
Di tengah kesibukan aktivitas di klinik, Andressa terpaksa memutuskan untuk mengambil libur satu hari.
"Aku titip klinik kepada kalian satu hari ini. Apabila ada pasien gawat darurat dan kalian tidak bisa menanganinya, tolong tunggu aku kembali lagi nanti," ujar Andressa kepada Amelia dan Calvin.
Mereka berdua sebenarnya sedikit tercengang sebab Andressa tidak pernah sekali pun libur dari klinik kecuali ada hal mendesak yang mengharuskannya pergi ke luar. Maka dari itu, mereka keheranan karena Andressa meminta izin libur mengurus urusan pribadi selama satu hari.
"Memangnya Anda mau ke mana, Nona? Anda belum memberi tahu kami tujuan Anda," tanya Calvin teramat penasaran.
"Ada masalah serius yang perlu aku selidiki. Aku tidak bisa mengatakan masalah apa itu. Baiklah, aku berangkat sekarang. Kalian kembalilah ke klinik dan urus pasien yang baru saja datang."
Andressa mendorong mereka berdua untuk pergi ke klinik. Dia tak bisa berangkat sebelum keduanya menghilang dari pandangannya.
"Baiklah, tolong kembalilah lebih cepat, Nona. Kami akan mengurus klinik untuk Anda."
Setelah memastikan Amelia dan Calvin tidak lagi ada di hadapannya, Andressa buru-buru memasangkan jubah penutup kepala. Tidak lupa dia merogoh sebuah kertas pemberian Lion.
__ADS_1
"Memakan banyak waktu kalau kau pergi ke sana menunggangi kuda atau menaiki kereta kuda. Ambil ini! Aku telah memasukkan sihir teleportasi satu tempat ke dalamnya. Sobek kertas itu, kau bisa langsung tiba di medan peperangan sebelumnya."
Suara Lion berdengung di kepala Andressa. Makhluk itu memberinya sesuatu yang sangat bermanfaat demi menghemat waktu sehingga nanti Andressa bisa meluangkan diri untuk beristirahat sejenak.
"Semoga saja tidak ada hambatan selama berada di area bekas perang."
Andressa menghela napas dalam-dalam lalu ia merobek kertasnya. Perlahan tubuhnya pun menghilang dari lokasi semula. Hanya dalam sekejap mata, Andressa akhirnya menginjakkan kaki di area peperangan.
Suasana di sana cukup kacau. Bahkan, Andressa masih bisa mencium aroma darah yang berlumuran dk atas permukaan tanah.
Andressa melangkah pelan ke depan sembari melirik ke kiri dan kanan demi memastikan keberadaan benda yang dia cari.
"Di mana benda itu tersembunyi? Aku bisa merasakan keberadaannya di sekitar sini. Mungkin aku harus mencari lebih teliti lagi," gumam Andressa.
Kemudian tidak berselang lama, derap kaki Andressa terhenti. Raut muka gadis itu berubah semringah.
__ADS_1
"Ini dia! Aku yakin benda itu terkubur di bawah pijakan kakiku saat ini."
Andressa bergegas menggunakan sihir untuk menggali tanah. Sampailah ketika ia menemukan sebuah peti berukuran sedang yang terbalut rantai.
"Oh ya ampun, ternyata kau bersembunyi di sini. Baiklah, aku akan mengeluarkanmu segera."
Andressa mengangkat peti tersebut keluar dari dalam tanah. Sesampainya di luar, Andressa membuka peti itu. Dia berencana memeriksa isi peti.
Sebuah kristal berukuran lumayan besar berbentuk lonceng tersimpan di balik peti. Kristal lonceng, itulah nama dari benda yang dimaksudkan Andressa.
"Benda berbahaya seperti ini bisa-bisanya hanyut ke dimensi ini. Untung saja ada aku, jadi aku bisa membawanya pulang sekarang."
Andressa bangkit dari posisi. Dia berencana mengangkut kristal lonceng ke kediamannya. Namun, tatkala Andressa hendak berbalik badan, berbilah-bilah anak panah melesat ke arahnya. Beruntung Andressa bisa menghindari anak panah tersebut.
"Siapa yang mencoba membunuhku? Keluar kalian, bajing*n!"
__ADS_1