
Andressa sangat terkejut melihat Viscountess Kaidan berada dalam ambang yang membahayakan. Andressa segera menyuruh Amelia untuk bergerak menyiapkan ruang rawat untuk melakukan pemeriksaan.
"Bawa masuk ke dalam. Biar saya periksa terlebih dahulu."
Viscount Kaidan membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Andressa langsung memeriksa baik-baik kondisi kandungan Viscountess Kaidan.
"Silakan Anda tunggu di luar, Tuan. Biar Nona Andressa periksa terlebih dahulu kondisi Nyonya," ucap Amelia menyuruh Viscount Kaidan untuk ke luar.
"Baiklah. Tolong selamatkan istriku," kata Viscount Kaidan sekali lagi.
"Tenang saja, jika Nona Andressa sudah turun tangan, maka Nyonya dan anak Anda pasti bisa selamat."
Andressa menemukan permasalahan utamanya di sini. Seusai melakukan pengecekan, Andressa pun pergi menemui Viscount Kaidan yang sedang panik berat kala itu.
"Bagaimana istri saya, Nona? Apa mungkin Anda juga tidak bisa menyelamatkan bayi saya?" Viscount Kaidan bertanya langsung karena takut Andressa juga akan memberi jawaban yang sama kepadanya.
__ADS_1
"Saya bisa menyelamatkannya. Hanya saja, saya harus melakukan tindakan operasi terhadap kandungan Nyonya. Usia kehamilan Nyonya sudah delapan bulan, tetapi anak Anda sepertinya tidak sabar bertemu kedua orang tuanya. Untuk itu, Tuan, diperlukan tindakan operasi supaya Nyonya bisa melahirkan dengan aman," tutur Andressa dengan suara tenang.
"Benarkah Anda bisa menyelamatkan istri dan anak saya? Kalau begitu, lakukan saja! Apa pun itu, saya mengizinkannya asalkan anak saya bisa lahir dengan selamat."
"Baik. Kalau begitu, saya akan melakukan operasi segera. Silakan Anda tunggu saja di sini, Tuan. Jangan khawatir dan jangan gelisah, Anda hanya perlu berdoa agar operasinya berjalan lancar."
Amelia bergerak cepat mempersiapkan segala alat yang dibutuhkan dalam operasi. Kemudian mereka memindahkan Viscountess Kaidan ke ruang operasi.
"Nona, kenapa Nyonya Viscountess tidak dibius total seperti operasi pada umumnya?" tanya Amelia sebelum operasi dimulai.
Andressa dengan lihai dan telaten memainkan alat-alat operasi. Mau berapa kali pun dilihat, Amelia tetap terkagum oleh kemampuannya.
'Sedikit sulit melakukannya hanya berdua dengan Amelia, mungkin nanti aku harus mencari beberapa orang lagi untuk membantuku di klinik,' batin Andressa.
Selang hampir satu jam, akhirnya Andressa berhasil menyelesaikan operasinya. Terdengar suara tangis bayi mengisi ruang operasi. Viscountess Kaidan pun merasa lega mendengar tangisan anak laki-laki yang baru saja dia lahirkan.
__ADS_1
"Nona, bolehkah saya melihat wajah putra saya?" Viscountess Kaidan yang sedang lemas teramat ingin melihat sendiri wajah sang. putra.
"Oh, boleh, Nyonya."
Andressa memperlihatkan rupa wajah putranya. Viscountess Kaidan tampak sangat senang sekaligus lega.
"Anaknya terlahir sehat dan berat badannya normal. Saya akan menaruh bayi Anda di ruang terpisah. Lalu Anda silakan beristirahat, nanti Anda baru boleh menggendong anak Anda."
"Baik, Nona."
Andressa dan Amelia segera membawa Viscountess Kaidan ke ruang rawat. Sebelumnya, mereka sudah memberi tahu Viscount Kaidan bahwa operasinya berjalan lancar tanpa hambatan. Dia juga terlihat senang begitu melihat wajah putranya.
"Sepertinya kita harus merenovasi habis-habisan klinik ini nantinya. Kita juga perlu menambah ruang rawat dan ruang khusus untuk bayi yang baru lahir," ujar Andressa.
"Benar, Nona. Saya juga berpikir seperti itu. Kita harus merenovasi klinik demi kenyamanan pasien."
__ADS_1
"Berdoa saja biar kita bisa mendapatkan uang lebih untuk melakukan renovasi nantinya."