Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Rencana Menjemput Andressa


__ADS_3

Air mata Erno berlinang. Setelah sekian lama ia berpikir bahwa putri semata wayangnya telah meninggal, ternyata pikirannya salah besar. Kini secercah harapan membawa hatinya ke dalam ketenangan. Betapa besar rasa syukurnya kala itu.


"Bagaimana dia hidup selama ini? Apa dia diadopsi oleh keluarga bangsawan atau mungkinkah kehidupannya selama ini sangat sulit?"


Mimik muka Sirius sekilas terlihat sendu. Mau tidak mau ia harus menceritakan bagaimana kehidupan Andressa selama ini.


"Paman, Andressa dari kecil hidup di panti asuhan."


Kemudian Sirius mulai bercerita. Dia menceritakan segalanya tanpa melewatkan satu pun. Betapa pedih hatinya mendengar putrinya hidup di dunia yang menolak keberadaannya. Diskriminasi terus dia dapatkan dari orang-orang yang berada di sekitarnya.


"Aku tidak bisa membayangkan caranya bertahan selama ini. Jika Atla mendengar hal ini, mungkin dia menjadi sangat terluka," tutur Erno.


"Oh iya, bagaimana kondisi bibi sekarang? Apa kondisinya semakin parah?"

__ADS_1


Erno mengangguk. Semenjak kehilangan Andressa, sang istri menderita sakit baik secara fisik maupun mental. Selama delapan belas tahun dia tidak pernah lagi tersenyum. Rasa trauma masih membekas di hatinya.


Terkadang sesekali dia mengajak Erno mengobrol, tetapi obrolannya selalu menanyakan tentang Andressa. Oleh sebab itulah, ketika Sirius membawa kabar perihal keberadaan Andressa, dia berharap kehadiran putrinya nanti dapat menyembuhkan mental sang istri.


"Akhir-akhir ini dia semakin tidak bisa diajak bicara. Terkadang dia mengeluh sakit sampai tidak bisa tidur, terkadang juga dia menangis tiba-tiba," jelas Erno bernada bicara sedih.


"Apa tabib tidak bisa melakukan sesuatu terhadap bibi?"


"Tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Luka batinnya terlalu besar. Wajar saja karena Andressa hilang tepat di depan matanya. Dia juga menyaksikan langsung pembantaian besar-besaran dari para pemberontak dahulu."


Sirius lalu berucap, "Andressa sekarang juga menjadi tabib. Dia terkenal dengan kehandalannya dalam menangani berbagai jenis penyakit. Sepertinya kita harus membawa Andressa segera kemari. Aku khawatir Thales menargetkannya nanti bila dia mengetahui siapa Andressa sebenarnya."


"Mungkin aku harus menjemput Andressa secepatnya. Thales tidak boleh sampai tahu bahwa Andressa anakku. Aku tidak mau pria sialan itu menyakiti putriku."

__ADS_1


Mereka berbincang sampai dua jam. Selama itu mereka merancang rencana untuk menjemput Andressa dari Kekaisaran Emilian.


Situasi kian memanas. Thales masih berupaya mengacaukan Kekaisaran Zervian serta mengincar nyawa Sirius dan keluarga Erno. Namun, mereka selalu berhasil menangani pembunuh yang datang ke hadapan mereka.


***


Di suatu tempat dan waktu berlainan, Andressa tengah bersiap-siap untuk kembali ke kediamannya. Saat ini jam menunjukkan pukul sebelas malam. Sebelumnya dia menugaskan beberapa orang tabib untuk tinggal di klinik.


"Nona, tolong bawa ini." Amelia menyerahkan satu kotak cemilan kepada Andressa.


"Apa ini?" tanya Andressa melihat kotak berhiaskan gambar kue kering.


"Tadi saya mengunjungi toko kue yang baru buka, jadi saya membelikan ini untuk Anda. Akhir-akhir ini Anda sangat sibuk, jadi saya ingin Anda memakannya sambil menikmati teh di waktu luang."

__ADS_1


Andressa tersenyum lebar.


"Terima kasih. Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku titip klinik padamu."


__ADS_2