuan tersebut. Sepersekian detik seusainya, Lorcan merasakan perubahan dari tubuhnya.


“Huh? Entah mengapa, seluruh rasa pegal di tubuhku lenyap dan yang lebih penting, aku merasakan energi artherku kian meluap-luap keluar. Tampaknya ramuan yang diracik Andressa sangat berguna bagi kami,” gumam Lorcan.


“Yang Mulia, mereka sudah dekat! Haruskah kita melakukan penyerangan sekarang?”


Lorcan tersenyum miring. Bawahannya itu seketika mengetahui apa jawaban Lorcan.

__ADS_1


“Aku akan keluar. Kita menyerang mereka begitu mereka memulai penyerangan terlebih dahulu. Yang terpenting, kumpulkan semua orang dan buatlah sesuai formasi rencana yang aku katakan tadi!” Lorcan mulai terlihat amat serius.


Lorcan mengenakan kembali baju zirahnya dan meraih pedang yang ia taruh di samping meja.


‘Perang pertamaku setelah pulih. Aku berjanji akan membawa kemenangan untuk Andressa. Tenang saja, aku pasti bisa pulang dalam keadaan selamat. Tunggu aku, Andressa! Setelah kembali, aku ingin memberi tahumu sesuatu.’


Medan peperangan pecah pada hari itu. Terdengar jelas di telinga suara pedang saling berbenturan serta suara anak panah melesat di udara. Segalanya menjadi satu suara yang tak karuan.


Darah berceceran membasahi permukaan tanah. Mayat-mayat bergelimpangan. Pemandangan mengerikan itu merenggut banyak nyawa manusia.


Hingga sepuluh hari pun berlalu begitu cepat. Andressa masih belum mendapatkan kabar dari Lorcan. Gadis itu kini sedang menunggu kepulangan sang Kaisar sembari berharap bahwa Lorcan menepati janjinya untuk pulang dalam keadaan hidup.


“Nona, Nona! Gawat!” Calvin berteriak di lorong klinik memanggil Andressa.

__ADS_1


“Ya, Calvin. Apa yang membuatmu terlihat sangat panik?” Andressa menghentikan langkahnya.


“Nona, seluruh pasukan perang sudah kembali! Namun, kondisi mereka semuanya sangat buruk. Terutama Kaisar dan kesatria pribadinya, Jason!”


__ADS_2