
"Dengan begini, aku punya alasan untuk menjatuhkan hukuman kepada Marchioness Jevano. Kau luar biasa, bisa menemukan ini semua dalam sekejap," tutur Lorcan memuji Andressa.
"Ya, ini bukan apa-apa untukku."
Andressa tidak terlalu tersentuh karena pujian Lorcan. Justru dia merasa biasa saja sebab dirinya terlalu sering menerima pujian. Sekarang ia pun masih bereskpresi datar tanpa adanya guratan raut wajah yang mencolok.
"Kalau begitu, masalah mengenai Marchioness Jevano telah selesai. Aku akan mengurus sisanya atau kau mau mengurus wanita itu sampai mati?"
Andressa berpikir sejenak. "Aku tidak mau mengurusnya. Aku serahkan sepenuhnya kepada pihak istana karena ada sesuatu yang perlu aku lakukan."
Lorcan menatap serius Andressa, ia penasaran urusan apa yang akan dikerjakan Andressa berikutnya.
"Apa yang hendak kau kerjakan?" tanya Lorcan.
"Marchioness Jevano telah menyebarkan cairan virus itu ke wilayah kekuasaan Marquess Gencio. Aku harus menanganinya secepatnya sebelum terlambat karena penyebaran virus ini jauh lebih cepat dari sebelumnya," jelas Andressa.
Lorcan terkejut. Perlahan ia menepuk keningnya. Ternyata masalah ini belum selesai begitu saja.
"Jika seperti itu, bukankah kau harus bergerak sekarang juga? Sangat tidak terduga karena dia berani menyentuh wilayah kekuasaan orang lain. Apa dia menginginkan perang antar para bangsawan. Sungguh, tidak habis pikir."
__ADS_1
Lorcan berdecak marah. Emosinya tak lagi terbendungkan.
"Aku akan berangkat setelah ini. Tolong urus sisanya, jangan biarkan dia hidup enak di penjara. Siksa dia perlahan sampai mati."
Lorcan tersentak ketika Andressa menekankan kata 'mati'. Gadis itu punya dendam yang sangat kuat kepada Marchioness Jevano.
"Baiklah. Aku akan menyiksanya sampai mati. Kau tidak perlu khawatirkan soal itu."
***
Terdengar suara jeritan di salah satu kediaman penduduk wilayah kekuasaan Marquess Gencio. Mendadak seisi pemukiman dibuat panik oleh jeritan tersebut.
Mereka pun panik bukan main. Salah seorang di antara mereka bergerak cepat ke kediaman Marquess Gencio. Mereka ingin melaporkan terkait masalah penyakit itu kepada Marquess Gencio.
"Tuan! Tuan! Tolong biarkan saya masuk! Ada sesuatu yang ingin saya laporkan!"
Marquess Gencio yang tengah beristirahat merasa terganggu oleh teriakan orang yang berasal dari luar gerbang utama mansion. Terpaksa ia menunda sejenak waktu beristirahatnya.
"Ada apa ini? Kenapa firasatku sangat buruk?"
__ADS_1
Marquess Gencio bergegas turun ke bawah untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Para kesatria tampaknya menunggu Marquess Gencio memberi izin untuk membuka gerbang.
"Buka gerbangnya!" titah Marquess Gencio.
"Baik, Tuan."
Seseorang yang sedari tadi berteriak rupanya adalah penduduk wilayahnya.
"Tuan, ada sesuatu yang harus saya laporkan."
"Apa itu? Apakah masalahnya sangat serius?"
Marquess Gencio berupaya mendengarkan dengan baik kira-kira apa laporan yang akan dilayangkan orang itu padanya.
"Penyakit mematikan yang berasal dari wilayah Selion telah tiba di wilayah kita, Tuan. Sekarang ada tiga orang yang sudah tertular penyakit itu," jelasnya melaporkan.
Bola mata Marquess Gencio sontak membulat sempurna.
"Hah? Apa yang kau katakan? Apa kau serius? Jangan bercanda!"
__ADS_1
"Tidak, saya serius. Saya tidak bercanda sama sekali, Tuan. Kalau Anda tidak percaya, silakan Anda lihat secara langsung."