Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Naik Pitam


__ADS_3

Sekelompok pembunuh tersebut tergeletak tak sadarkan di sekitar lokasi Andressa berdiri. Terdengar suara embusan napas dari mulut Andressa.


"Sungguh merepotkan."


Andressa menduduki tubuh salah satu pembunuh. Tidak ada di antara mereka yang masih bernapas. Semuanya tanpa sengaja dibunuh secara brutal oleh Andressa.


"Kenapa aku malah membunuh mereka? Seharusnya tadi aku biarkan satu orang hidup agar bisa aku interogasi. Dasar bodoh!"


Andressa mengutuk dan memarahi dirinya sendiri. Bisa-bisa ia melupakan sesuatu yang teramat penting bila ada ancaman pembunuhan yang menghadang jalannya.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


Andressa menatap lama kristal lonceng di dalam peti. Masih teringat jelas bagaimana benda satu itu membuat kekacauan di sekitar kala berada di dimensi lain.


"Sepertinya segelnya terkikis karena peti ini terlempar ke luar melalui celah dimensi yang terbuka. Aku harus menyegel ulang lagi benda ini sebelum ia mendatangkan musibah dan mengusik ketenangan hidup manusia."


Andressa bangkit dari posis saat ini. Dia berniat untuk beranjak kembali ke klinik. Akan tetapi, sebelum ia melangkah lebih jauh lagi, salah seorang kelompok pembunuh tersadar. Ternyata masih ada satu orang yang selamat dari efek serangan Andressa. Terpaksa gadis itu menghentikan dirinya untuk melangkah lebih jauh.

__ADS_1


"Oh, kau masih hidup?"


Andressa mengukir senyum menyeramkan. Pembunuh tersebut sampai terperanjat kaget melihat senyum Andressa.


"N-Nona, s-saya mohon. Tolong bebaskan saya kali ini saja. Jangan bunuh saya, saya tidak mau mati."


Terdengar amat menyenangkan mendengar rintihan ketakutan dari manusia yang tadi sangat berani melayangkan pedang ke lehernya. Namun, sekarang malah memohon di bawah kakinya agar nyawa ia diampuni. Bagi Andressa, ini merupaka sesuatu yang lucu.


"Hahaha." Suara tawa Andressa bergaung. "Setelah apa yang kau lakukan tadi, kau pikir aku bisa memaafkanmu? Jangan harap!" Andressa menginjak kepala botak si pembunuh.


Raut muka Andressa berubah datar seketika.


"Perintah atasanmu? Kau bercanda? Memangnya atasanmu siapa?" tekan Andressa bertanya.


"Saya tidak bisa memberi tahu Anda siapa atasan saya. Tolong ampuni saya, Nona ...."


Andressa naik pitam. Dia sudah menduga ada seseorang di balik penyerangan ini. Hanya saja, ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan di kepalanya.

__ADS_1


"Hah? Kau tidak bisa memberi tahuku? Kenapa? Apa masalahnya? Kalian hampir membunuhku, lalu sekarang kau menolak membeberkan siapa atasanmu?"


Aura membunuh Andressa menyelubungi sekitar. Dia tak lagi dapat menahan emosi karena ulah dari seseorang yang mengancam nyawanya.


"Saya tidak bisa memberi tahu Anda karena saya sudah punya perjanjian yang tidak bisa diingkari. Jadi, bagaimana pun Anda memaksa saya, saya tetap akan menutup mulut," kukuh si pembunuh.


Andressa tak bisa berbuat apa-apa jika dia tidak mau membuka suara.


"Baiklah kalau begitu, berarti kau tidak diizinkan hidup lebih lama lagi."


Tanpa berpikir panjang, Andressa menebas kepala orang itu. Dia melampiaskan kemarahannya yang tak terbendungkan lagi. Ditambah ada sekelebat rasa penasaran terasa amat menyempit di bagian dada.


"Oh kau sudah membereskan mereka? Untung saja kau datang tepat waktu sebelum kristal loncengnya diambil manusia-manusia tak bertanggung jawab."


Lagi dan lagi Lion datang dari arah yang tidak jelas. Dia muncul di depan mata Andressa sembari tersenyum dan berbicara tanpa mengucap sapa.


"Kau sudah tahu ada seseorang yang juga mengincar kristal lonceng ini?"

__ADS_1


__ADS_2