
Marquess Gencio sadar sesaat setelah tiga jam pengobatan yang dilakukan Andressa. Lekas ketika ia sadar memanggil Andressa untuk bertemu dengannya. Dia seperti sedang menyimpan sesuatu yang cukup serius perihal apa yang dialami oleh dirinya beserta para bawahan yang pergi bersamanya.
Andressa bergegas menemui Marquess Gencio di ruang rawatnya. Di ruang tersebut hanya ada Marquess Gencio seorang. Sang istri sepertinya sudah lebih dulu pergi ke luar dan membiarkan Andressa berbicara empat mata dengannya.
“Tuan, apa Anda sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Andressa.
“Ya.” Marquess Gencio mengangguk lemah, wajahnya pun masih terlihat pucat pasi. “Walau luka yang saya terima masih terasa perih, tetapi sejauh ini saya baik-baik saja.”
“Kalau begitu, bisakah Anda memberi tahu saya kenapa Anda dan bawahan Anda bisa terluka separah ini? Melihat dari lukanya, saya yakin ini bukan luka serangan dari manusia melainkan terlihat bekas serangan dari makhluk buas.”
Itulah yang ditangkap oleh penglihatan dan pengamatan Andressa. Di beberapa bagian tubuh tertentu ditemukan luka cakaran. Namun, luka cakaran tersebut terasa berbeda dari cakaran hewan biasa.
“Sebenarnya saya dan bawahan saya bertemu dengan makhluk mengerikan. Pada awalnya, saya pikir makhluk itu hanyalah seekor beruang biasa. Akan tetapi, ternyata saya salah. Makhluk itu bukan beruang!”
__ADS_1
Andressa memaku sejenak.
“Bukan beruang? Maksudnya apa?”
“Badannya memang sebesar beruang, tetapi makhluk itu punya taring dan matanya berwarna merah darah. Bulunya pun hitam legam lalu cakar makhluk itu seperti mengeluarkan kekuatan aneh yang saya tidak ketahui. Kemudian yang lebih janggal lagi ialah tatkala beberapa makhluk serupa keluar dari sebuah lubang hitam,” jelas Marquess Gencio.
Andressa tehening seketika. Sekarang dia tahu makhluk apa yang dimaksud Marquess Gencio. Bayangan makhluk tersebut tampak jelas di ruang memorinya.
Andressa segera kembali bersuara seusai berpikir keras.
“Di mana Anda bertemu makhluk itu? Apa Anda sudah melaporkannya kepada kaisar?”
“Saya bertemu makhluk itu di pegunungan timur. Saya telah mengirim bawahan saya untuk melapor kepada kaisar. Saat ini mungkin kaisar sudah menerima laporan dari saya.”
__ADS_1
Andressa mengangguk paham.
“Bagaimana Anda bisa lolos dari makhluk itu? Mungkinkah Anda berhasil mengalahkannya?”
“Tidak, Nona. Makhluk itu sangat kuat, kami tidak bisa mengalahkannya. Namun, anehnya makhluk itu tidak bergerak setelah matahari mulai terbit. Saya pikir mereka takut dengan sinar matahari. Saya memanfaatkan momen tersebut untuk kabur dari terkaman mereka.”
Terdengar embusan napas kasar dari mulut Andressa. Semakin dia yakini bahwasanya makhluk itu benar-benar salah satu dari jenis monster magis.
“Baiklah, sekarang sebaiknya Anda beristirahat. Saya akan mencari tahu tentang makhluk yang menyerang Anda.”
Sesudah itu Andressa beranjak pergi dari kamar rawat Marquess Gencio. Dia kala ini berada di dalam pikiran teramat rumit. Kemunculan monster magis menjadi beban tersendiri bagi Andressa. Dia harus memutar otak memikirkan solusi terbaik mencegah kehancuran wilayah kekaisaran Emilian oleh monster magi tersebut.
“Pertama-tama, aku ingin bertanya kepada Lion. Seharusnya dia tahu mengenai keberadaan monster magis yang berhasil menembus celah dinding pembatas dimensi. Benar-benar membuatku repot saja.”
__ADS_1