
“Rencana? Benarkah Ayah punya rencana?”
Raut muka Camille berubah semringah. Seolah-olah kegusaran di hatinya langsung terobati begitu sang ayah berkata soal rencananya.
“Tentu saja. Ayah tahu sekarang kau berniat menyuruh Ayah untuk mengirimkan lamaran pertunangan kepada kaisar kan? Memang hanya itulah satu-satunya cara yang dapat kita lakukan. Ayah juga akan berusaha menghasut para bangsawan lainnya untuk menentang pertunangan kaisar dengan Viscountess Erriel. Bagaimana pun kau lebih pantas menduduki posisi tersebut,” tutur Duke Fidel.
“Aku senang Ayah memikirkan hal yang sama denganku, tetapi apa para bangsawan akan mendengarkan Ayah? Mungkin saja mereka menentang Ayah habis-habisan. Aku tidak mau kejadiannya sampai seperti itu,” ucap Camille memastikan sekali lagi.
Duke Fidel menyunggingkan senyum percaya diri. Dia yakin bahwasanya rencananya kali ini tidaklah gagal.
“Jangan khawatir, Camille. Ayah bisa menangani hal itu untukmu. Mulai sekarang sebaiknya kau fokus belajar menyaingi wanita itu. Tidakkah kau malu kalau kau kalah bersaing dengan seseorang berdarah rakyat jelata?”
Camille pun mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Menjadi sebuah keberuntungan bagi diri dia memiliki ayah bergelar tinggi di kekaisaran ini sehingga ia tak memerlukan kerja keras lebih demi menggapai keinginannya.
__ADS_1
“Jika begitu yang Ayah katakan, maka aku percayakan sepenuhnya kepada Ayah. Aku akan belajar setelah ini. Tenang saja, aku pasti bisa mengalahkan wanita itu.”
Mata Camille berbinar-binar. Bayangan masa depan yang dia mau telah terukir jelas di dalam kepalanya. Camille benar-benar menganggap kalau segalanya berada di dalam genggaman tangannya.
“Bagus. Masuklah ke kamarmu sekarang dan belajarlah sampai kau bisa melampaui wanita itu. Ayah yakin putri Ayah pasti bisa melakukannya. Bersemangat dan jangan biarkan pikiran buruk menghantuimu.”
***
Sementara itu, Andressa baru saja tiba di klinik, tetapi ia langsung dihadapkan pada situasi yang pelik. Klinik mendadak ramai dikunjungi pasien dalam kondisi terluka. Menyaksikan hal itu pun Andressa bergegas masuk ke dalam klinik untuk membantu tabib lain.
“Apa yang terjadi di sini? Mengapa ada banyak pasien berdatangan dalam kondisi terluka parah?” tanya Andressa.
“Sebaiknya nanti Anda tanyakan saja kepada Marquess Gencio. Beliau yang membawa para pasien kemari dan Marquess juga terluka parah.”
__ADS_1
Jawaban Calvin membuat Andressa membeku sejenak lalu ia sontak menghalau segala jenis pikiran buruk yang merasukinya. Saat ini yang terpenting ialah nyawa pasien, bukan waktunya dia memikirkan hal lain.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai mengobati pasien. Biar aku sendiri yang menangani luka Marquess Gencio.”
Mereka berdua berpisah menuju ke ruang berbeda. Suasana klinik pun terdengar riuh sebab jumlah pasien yang membludak membuat Andressa beserta para tabib tampak kewalahan.
Marquess Gencio ketika diobati oleh Andressa, dia masih belum sadarkan diri. Luka yang dia terima sangat dalam sehingga menyebabkan pendarahan hebat. Namun, untungnya Andressa dapat menanganinya dengan cepat. Sekarang nyawa Marquess Gencio bisa tertolong sebelum terlambat.
“Nona, bagaimana keadaan suami saya? Apa dia baik-baik saja?”
Marchioness Gencio buru-buru menghampiri Andressa yang baru saja keluar dari ruang rawat sang suami.
“Nyonya, jangan khawatir. Nyawa Marquess tidak berada dalam bahaya. Beliau hanya perlu beristirahat sampai lukanya sembuh,” jelas Andressa.
__ADS_1
Marchioness Gencio menghela napas lega. Dia bersyukur teramat sangat karena dia tidak kehilangan suaminya.
“Syukurlah … syukurlah … terima kasih, Nona, berkat Anda suami saya dapat diselamatkan.”