Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Api yang Melahap Klinik


__ADS_3

"Asap? Dari mana datangnya asap ini?"


Tatkala Andressa sedang tertidur pulas di ruang kerjanya, dia sontak terbangun kala sekumpulan asap berdatangan dari arah luar. Buru-buru Andressa bangkit lalu membuka jendela koridor memeriksa dari mana asap tersebut bersumber.


Betapa syoknya Andressa saat itu ketika menyaksikan sambaran api besar menyala dari gedung sebelah klinik. Gedung itu merupakan tempat persediaan obat disimpan dan apinya pun perlahan menyebar ke gedung klinik.


"Kebakaran! Kebakaran!"


Suara teriakan orang-orang mulai bergaung. Derap kaki sangat ramai mendatangi lokasi kebakaran.


"Sial! Bagaimana bisa ini semua terjadi?"


Andressa langsung bergegas menuruni anak tangga lalu menuju ke gudang penyimpanan obat.


"Padamkan apinya!"


"Cepat ambil air!"

__ADS_1


Ada banyak penduduk sekitar yang berupaya memadamkan api, tetapi apinya terlalu besar sehingga air yang mereka gunakan tidak mempan sama sekali.


"Nona, apa yang harus kita lakukan? Kalau begini, gedung klinik juga akan dilahap oleh api," tanya seorang tabib menghampiri Andressa.


Andressa berupaya tetap tenang dan mendinginkan kepala yang hampir terasa meledak.


"Kalian sudah mengevakuasi seluruh pasien yang berada di klinik?"


"Sudah, Nona. Kami sudah mengevakuasi mereka sebelum Anda memberi perintah."


"Baik, Nona."


Para tabib bergerak sesuai yang diperintahkan Andressa. Sedangkan ia masih berdiam diri di depan gudang obat sambil menyelam ke dalam pikirannya sendiri.


'Apa yang harus aku lakukan sebaiknya sekarang? Aku tidak mungkin mengeluarkan sihirku di tengah orang-orang ini. Akan sangat berbahaya bila ada orang biasa yang melihat cara kerja sihirku.'


Andressa merenung sesaat semua orang sedang didera kepanikan hebat. Sepersekian detik kemudian, muncullah sebuah ide dari kepala Andressa.

__ADS_1


"Oh, sepertinya masih ada cara lain yang dapat dilakukan. Baiklah, pertama-tama aku harus menjauh dari sini dan mencari tempat yang sepi serta luas," gumam Andressa.


Gadis itu bergerak pergi dari sana. Dia menemukan tempat yang kosong di belakang gedung klinik. Kebetulan sekali tidak ada siapa pun selain dirinya seorang.


"Aku memang tidak bisa menggunakan sihir secara sembarang, jadi aku turunkan saja hujan. Lagi pula aku masih ingat mantra hujan yang dulu pernah aku ciptakan. Untungnya di dunia ini energi mana sudah mulai menyebar. Mungkin cukup untuk menurunkan hujan lebat selama lima menit saja."


Andressa mulai menggores permukaan tanah. Dia membuat gambar sebuah lingkaran sihir karena ini adalah langkah awal sebelum ia memulai mengucapkan mantra.


"Aku rasa ini sudah cukup. Aku bisa memulainya sekarang."


Andressa perlahan mengambil konsentrasi penuh seraya memejamkan kedua mata. Dia merasakan titik-titik mana memenuhi tubuhnya. Seusai memastikan ada banyak mana terkumpul di sekitar, Caerina mulai merapalkan mantra.


Mantra tersebut terdengar sulit diucapkan. Wajar saja, menurunkan hujan secara paksa menggunakan sihir merupakan tindakan melawan alam sehingga butuh mantra dengan level tinggi agar ia dapat memanggil turun hujan.


Beberapa menit berlalu, rintik-rintik air hujan berjatuhan membasahi daratan. Seketika semua orang tercengang. Pasalnya, saat itu cuaca terbilang cerah dan tak ada tanda-tanda akan hujan .


"Hujan? Mengapa tiba-tiba turun hujan? Apa ini wujud bantuan dari dewa untuk memadamkan apinya?"

__ADS_1


__ADS_2