
Viscount Kaidan tanpa segaja mendengar segala keluhan Andressa perihal kliniknya. Dia pun mendapatkan cara untuk membalas budi kepada Andressa yang sudah menyelamatkan istri dan anaknya.
"Nona, bisakah kita berbicara sebentar?"
Andressa sontak menoleh ke arah Viscount Kaidan.
"Ya? Ada apa, Tuan? Mungkinkah Anda ingin membicarakan tentang Nyonya?" tanya Andressa.
"Bukan begitu. Saya ingin berbicara mengenai hal lain."
"Hal lain? Baiklah. Mari kita berbicara."
Andressa membawa Viscount Kaidan ke ruang lain. Mereka berbincang empat mata di sana.
"Nona, sebelumnya saya sangat berterima kasih karena Anda telah menyelamatkan istri dan anak saya. Oleh karena itulah, saya ingin menawarkan untuk membayar renovasi klinik Anda. Bagaimana? Apa Anda menerima tawaran dari saya ini?"
Sebuah tawaran tak terduga datang kepada Andressa. Namun, bukan ini keinginan Andressa yang terkesan memanfaatkan pasiennya.
__ADS_1
"Mohon maaf, Tuan, saya harus menolaknya. Menyelamatkan nyawa istri dan anak Anda merupakan tanggung jawab saya sebagai tabib. Saya tidak mau orang lain berpikir bahwa saya memanfaatkan pasien untuk memperoleh keuntungan semata."
"Tidak, tenang saja. Takkan ada orang yang beranggapan seperti itu. Saya serius ingin membantu Anda, Nona. Sayang sekali bila kemampuan Anda terperangkap di klinik kecil ini. Tolong pertimbangkan sekali lagi, Nona."
Viscount Kaidan serius ingin membantu. Hanya saja Andressa masih bingung harus merespon bagaimana.
"Saya akan memikirkannya sekali lagi. Mohon beri saya waktu karena ini bukan sesuatu yang bisa saya putuskan sendirian."
***
Lorcan terlihat sedang menyelesaikan pekerjaannya. Ini sudah larut malam, tetapi dia masih berkutat dengan pekerjaannya. Kemudian sampailah di dokumen terakhir, dia akhirnya bisa bernapas lega melepaskan segala kepenatan yang dia peroleh seharian ini.
Lorcan bangkit dari tempat duduk. Dia beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya. Lalu ia langsung masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap segera membaringkan badan.
"Aku tidak bisa tidur." Kedua mata Lorcan menatap langit-langit kamar. Pikirannya kacau karena terus berpikir perihal siapa gerangan dalang yang berani mengacau di wilayah kekuasaannya.
Lorcan bangkit dari ranjang. Dia beralih ke arah balkon. Lorcan berniat untuk bersantai sejenak di balkon sambil menikmati angin sejuk malam ini.
__ADS_1
Hingga akhirnya ada sebilah anak panah mengarah padanya. Anak panah itu melayang ke samping telinga Lorcan dan tertancam di pintu masuk balkon.
Lorcan terpaku sesaat, tetapi dia langsung menyadari bahwa itu adalah ancaman pembunuhan yang diarahkan kepadanya.
"Sial! Siapa itu?! Keluar kau dari sana!"
Lima orang pembunuh secara sekaligus keluar menghadang Lorcan. Mereka mengepung pergerakan Lorcan supaya tidak bergerak menjauh dari mereka.
"Sekarang kalian berani bergerak terang-terangan?! Majulah! Aku akan membuat kalian sadar siapa yang kalian lawan saat ini."
Lorcan menjangkau sebuah pisau di atas meja di balkon tersebut. Dia mengalirkan aeter ke pisau itu.
"Ayo serang dia! Kita harus membereskannya hari ini segera!"
Para pembunuh bergerak serentak menerjang Lorcan. Pergerakan mereka seperti pembunuh profesional. Di sini Lorcan tahu bahwa para pembunuh itu disewa dalam bayaran yang sangat tinggi.
Meski begitu, Lorcan bukanlah sosok yang lemah. Walaupun kakinya pincang dan matanya sebelah tak berfungsi baik, dia masih mampu menggerakkan tangannya dengan lincah.
__ADS_1
Sampailah di waktu di mana Lorcan berhasil mengalahkan para pembunuh itu. Dia sedikit terluka karena kakinya sulit digerakkan untuk menghindari serangan.