
Sekelompok kesatria dikerahkan untuk menyelidiki jejak pembunuh Ria. Akan tetapi, tiada satu pun dari mereka yang menemukan jejak keberadaan seseorang kala itu. Alhasil, mereka kembali dengan tangan kosong tanpa hasil apa-apa.
"Maaf, Nona, kami tidak menemukan sesuatu yang janggal. Bahkan, jejak kaki pun tidak kami dapati."
Andressa mengembuskan napas sejenak.
"Baiklah, sekarang kalian boleh kembali. Serahkan sisanya padaku."
Andressa berbalik badan. Kakinya bergerak melangkah ke ruang jenazah. Dia mengamati tubuh Ria yang terbujur kaku di hadapannya.
"Racun apa yang mereka gunakan untuk membunuh Ria? Jelas sekali ini bukan racun biasa. Reaksi racunnya juga lebih cepat dari jenis racun pada umumnya," gumam Andressa.
Andressa mengambil sampel racun yang tersisa di sekitar luka dada Ria. Dia berniat untuk meneliti kandungan apa yang ada di dalam racun tersebut.
"Sebaiknya aku buat penawar racunnya juga untuk berjaga-jaga."
__ADS_1
Selepas itu, Andressa bergegas menuju ke ruang penelitian. Tidak butuh waktu lama baginya mendapatkan hasil dari kandungan racun itu.
Raut muka Andressa tampak buruk. Sepertinya ada sesuatu yang dia temukan di dalam racunnya.
"Racun ini ... bagaimana racun bolthern bisa sampai ke dunia ini? Benar-benar merepotkan! Racun yang merambat di kalangan bangsawan di kehidupan laluku sampai menyebabkan tiga kekaisaran hancur seketika. Racun bolthern sungguh hebat dalam menghabisi nyawa manusia. Keretakan dinding dimensi mendatangkan banyak kerugian. Aku tidak boleh membiarkan racun ini kembali menghancurkan kehidupan manusia."
Pada keesokan harinya, Andressa bergerak memeriksa satu per satu bawahannya. Mulai dari kesatria hingga para tabib. Andressa melakukan ini demi menghindari terjadinya kembali masalah seperti apa yang dialami Ria sebelumnya. Andressa juga tidak mau ada pengkhianat di sekitarnya. Jadi, sebelum itu terjadi, Andressa lebih dulu mengatasinya.
"Apa yang terjadi? Mengapa Nona mendadak mengadakan inspeksi? Mungkinkah ini berhubungan dengan apa yang terjadi pada Ria?"
Andressa menggeledah kamar penginapan bawahannya, pakaian, dan setiap sudut tempat yang dianggap mencurigakan.
'Memang bukan waktu yang tepat menggeledah mereka di tempat yang notabenenya bukan klinikku. Hanya saja, aku berfirasat bahwa masih ada pengkhianat di antara mereka. Aku harus cepat bergerak dan untungnya aku mengirim seseorang ke klinik untuk memeriksa kamar mereka,' batin Andressa.
Ya, saat ini dia tidak berada di klinik, melainkan di gedung tempat di mana para pasien korban kebakaran dirawat. Para tabib disediakan masing-masing kamar untuk menginap. Kamar itulah yang digeledah oleh Andressa.
__ADS_1
Sementara itu, di waktu bersamaan, Lorcan dan Jason datang mengunjungi Andressa. Mereka sedikit terkejut menyaksikan suasana kacau di sana.
"Jason, coba kau cari tahu apa yang sedang terjadi di sini," perintah Lorcan.
"Baik, Yang Mulia."
Jason menyelip di antara kerumunan orang. Dia menanyakan kepada salah satu tabib apa gerangan yang sedang terjadi. Kemudian tabib itu pun menjelaskan padanya situasinya.
"Yang Mulia, mereka bilang ada pihak musuh yang menyelinap. Maka dari itu, Nona Andressa sekarang sedang menggeledah satu per satu bawahannya untuk mencari tahu mata-mata dan musuh yang sedang bersembunyi di antara mereka," jelas Jason.
"Musuh? Mata-mata?"
Jason mengangguk. Di menit yang sama, indera penglihatan Lorcan menangkap sesosok tabib yang mengendap-endap keluar dari pintu belakang. Tanpa berpikir panjang, Lorcan langsung menghadang tabib tersebut.
"Siapa sangka aku bertemu seekor tikus hari ini. Beruntung kau belum berbuat apa-apa," ujar Lorcan tersenyum miring.
__ADS_1