
Hanya tinggal beberapa hari lagi pesta pertunangan dilaksanakan. Meski begitu, Gibson tidak terlihat dalam kondisi baik. Semenjak tanggal pertunangannya ditentukan, dia lebih sering melamun dan termenung sendirian di kamarnya. Terkadang dia sering berbicara sendiri, bermimpi buruk, serta menitikkan air mata tanpa alasan yang jelas.
Tidak ada satu pun yang mengetahui penyebabnya. Baik orang tua, sang adik, pelayan, hingga kesatria, mereka mencoba bertanya, tetapi Gibson selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja. Seringkali ia tidak fokus terhadap pekerjaannya dan melakukan berbagai kecerobohan kecil. Perubahan sikap dari penerus keluarga Duke inilah yang akhirnya mendatangkan kekacauan di mansion kediaman Duke Fidel.
“Apa yang terjadi kepada Gibson? Mengapa dia bersikap aneh?” Duchess Fidel bertanya-tanya tentang keanehan sang putra.
“Aku tidak tahu. Kenapa tidak kau coba ajak dia berbincang empat mata? Biasanya kau selalu memanjakannya, jadi inilah akibatnya.”
Suaminya menyalahinya atas sikap Gibson. Memang selama ini wanita itu selalu membela dan memanjakan Gibson sepanjang waktu. Apa pun yang dilakukannya terlihat benar di matanya. Padahal tidak jarang Gibson melakukan kesalahan besar, tetapi masih saja dibela.
“Dasar! Baiklah, aku sendiri akan mencoba mengajaknya berbicara.”
Duchess Fidel menghentakkan kaki meninggalkan ruangan sang Duke. Dia kesal mendengar respon dingin suaminya.
Sementara saat itu Gibson tengah duduk di balkon kamar. Sesekali dia menghela napas panjang dan mengacak-acak rambutnya.
“Aku tidak mau bertunangan dengan Miria. Aku ingin kembali bersama Andressa. Bagaimana caraku mengatakan ini kepada Ayah dan Ibu? Mereka pasti menentang keputusanku,” gumam Gibson.
Gibson meneguk minuman bersodanya. Lagi-lagi dia mengembuskan napas sembari mendongakkan kepala ke atas langit.
“Aku merasa sangat menyesal. Seharusnya sejak awal aku tidak menganggap remeh Andressa. Aku pikir dia hanya gadis lugu dan bodoh, tetapi ternyata dia gadis yang sangat cantik dan pintar. Sekarang dia menjadi bangsawan, karirnya sebagai tabib semakin maju, lalu rumor mengenai kedekatannya dengan Kaisar membuatku kesal. Apa aku cemburu? Ya! Tentu saja aku sangat cemburu, sialan!”
Tanpa sengaja, Duchess Fidel mendengar penggalan kata yang diucapkan putranya. Dia hanya mendengar sang putra cemburu, tetapi tidak tahu kepada siapa ia cemburu.
“Siapa yang membuatmu cemburu?” Duchess Fidel menyela ke tengah rasa frustrasi Gibson.
Gibson tanpa menoleh ke arah ibunya menjawab, “Ibu tidak perlu tahu siapa yang membuatku cemburu.”
Duchess Fidel menganggap Gibson sangat menyebalkan karena merespon pertanyaannya dengan ketus. Namun, dia harus menahan diri untuk tidak marah agar ia bisa mengobrol baik-baik bersama Gibson.
“Ya sudah kalau kau tidak mau menjawab. Aku kemari hanya untuk menanyakan, kenapa kau bertingkah aneh akhir-akhir ini? Apa ada sesuatu yang membuat hatimu tidak nyaman?” tanya Duchess Fidel.
__ADS_1
Gibson menggelengkan kepala.
“Tidak ada, suasana hatiku sedang buruk.” Gibson berkelit.
“Benarkah begitu? Aku tidak percaya. Seharusnya kau harus berbahagia karena sebentar lagi kau akan bertunangan dengan Miria. Bukankah sebelumnya kau sangat bersemangat setelah aku dan ayahmu memintamu bertunangan? Lalu apa masalahnya sampai suasana hatimu memburuk seperti ini? Tolong jangan hancurkan pesta pertunangannya hanya karena suasana hatimu itu.”
Suasana hati Gibson bertambah buruk. Keberadaan ibunya di sini hanya kian membuat runyam perasaannya. Dia pun berdiri, tanpa mengatakan apa pun beranjak pergi dari hadapan sang ibu.
“Gibson! Mau ke mana kau?! Aku belum selesai berbicara! Gibson!”
Brak!
Gibson membanting pintu kamar hingga membuat seisi ruangan terkejut.
“Dasar anak sialan! Beraninya kau mengabaikan ibumu sendiri! Padahal aku datang kemari karena mengkhawatirkan keadaanmu!” teriak Duchess Fidel melampiaskan kekesalannya.
***
Andressa sengaja mengabaikannya hingga Lorcan harus mengejarnya ke mana pun untuk meminta maaf terhadap gadis itu. Seluruh mata memandangi tingkah Lorcan seakan-akan sedang membujuk kekasihnya. Aksi mereka berdua dianggap menggemaskan. Kini atensi para pengunjung klinik beserta tabib hanya mengarah kepada keduanya.
Berbagai cara dilakukan Lorcan untuk membujuk Andressa, tetapi ternyata bukanlah perkara mudah memperbaiki suasana hatinya. Lalu kini Lorcan dan Andressa sedang saling dorong mendorong pintu masuk ruang kerja Andressa.
“Biarkan aku berbicara dan meminta maaf padamu! Tolong tataplah aku sekali saja,” ujar Lorcan memaksa sambil mendorong pintu.
“Tidak! Aku tidak mau berbicara denganmu. Pergilah kau dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu!” Andressa mendorong balik pintu masuk, dia bermaksud untuk menutup pintunya, tetapi dicegat oleh Lorcan.
“Tunggu dulu, dengarkan sebentar penjelasanku, Andressa. Aku mengaku salah karena aku tidak mengatakan kepadamu sebelumnya. Lagi pula aku melakukan ini semua demi dirimu.”
“Aku tidak peduli! Aku tidak mau menjadi bangsawan karena itu merepotkan! Cabut lagi gelarku!”
Mereka saling berdebat di ambang pintu masuk sampai para tabib dan kesatria terheran-heran menyaksikan mereka berdua.
__ADS_1
“Aku tidak bisa melakukannya karena namamu sudah tertulis di deretan para bangsawan. Manfaatkan saja gelarmu sebaik mungkin. Kau bisa melakukan apa saja dengan gelarmu itu. Pikirkan dampak positif dari gelar bangsawanmu.”
Lorcan masih berupaya meyakinkan Andressa bahwasanya memiliki gelar bangsawan tidak selamanya merepotkan.
“Aku bisa memanfaatkan gelarku?”
Andressa tanpa aba-aba berhenti mendorong pintu. Lorcan yang kala itu masih berada di depan pintu sambil mendorong sekuat tenaga tiba-tiba terjatuh ke depan. Tanpa sengaja Lorcan menindih tubuh Andressa dan keduanya pun terjatuh ke permukaan lantai.
“Akhh … maafkan ak—”
“Singkirkan tanganmu,” potong Andressa terdengar suaranya mengeluarkan getaran nan dingin.
Lorcan menegakkan kepala. Betapa terkejutnya ia kala itu mendapati tangan kanannya menyentuh buah dada Andressa. Refleks ia menjauhkan tangannya dari Andressa. Wajah Lorcan memerah karena malu.
“Maafkan aku, Andressa! Aku tidak sengaja!” Lorcan pun bangkit dari tubuh Andressa.
“Sudahlah! Keluar kau dari ruanganku. Aku tidak mau melihat wajahmu!”
Andressa terlihat sangat marah, Lorcan ketakutan tatkala menatap mata Andressa. Sontak ia pergi dari hadapan Andressa tanpa berkata-kata lebih banyak lagi.
Seluruh adegan barusan disaksikan oleh Jason. Pria itu menepuk pelan keningnya, dia ikut merasa malu atas sikap Lorcan.
‘Jatuh sudah harga diri Kaisar. Bisa-bisanya beliau membuat Nona Andressa semakin marah. Sepertinya masalah ini menjadi bertambah parah,’ batin Jason.
Andressa menghempaskan pintu masuk ruangannya. Muka Andressa merona sempurna. Jantungnya berdegup begitu kencang tanpa alasan pasti. Andressa tidak menyadari bahwa kala itu benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya.
“Apa-apaan itu? Kenapa jantungku berdebar-debar? Dan lagi kenapa wajahku terasa sangat panas? Mungkinkah aku demam? Ada yang salah dari tubuhku.”
Andressa bergegas mengecek suhu badannya, tetapi semuanya tampak normal.
“Aku tidak demam, lalu kenapa? Aneh sekali ….”
__ADS_1